Ketika Kebudayaan Tak Lagi Sekadar Ornamen: Manifesto Kuansing untuk Masa Depan

Jangan Wariskan Gedung yang Sunyi

Membangun manusia, merawat ingatan, menghidupkan adat, dan menjadikan kebudayaan sebagai tenaga masa depan

 

KilasRiau.com - Ada negeri yang membangun jalan untuk menghubungkan tempat.

Ada negeri yang membangun gedung untuk menampung manusia.

Tetapi ada negeri yang harus membangun kebudayaan untuk menjelaskan kepada generasinya siapa mereka sebenarnya.

Kuantan Singingi adalah salah satunya.

Negeri ini tidak lahir dari ruang yang kosong.

Ia lahir dari sungai, hutan, kampung, ladang, tepian, suara oguang, denting calempong, gondang, silek, tari, randai, jalur, adat, bahasa, petuah, dan ingatan panjang manusia yang hidup berdampingan dengan alam.

Di dalam semua itu tersimpan sesuatu yang lebih mahal daripada benda:

cara pandang terhadap kehidupan.

Karena itu, membicarakan kebudayaan Kuansing sesungguhnya bukan sedang membicarakan masa lalu.

Kita sedang membicarakan masa depan manusia Kuansing.

Dan di sinilah kita harus berani mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman:

Apakah kita sedang membangun masa depan yang berakar, atau hanya membangun masa depan yang tampak modern tetapi kehilangan ingatan?

Sebab sebuah daerah dapat memiliki gedung yang megah dan tetap miskin kebudayaan.

Dapat memiliki panggung besar dan kekurangan seniman.

Dapat memiliki museum dan kehilangan memori.

Dapat memiliki festival dan kehilangan proses penciptaan.

Dapat memiliki ornamen adat di setiap sudut bangunan, tetapi tidak memahami makna adat itu sendiri.

Kita tidak boleh terjebak pada kebudayaan sebagai dekorasi.

Ada kecenderungan aneh dalam pembangunan kebudayaan: ketika ingin menunjukkan identitas, kita menempelkan simbol.

Ukiran ditempel.

Motif dipasang.

Warna dipilih.

Atap dibentuk.

Nama tradisional diberikan.

Lalu semuanya dianggap selesai.

Padahal kebudayaan tidak sesederhana itu.

Adat bukan ornamen.
Adab bukan dekorasi.
Identitas bukan tempelan.

Kebudayaan adalah cara manusia menata hubungan dengan sesama, dengan alam, dengan ruang, dengan waktu, dengan leluhur, dan dengan masa depan.

Karena itu arsitektur kebudayaan Kuansing tidak harus menjadi replika masa lalu.

Ia harus memahami jiwa masa lalu.

Rumah tradisional tidak perlu disalin mentah-mentah.

Yang perlu dipelajari adalah mengapa leluhur memilih bentuk tertentu.

Mengapa ruang dibuat demikian.

Mengapa udara harus bergerak.

Mengapa cahaya diperlakukan tertentu.

Mengapa halaman menjadi penting.

Mengapa ruang berkumpul memiliki kedudukan sosial.

Mengapa alam tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan.

Lalu pengetahuan itu diterjemahkan ke dalam bahasa arsitektur masa kini.

Masa lalu menyediakan ingatan. Masa kini menyediakan persoalan. Kreativitas harus menemukan jawabannya.

Kuansing bukan negeri yang miskin kebudayaan.

Justru sebaliknya.

Kita memiliki kekayaan yang begitu banyak sehingga persoalannya bukan lagi menemukan budaya.

Persoalannya adalah:

bagaimana seluruh kekayaan itu diteliti, diselamatkan, diajarkan, dikembangkan, dan diwariskan?

Sebab kebudayaan yang hanya diwariskan melalui ingatan manusia sangat rentan.

Seorang maestro akan menua.

Seorang pembuat alat musik akan berhenti bekerja.

Seorang penutur cerita akan pergi.

Seorang pembuat jalur akan meninggalkan bengkel.

