Epi Martison dan Orkestra Tradisi Kuansing: Ketika Bunyi, Gerak, dan Ingatan Kolektif Menyatu Menjadi Masa Depan

Epi Martison dan Orkestra Tradisi Kuansing: Ketika Bunyi, Gerak, dan Ingatan Kolektif Menyatu Menjadi Masa Depan
foto: epi martison (doc. Kilasriau.com)

PEKANBARU (KilasRiau.com) — Ada malam-malam tertentu yang tak sekadar lewat sebagai penanda waktu. Ia tinggal sebagai ingatan, bersemayam di benak kolektif, dan menjadi cerita yang kelak diwariskan. Malam Sabtu, 7 Februari 2026, adalah salah satunya. Pada momentum Pengukuhan Ikatan Keluarga Kuantan Singingi (IKKS) Provinsi Riau, tradisi Kuansing tidak hanya ditampilkan—ia dihidupkan kembali. Senin (9/2/2026).

Di pusat peristiwa itu berdiri seorang seniman: Epi Martison. Bukan hanya sebagai sutradara, tetapi sebagai penganyam peradaban. Ia menyutradarai bunyi, mengompos irama, mengoreografikan gerak-gerik tradisi yang selama ini berserak di sudut kampung, gelanggang adat, dan ingatan para tetua. Di tangannya, semua itu menjelma menjadi satu komposisi besar, seolah sebuah orkestra tradisi Melayu Kuansing.

Mengusung tema “Semangat Bersama Mambangkik Batang Tarondom Melayu Tuo Kuansing”, Epi Martison membuktikan bahwa adat dan seni budaya bukan peninggalan yang membeku, melainkan energi hidup yang mampu bergerak mengikuti zaman, tanpa kehilangan akarnya.

Malam itu, bunyi kotuak-kotuak membuka ruang rasa. Disusul denting calempong yang bening, sahutan canang yang tegas, serta surak-surak khas Kuansing yang liar namun jujur. Bunyi-bunyi itu tidak berjalan sendiri. Ia berjalin erat dengan musik randai, rarak godang atau gondang baroguang, dan gerak yang berlapis: gerak randai, silat, serta tari.

Semuanya beradu, berpacu, berkejaran—namun tak pernah bertabrakan. Seperti aliran sungai Kuantan yang kadang deras, kadang tenang, tetapi selalu menuju muara yang sama.

Epi Martison memosisikan dirinya bukan sebagai penguasa panggung, melainkan penjaga keseimbangan. Ia memberi ruang bagi setiap bunyi dan gerak untuk berbicara dengan karakternya masing-masing. Yang kasar tidak ditundukkan, yang halus tidak dipaksa menonjol. Semua setara, semua bermakna.

Komposisi itu menyerupai anyaman tikar pandan—benda budaya Melayu yang sederhana, tetapi sarat filosofi. Dari bilah-bilah yang tampak rapuh, lahir kekuatan. Dari kesederhanaan, tercipta fungsi yang luas: alas duduk, alas musyawarah, alas kehidupan. Begitulah tradisi Kuansing dianyam malam itu—menjadi landasan bersama.

Di sela pertunjukan, Epi Martison maju dan melantunkan pantun. Suaranya tidak menggurui, tetapi menegaskan:

“Panas tembaga jangan dituang,
Bila dituang melepuh diri.
Adat, adab, kearifan seni budaya, harus kito julang.
Kito jadikan perisai nagori.”

Pantun itu menjadi pagar makna. Bahwa seni bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. Bahwa adat bukan beban masa lalu, melainkan perisai masa depan.

Pantun berikutnya menyentuh semangat kolektif:

“Urang toluak melo pukek,
Dapeklah ikan sigiri-giri.
Nan baserak nak samo-samo kito kobek,
Mualah samo-samo kito bangun nagori.”

Dan disambung pantun randai yang menggugah:

“Lajulah jalur pandekar kuniang,
Urang Banda Alai ka Gunung Toar.
Abek kapalo abang indak kan poniang,
Adiak barandai dak baseloar.”

Di ujungnya, seperti tanda seru yang khas, Epi berseru:
“Kuuriikiii…”

Satu kata yang selalu hadir sebagai penutup, namun justru membuka ruang tafsir dan energi baru.

Malam itu, ruang pertunjukan tak lagi memisahkan seniman, masyarakat, dan pejabat. Sasalero—kebersamaan yang tulus—mengalir alami. Tepuk tangan tidak putus. Decak kagum terdengar dari berbagai sudut. Wajah-wajah yang hadir menyimpan rasa puas dan bangga.

Bahkan, para pendukung acara satu per satu mencium dan memeluk sang sutradara. Epi Martison hadir di tengah keterbatasan—dalam kondisi sedang merawat anak—namun tetap total, tetap utuh sebagai penggembira budaya.

Di sanalah seni menemukan maknanya yang paling manusiawi: menjadi ruang empati dan kebersamaan.

Epi Martison dengan tegas menolak pandangan bahwa tradisi adalah sesuatu yang kaku, diam, dan usang. Baginya, tradisi adalah bahan baku berkualitas tinggi untuk karya kreatif dan inovatif. Selama digarap dengan adab, ia akan terus relevan.

