TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Senja di Teluk Kuantan selalu punya cara sendiri untuk menundukkan hati. Cahaya matahari perlahan meredup, langit berwarna tembaga, dan angin membawa bisik-bisik doa yang tak terucap. Di depan Masjid Makkah, waktu seolah melambat—memberi ruang bagi kebaikan untuk singgah.
Sabtu, 28 Februari 2026, bukan hari besar dalam kalender. Namun bagi mereka yang sore itu menerima sebungkus takjil, dan bagi para pelajar yang membagikannya, hari itu menjelma menjadi peristiwa batin. Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah SMP Muhammadiyah 1 Teluk Kuantan menurunkan langkah-langkah kecilnya ke jalanan, membawa 214 porsi takjil—dan lebih dari itu, membawa niat yang dijaga agar tetap lurus.
Tangan-tangan muda itu belajar tentang memberi, sebelum benar-benar memahami makna memiliki. Mereka berdiri di tepian jalan, menyapa pengendara yang melintas, membagikan takjil dengan senyum yang tak dibuat-buat. Tak ada sorak, tak ada panggung. Hanya keikhlasan yang berjalan pelan, menyusup ke hati siapa saja yang menerimanya.
Takjil mungkin akan habis dalam sekejap, namun niat baik selalu tinggal lebih lama. Ia menetap di ingatan, tumbuh menjadi rasa syukur, lalu berbuah doa. Sebab di bulan Ramadan, kebaikan sekecil apa pun tak pernah benar-benar kecil. Ia dicatat, dilipatgandakan, dan dikembalikan dengan cara yang hanya Allah SWT pahami.
Antusiasme masyarakat mengalir alami. Kendaraan melambat, kepala menunduk penuh hormat, dan ucapan terima kasih terdengar lirih namun tulus. Di wajah-wajah lelah menjelang berbuka, terselip kehangatan yang tak bisa dibeli—kehangatan karena masih ada kepedulian yang hidup di tengah kesibukan dunia.
Sekretaris Umum PR IPM SMP Muhammadiyah 1 Teluk Kuantan, Fadlan Aldio Zafran, memaknai kegiatan ini sebagai pelajaran sunyi tentang keikhlasan.
“Kegiatan ini berjalan lancar sesuai rencana. Terima kasih kepada seluruh panitia yang telah berusaha sekeras mungkin. Semoga setiap lelah diganti dengan pahala oleh Allah SWT,” ucapnya, seraya menitipkan harap pada langit senja.
Ramadan memang bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah jiwa—tempat manusia belajar menundukkan ego, melapangkan dada, dan merawat empati. Di sore itu, para pelajar ini sedang menempuh pelajaran penting: bahwa iman tak hanya dibaca dalam kitab, tetapi juga ditulis lewat tindakan.
Ketika azan magrib akhirnya berkumandang di Teluk Kuantan, takjil-takjil itu pun menemukan tujuannya. Sementara para pelajar melangkah pulang dengan hati yang lebih terang. Mereka mungkin tak menyadarinya, tetapi senja itu telah mencatat mereka sebagai bagian dari kisah kecil tentang kebaikan—yang sederhana, sunyi, dan insyaAllah abadi di sisi-Nya.*(ald)