Menjahit Silaturahmi di Bawah Cahaya Ramadhan: Tarawih Keliling Pemdes Sungai Sirih dari Masjid ke Masjid

Menjahit Silaturahmi di Bawah Cahaya Ramadhan: Tarawih Keliling Pemdes Sungai Sirih dari Masjid ke Masjid
foto: doc. Kilasriau.com

SUNGAI SIRIH (KilasRiau.com) – Ramadhan selalu datang membawa ketenangan, tetapi di Desa Sungai Sirih, bulan suci ini juga menghadirkan denyut kebersamaan yang terasa lebih dekat dan nyata. Sejak Kamis (19/02/2026) hingga Senin malam (23/02/2026), Pemerintah Desa Sungai Sirih melangkah dari masjid ke masjid, menunaikan satu ikhtiar sederhana namun bermakna: Tarawih Keliling (Tarling).

Di bawah cahaya lampu masjid dan sejuknya malam Ramadhan, Masjid Muhajirin, Masjid Al Hidayah, serta masjid-masjid lainnya menjadi ruang perjumpaan. Bukan sekadar tempat ibadah, masjid-masjid itu menjelma menjadi simpul silaturahmi, tempat pemerintah desa dan masyarakat berdiri sejajar dalam satu shaf, menghadap kiblat yang sama, dan melangitkan doa-doa dengan harapan yang serupa.

Kegiatan tarling ini dilaksanakan dalam rangka menyemarakkan Ramadhan 1447 Hijriah, sekaligus menyambung tali silaturahmi antara Kepala Desa, perangkat desa, dan warga masyarakat. Tahun ini, tarling dipilih sebagai sarana mempererat ukhuwah—bukan hanya ukhuwah Islamiyah, tetapi juga ukhuwah sosial yang menumbuhkan rasa saling percaya dan kebersamaan.

Kepala Desa Sungai Sirih, Sitas Riyanto, bersama rombongan tampak hadir dengan penuh antusias. Mereka mengikuti sholat Isya dan Tarawih berjama’ah bersama warga setempat, larut dalam kekhusyukan ibadah hingga kegiatan berakhir sekitar pukul 21.45 WIB. Seluruh rangkaian tarling berjalan lancar, tertib, dan penuh kehangatan.

Usai tarawih, Kepala Desa menyampaikan rasa syukur karena dapat melaksanakan ibadah bersama masyarakat hingga selesai. Baginya, tarling bukan hanya rutinitas Ramadhan, melainkan jalan untuk memperpendek jarak antara pemerintah desa dan warganya.

“Alhamdulillah, kami bersyukur bisa hadir dan sholat bersama masyarakat. Semoga dari kebersamaan ini lahir keberkahan, ketenangan, dan persaudaraan yang semakin kuat,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Kepala Desa juga mengingatkan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan selama bulan Ramadhan. Ia mengajak masyarakat untuk saling menghargai, menjaga lisan dan sikap, serta merawat kerukunan, termasuk dalam kehidupan antarumat beragama.

“Ramadhan mengajarkan kita menahan diri dan menenangkan hati. Mari kita jaga keamanan dan saling menghormati, agar desa kita tetap damai dan rukun,” pesannya.

Kehadiran pemerintah desa di tengah jama’ah mendapat sambutan hangat dari warga. Sejumlah jama’ah mengaku merasa tersentuh dengan kebersamaan tersebut. Bagi mereka, tarling menghadirkan rasa kedekatan yang jarang tercipta dalam suasana formal.

“Biasanya kami hanya melihat pemerintah desa dalam rapat atau acara resmi. Malam ini berbeda, kami sholat bersama. Rasanya hangat dan menenangkan,” ungkap seorang

warga Masjid Muhajirin.
Warga lainnya menilai tarling sebagai bentuk perhatian nyata dari pemerintah desa terhadap kehidupan spiritual masyarakat.

“Bukan soal ramai-ramai saja, tapi soal hadir. Kami merasa tidak ditinggalkan. Pemerintah desa datang, duduk, dan berdoa bersama kami,” ujarnya pelan.

Bagi masyarakat, tarling bukan hanya tentang sholat berjama’ah, tetapi tentang kehadiran, tentang menyapa tanpa sekat, dan tentang membangun kepercayaan dalam suasana yang sederhana. Di antara lantunan ayat suci dan doa-doa yang terucap lirih, terjalin ikatan batin yang kian menguat.

Melalui kegiatan tarawih keliling ini, Pemerintah Desa Sungai Sirih berharap keimanan dan ketaqwaan masyarakat semakin tumbuh, ridho, rahmat, dan ampunan Allah SWT senantiasa tercurah, serta tali silaturahmi antara pemerintah desa dan warga semakin erat. Lebih dari itu, tarling diharapkan mampu menjaga kebersamaan, kekompakan, dan kerukunan warga agar tetap terpelihara, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari di Desa Sungai Sirih.

Di malam-malam Ramadhan yang tenang itu, Desa Sungai Sirih tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga merawat persaudaraan—dari masjid ke masjid, dari hati ke hati.*(ald)