Refleksi itu ia sampaikan dengan kalimat yang sederhana namun dalam:

When I looked back, it turned out that the wisdom of the customs and culture of Kuansing is the future.”
(Ketika aku menoleh ke belakang, ternyata kearifan adat dan budaya Kuansing adalah masa depan).

Sekali lagi, ia menutupnya dengan seruan khas: “Kuurrikiii…”

Puncak emosi malam itu hadir melalui Tari Merantang. Tarian yang sebelumnya meraih Juara Umum dan Juara I pada lomba tari kreasi Forkom FKIP se-Indonesia—di hadapan juri dan penonton lintas daerah—kembali dipentaskan.

Namun di malam pengukuhan IKKS Provinsi Riau, Tari Merantang tidak sekadar tampil. Ia pulang.

Di hadapan audiens yang mayoritas urang Kuansing, gerak-geraknya terasa lebih hidup, lebih jujur. Seolah tarian itu mengenali wajah-wajah di hadapannya. Seolah ia menemukan kembali tanah tempat ia dilahirkan.

Decak kagum terdengar pelan. Air mata menetes tanpa diminta. Haru menjalar—haru yang lahir dari perjumpaan dengan identitas sendiri. Seperti anak yang lama hilang, tiba-tiba pulang dan bersimpuh di pangkuan ibu dan ayahnya di kampung halaman.

Pengukuhan IKKS Provinsi Riau malam itu melampaui batas seremoni organisasi. Ia menjelma ruang ingatan, ruang pertemuan, dan ruang harapan. Bahwa adat, seni, dan budaya Kuansing bukan untuk dikenang semata, tetapi untuk dihidupkan, dirawat, dan dijadikan penunjuk arah.

Di bawah arahan Epi Martison, tradisi membuktikan dirinya:
bukan sebagai masa lalu yang usai,
melainkan sebagai masa depan yang sedang disusun dengan penuh kesadaran dan cinta.

Di balik kemegahan komposisi malam itu, tersimpan fakta penting yang memperkaya makna pertunjukan. Para pemusik randai dan pemusik Tari Merantang adalah musisi profesional—lulusan Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) dan mahasiswa dari jurusan musik yang telah ditempa secara akademik. Mereka hadir dengan ketepatan teknik, disiplin tempo, dan kesadaran artistik yang matang. Setiap pukulan, setiap petikan, dan setiap jeda bukan kebetulan, melainkan hasil dari proses panjang pembelajaran dan penghayatan.

Namun harmoni malam itu tidak hanya dibangun oleh mereka yang lahir dari ruang akademik.

Di sisi lain panggung, pemusik rarak godang dan gondang baroguang berdiri dengan kejujuran tradisi. Mereka adalah pemusik murni tradisional, yang belajar bukan dari partitur, melainkan dari alam, dari gelanggang kampung, dari peristiwa adat, dan dari ingatan kolektif yang diwariskan lintas generasi. Jari-jari mereka mengenal ritme bukan lewat teori, tetapi lewat rasa. Bunyi yang lahir bukan hasil hitungan, melainkan pengalaman hidup.

Yang lebih menggetarkan, barisan penari Pagar Ayu tampil sebagai simbol perjumpaan paling indah antara keberanian dan ketulusan. Mereka bukan mahasiswa jurusan tari, bukan pula mahasiswa jurusan musik. Mereka adalah mahasiswa biasa, namun malam itu menjelma luar biasa. Di tangan mereka, calempong, canang, kotuak-kotuak, dan rebana tidak sekadar dimainkan, tetapi dihidupkan secara interlocking—saling mengunci, saling menyokong, dan saling menguatkan.

Gerak tubuh mereka menyatu dengan bunyi. Langkah kaki menjawab irama. Ayunan tangan beriring dengan denting. Mereka menari sambil bermusik, bermusik sambil menari—tanpa sekat peran, tanpa jarak antara tubuh dan bunyi. Kolaborasi itu berjalan aktif dan interaktif, menciptakan dialog yang hidup antara gerak dan suara.

Inilah yang menjadikan konser seni pertunjukan malam itu terasa akbar: perjumpaan antara yang akademik dan yang alamiah, antara yang terlatih secara formal dan yang tumbuh secara kultural. Semua dilebur tanpa hierarki. Tidak ada yang merasa lebih tinggi, tidak ada yang merasa kurang. Semuanya bertemu dalam satu kesadaran: menjaga dan menghidupkan tradisi.

Di bawah arahan Epi Martison, perbedaan latar belakang justru menjadi kekuatan. Ia membuktikan bahwa seni sejati tidak bertanya dari mana seseorang berasal, tetapi sejauh mana ia bersedia mendengar, merasakan, dan menyatu.

Malam itu, seni pertunjukan tidak hanya dipertontonkan. Ia dipraktikkan sebagai nilai hidup—bahwa kolaborasi, kepercayaan, dan kebersamaan mampu melahirkan harmoni yang jauh lebih besar dari sekadar bunyi dan gerak.

Dan sekali lagi, tradisi Kuansing menunjukkan wajah aslinya:
inklusif, lentur, dan siap berjalan jauh menatap masa depan.*(ald)