TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Pagi itu, halaman Kantor Kelurahan Simpang Tiga tak sekadar menjadi tempat berkumpul aparatur. Ia menjelma ruang sunyi tempat disiplin diuji dan tanggung jawab diucapkan ulang. Barisan aparatur berdiri rapi dengan tangan terlipat di belakang, seragam cokelat menyatu dengan bangunan dan tanah—seolah menegaskan bahwa kerja pemerintahan harus selalu membumi. Selasa (27/1/2026).
Apel pagi tersebut dipimpin langsung oleh Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si. Dalam arahannya, Eka Putra menekankan bahwa apel pagi bukanlah rutinitas kosong, melainkan fondasi awal dalam membangun etos kerja aparatur pemerintahan, khususnya di tingkat kelurahan sebagai garda terdepan pelayanan publik.
“Apel pagi ini bukan sekadar absensi atau formalitas. Ini soal membangun disiplin, kesiapan bekerja, dan tanggung jawab kita sebagai pelayan masyarakat,” ujar Eka Putra di hadapan jajaran Kelurahan Simpang Tiga.
Ia menegaskan, wajah pemerintahan pertama kali dinilai masyarakat justru dari kantor kelurahan. Sikap aparatur, ketepatan waktu, serta kualitas pelayanan menjadi cerminan langsung dari hadir atau tidaknya negara di tengah warga.
“Masyarakat tidak melihat seberapa sering kita rapat atau apel, tapi bagaimana mereka dilayani. Cepat atau lambat, ramah atau acuh, itu yang mereka ingat,” tegasnya.
Apel berlangsung sederhana, namun sarat makna. Tanpa jarak berlebihan antara pemimpin dan aparatur, arahan disampaikan dengan nada tenang namun tegas. Eka Putra juga mengingatkan agar disiplin tidak berhenti di halaman kantor, melainkan tercermin dalam kerja sehari-hari—mulai dari ketertiban administrasi hingga kepekaan merespons kebutuhan dan keluhan warga.
“Disiplin itu terlihat dari hal-hal kecil: datang tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas, dan tidak mempersulit urusan masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Lurah Simpang Tiga, Fika Rahayu, S.T., M.Si, menyambut arahan Camat Kuantan Tengah sebagai penguatan komitmen bersama seluruh jajaran kelurahan dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik.
“Arahan Pak Camat menjadi pengingat bagi kami semua bahwa kelurahan adalah garda terdepan pelayanan. Kami berkomitmen untuk terus memperbaiki disiplin dan memberikan pelayanan yang semakin baik kepada masyarakat,” ujar Fika Rahayu.
Menurutnya, tuntutan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan publik semakin tinggi, seiring meningkatnya kesadaran warga akan hak-hak pelayanan. Karena itu, apel pagi dinilai penting sebagai momentum evaluasi dan penyegaran semangat kerja aparatur.
“Masyarakat menaruh harapan besar kepada kami. Ini menjadi tanggung jawab bersama agar pelayanan tidak hanya sesuai aturan, tetapi juga dilakukan dengan hati dan tanggung jawab,” lanjutnya.
Apel pagi di Kelurahan Simpang Tiga pun menjadi lebih dari sekadar barisan dan aba-aba. Ia berubah menjadi ruang refleksi bersama—bahwa pemerintahan yang baik tidak lahir dari seremonial semata, melainkan dari disiplin yang dirawat setiap pagi dan kerja yang konsisten hingga senja.
Dari halaman sederhana itu, pesan kembali ditegaskan: kepercayaan publik tidak dibangun oleh barisan yang rapi, tetapi oleh pelayanan yang nyata, jujur, dan bertanggung jawab.*(ald)