TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Persoalan sampah yang kian kompleks di wilayah ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi mendorong lahirnya langkah konkret dari berbagai elemen pemerintahan. Melalui rapat persiapan kolaborasi antara kecamatan, desa, dan kelurahan, upaya penataan dan pengolahan sampah di Kota Teluk Kuantan mulai dimatangkan secara terarah dan menyeluruh. Senin (20/4/2026).
Rapat yang digelar di ruang kantor kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Dalam suasana penuh kesadaran kolektif ini dihadiri oleh perwakilan dari sejumlah desa dan kelurahan strategis di wilayah ibu kota. Hadir dalam kesempatan tersebut perangkat dari Desa Koto Taluk, Desa Sawah, Desa Beringin, Desa Seberang Taluk, Kelurahan Sungai Jering, Kelurahan Simpang Tiga, serta Kelurahan Pasar. Kehadiran mereka menjadi cerminan bahwa persoalan sampah bukan lagi isu pinggiran, melainkan tantangan bersama yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Dalam forum tersebut, berbagai persoalan mendasar diangkat ke permukaan. Mulai dari masih terbatasnya jumlah tong sampah di titik-titik vital, belum optimalnya jadwal pengangkutan sampah, hingga menumpuknya limbah rumah tangga akibat kurangnya jam operasional petugas kebersihan. Semua dibedah satu per satu, dengan pendekatan dialogis yang membuka ruang bagi setiap wilayah untuk menyampaikan kondisi riil di lapangan.
Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si., dalam arahannya menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa lagi dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi yang solid, terstruktur, dan berkesinambungan agar persoalan yang selama ini terkesan berulang dapat benar-benar diselesaikan dari akarnya.
“Ini bukan hanya soal membersihkan sampah, tetapi bagaimana kita menata sistemnya. Kita ingin ada perubahan nyata. Penambahan tong sampah harus tepat sasaran, jadwal pengangkutan harus disiplin, dan jika perlu jam kerja petugas kita tambah agar tumpukan yang ada bisa segera terurai,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa langkah ini bukan sekadar respons jangka pendek, melainkan bagian dari arah kebijakan jangka panjang dalam menciptakan tata kelola lingkungan yang lebih baik di ibu kota. Menurutnya, kesadaran masyarakat juga menjadi kunci utama dalam mendukung keberhasilan program ini.
“Pemerintah bisa menyiapkan sistem, tapi tanpa kesadaran masyarakat, semuanya tidak akan maksimal. Maka ke depan, edukasi dan sosialisasi harus berjalan beriringan dengan penanganan teknis di lapangan,” tambahnya.
Diskusi yang berlangsung cukup intens tersebut juga menghasilkan sejumlah poin penting sebagai langkah awal. Di antaranya rencana penambahan fasilitas tong sampah di titik-titik rawan, penyusunan ulang jadwal pengangkutan agar lebih efektif, serta wacana penambahan jam kerja petugas kebersihan guna mengurai tumpukan sampah yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.
Tak hanya itu, rapat ini juga menjadi momentum untuk menyatukan persepsi antarwilayah, sehingga tidak ada lagi kesenjangan dalam penanganan sampah antar desa dan kelurahan di kawasan ibu kota. Semua bergerak dalam satu irama, dengan tujuan yang sama: menghadirkan Teluk Kuantan yang bersih, tertata, dan nyaman bagi seluruh masyarakat.
Di tengah dinamika pembangunan daerah, persoalan sampah memang kerap menjadi bayang-bayang yang tak mudah dihilangkan. Namun melalui semangat kolaborasi yang mulai terbangun ini, harapan itu kembali menemukan pijakannya.
Kini, langkah kecil telah dimulai dari ruang rapat—tempat di mana gagasan disusun, komitmen diteguhkan, dan arah masa depan ditentukan. Dari sana, Teluk Kuantan perlahan menapaki jalan menuju perubahan, membuktikan bahwa dengan kebersamaan, persoalan sebesar apa pun dapat dihadapi dan diselesaikan.*(ald)