Dan jika pengetahuan mereka tidak pernah ditransfer kepada generasi berikutnya, maka sebagian kebudayaan akan ikut terkubur bersama mereka.

Maka kita harus berhenti memandang regenerasi sebagai kegiatan tambahan.

Regenerasi adalah jantung kebudayaan.

Karena itu Kuansing membutuhkan lebih dari sekadar gedung kesenian.

Kuansing membutuhkan Sekolah Seni dan Budaya Kuansing.

Bahkan, dalam visi yang lebih panjang, sebuah perguruan tinggi atau universitas yang secara khusus mengembangkan seni, budaya, adat, kreativitas, dan pengetahuan lokal.

Di sanalah kebudayaan tidak hanya dipertontonkan.

Ia dipelajari.

Ia diteliti.

Ia diperdebatkan.

Ia didokumentasikan.

Ia dikembangkan.

Ia diciptakan kembali.

Bayangkan mahasiswa meneliti sejarah Pacu Jalur.

Mahasiswa lain meneliti musiknya.

Yang lain mempelajari teknik pembuatan jalur.

Yang lain meneliti kayu.

Yang lain mengkaji tari dan koreografi.

Yang lain mengembangkan dokumentasi digital.

Yang lain membuat film.

Yang lain mempelajari arsitektur tradisional.

Yang lain mengembangkan kriya.

Yang lain mengkaji sastra lisan dan adat.

Maka kampus itu bukan sekadar lembaga pendidikan.

Ia menjadi laboratorium peradaban.

Ketika tradisi masuk ke ruang akademik, tradisi memperoleh kesempatan untuk terus ditanyakan.

Dan ketika sesuatu terus ditanyakan, ia tidak mati.

Ia berkembang.

Kita membutuhkan ruang khusus.

Bukan ruang kosong yang diberi papan nama kebudayaan.

Tetapi ruang yang benar-benar bekerja.

Ada Workshop Oguang.

Ada Workshop Calempong.

Ada Workshop Gondang Kayat.

Ada Workshop Gondang Silek.

Ada ruang untuk berbagai kotuak, dengan karakter warna, bentuk, dan bunyi yang berbeda.

Ada workshop pembuatan gambus, biola, gitar, serta instrumen lain yang dapat mempertemukan pengetahuan tradisional dengan teknologi modern.

Di sana seorang maestro tidak hanya menjadi orang yang diundang tampil.

Ia menjadi guru.

Seorang mahasiswa tidak hanya menjadi penonton.

Ia menjadi murid sekaligus peneliti.

Seorang teknisi tidak hanya memperbaiki alat.

Ia ikut memahami ilmu di balik bunyi.

Inilah yang kita maksud dengan ekosistem kebudayaan.

Dari leluhur ke laboratorium.
Dari laboratorium ke sekolah.
Dari sekolah ke panggung.
Dari panggung ke masyarakat.
Dari masyarakat ke generasi berikutnya.

Ada pengetahuan yang tidak tercetak di perpustakaan.

Ia hidup di tangan.

Di telinga.

Di mata.

Di gerakan tubuh.

Di kebiasaan.

Di pengalaman puluhan tahun.

Itulah pengetahuan para maestro.

Tetapi seorang maestro memiliki usia.

Karena itu, tugas generasi sekarang adalah melakukan satu pekerjaan besar:

menyalin pengetahuan sebelum pemiliknya pergi.

Rekam suaranya.

Filmkan pekerjaannya.

Tuliskan metodenya.

Dokumentasikan bahannya.

Teliti tekniknya.

Arsipkan ceritanya.

Ajarkan kepada anak muda.

Jangan biarkan maestro menjadi buku yang sangat berharga tetapi tidak pernah disalin.

Karena ketika bukunya hilang, kita bukan hanya kehilangan seseorang.

Kita kehilangan sebuah perpustakaan hidup.

Kuansing tentu membutuhkan gedung kesenian yang representatif.

Tetapi kita harus mengubah cara berpikir.

