Di Tepian Narosa, Pacu Jalur Menjadi Doa dan Wajah Budaya Kuantan Singingi

Di Tepian Narosa, Pacu Jalur Menjadi Doa dan Wajah Budaya Kuantan Singingi
foto: istimewa (doc. Kilasriau.com)

Ketika Tradisi, Iman, dan Pariwisata Bertaut di Kuantan Singingi


TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Sungai Kuantan sore itu mengalir tenang, seolah memberi ruang bagi sebuah peristiwa yang tak sekadar dirayakan, tetapi dimaknai. Di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, jalur-jalur kayu panjang berbaris rapi, menunggu saatnya kembali dibangkitkan oleh hentakan dayung dan sorak kebanggaan masyarakat. Kamis (01/01/2026).

Di tengah kesibukan persiapan Pacu Jalur yang akan memeriahkan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Tingkat Provinsi Riau, Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si, turun langsung meninjau kesiapan arena. Langkahnya menyusuri tepian sungai, memastikan lintasan pacu, area pendukung, hingga teknis pelaksanaan benar-benar siap menyambut hajatan budaya yang ditaja Kementerian Agama Kabupaten Kuantan Singingi.

“Pacu Jalur ini bukan sekadar lomba, tapi identitas orang Kuantan Singingi. Karena itu, kesiapan teknis harus sejalan dengan kesiapan nilai—tertib, aman, dan menjunjung sportivitas,” ujar Eka Putra di sela peninjauan.

Peninjauan tersebut kian bermakna dengan kehadiran Bupati Kuantan Singingi, Dr. H. Suhardiman Amby, MM. Orang nomor satu di negeri jalur itu turut menyaksikan denyut persiapan, menyapa panitia dan masyarakat, serta menegaskan bahwa Pacu Jalur adalah warisan budaya yang harus dijaga martabat dan nilainya, terlebih saat ditampilkan pada perhelatan tingkat provinsi.

“Pacu Jalur adalah kebanggaan Kuantan Singingi. Momentum Hari Amal Bakti ini menjadi panggung yang tepat untuk menunjukkan bahwa budaya, religiusitas, dan pariwisata bisa berjalan beriringan,” kata Bupati Suhardiman Amby.

Sore itu pula, gladi bersih pembukaan acara yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (2/1/2026) digelar. Gerak para pendayung yang serempak, irama aba-aba yang menggema di atas air, serta sorot mata penuh semangat dari setiap peserta menjadi tanda kesiapan sebuah perhelatan besar. Setiap detail diperhatikan, setiap kekurangan dibenahi, demi satu tujuan: menghadirkan Pacu Jalur yang tertib, aman, dan berkesan.

Bagi masyarakat Kuantan Singingi, Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan tradisional. Ia adalah kisah panjang tentang gotong royong, disiplin, dan kebersamaan. Dari proses pembuatan jalur hingga hari pacu, semuanya lahir dari semangat kolektif yang mengikat masyarakat dalam satu irama.

Dalam momentum Hari Amal Bakti Kementerian Agama, Pacu Jalur menemukan makna yang lebih dalam. Tradisi ini menjadi ruang perjumpaan antara nilai religius dan kearifan lokal—antara doa yang dipanjatkan dan budaya yang dijalankan.

“Melalui Pacu Jalur, kita tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menggerakkan pariwisata dan ekonomi masyarakat. Ini aset daerah yang harus terus kita rawat bersama,” tambah Bupati Suhardiman Amby.

Lebih dari itu, Pacu Jalur hari ini telah menjelma sebagai etalase pariwisata budaya Kuantan Singingi. Tepian Narosa tidak hanya menjadi arena pacu, tetapi panggung yang menampilkan keindahan Sungai Kuantan, keramahan masyarakat, serta kekayaan budaya Melayu Kuantan kepada tamu dan masyarakat dari berbagai daerah.

“Kami berharap kegiatan ini memberi kesan mendalam bagi tamu dari luar daerah, bahwa Kuantan Singingi memiliki budaya besar dan masyarakat yang ramah,” tutup Camat Eka Putra.

Ketika hari pembukaan tiba, Tepian Narosa akan dipenuhi sorak sorai dan getar kebanggaan. Namun di balik gemuruh itu, Pacu Jalur tetaplah tentang satu hal: napas budaya yang terus mengalir bersama Sungai Kuantan, mengikat masa lalu, hari ini, dan harapan masa depan Kuantan Singingi.*(ald)