Jangan membangun gedung untuk kemudian mencari kegiatan.

Bangunlah karena ada ekosistem yang akan mengisinya.

Gedung itu harus memiliki akustik yang serius.

Bukan sekadar ruangan besar yang menghasilkan gema.

Harus ada panggung tertutup.

Panggung terbuka.

Teater.

Ruang latihan.

Ruang rias.

Ruang produksi.

Ruang penyimpanan properti.

Studio rekaman.

Ruang multimedia.

Ruang diskusi.

Ruang komunitas.

Ruang dokumentasi.

Dan seluruhnya dirancang dengan arsitektur yang estetik, artistik, indah, unik, fungsional, ekologis, dan memiliki karakter khas Kuansing.

Tetapi sekali lagi:

Jangan sekadar tempelkan motif tradisional pada dinding modern.

Biarkan identitas Kuansing hadir lebih dalam.

Dalam cahaya.

Dalam udara.

Dalam bahan.

Dalam tekstur.

Dalam suara.

Dalam hubungan ruang dengan alam.

Dalam cara manusia duduk bersama.

Dalam cara masyarakat diterima.

Dalam cara ruang menghormati adat dan adab.

Bangunan itu harus membuat orang merasakan Kuansing sebelum membaca papan namanya.

Kita membutuhkan museum sejarah Kuansing.

Tetapi museum tidak boleh menjadi gudang benda lama.

Museum harus menjadi mesin untuk mengingat.

Sejarah daerah.

Adat.

Manuskrip.

Foto.

Tokoh.

Kampung.

Sungai.

Ekonomi masyarakat.

Perubahan sosial.

Teknologi tradisional.

Pacu Jalur.

Musik.

Kriya.

Arsitektur.

Semua harus dapat diceritakan dengan teknologi yang membuat generasi muda merasa bahwa sejarah bukan sesuatu yang jauh.

Sejarah adalah sesuatu yang menjelaskan keberadaan mereka hari ini.

Museum harus membuat seorang anak bertanya:

Dari mana nenek moyang saya berasal?”

Kemudian pulang dengan pertanyaan yang lebih besar:

“Apa yang harus saya lakukan agar sejarah itu tidak berhenti pada saya?”

Pacu Jalur jangan hanya hidup ketika kalender festival tiba.

Jika Pacu Jalur adalah salah satu identitas besar Kuansing, maka pengetahuan tentangnya harus bekerja sepanjang tahun.

Bangun pusat sejarah Pacu Jalur.

Bangun workshop pembuatan jalur.

Dokumentasikan para tukang.

Teliti kayu.

Teliti teknik.

Pelajari musik.

Pelajari tari.

Pelajari cerita.

Pelajari simbol.

Pelajari perkembangan bentuk.

Dokumentasikan semuanya.

Bahkan repertoar pertunjukan kolosal untuk pembukaan Pacu Jalur dapat dipersiapkan sepanjang tahun.

Musik.

Tari.

Teater.

Film.

Multimedia.

Visual.

Cahaya.

Sejarah.

Tradisi.

Teknologi.

Semuanya bertemu.

Maka festival tidak lagi menjadi pekerjaan mendadak.

Festival menjadi puncak dari kerja kebudayaan sepanjang tahun.

Kita juga harus menghentikan anggapan bahwa kebudayaan harus selalu berada di pinggir ekonomi.

Justru jika dikelola dengan pengetahuan dan kreativitas, kebudayaan dapat menjadi sumber ekonomi kreatif.

Dari musik lahir musisi.

Dari alat musik lahir pengrajin.

Dari tari lahir koreografer.

Dari teater lahir aktor dan sutradara.

Dari film lahir sineas.

Dari kriya lahir produk.

Dari desain lahir identitas visual.

Dari sejarah lahir penelitian dan konten.

Dari museum lahir pendidikan budaya.

Dari festival lahir industri pertunjukan.

Dari teknologi lahir arsip digital.

Dari semuanya lahir pekerjaan.

Maka sekolah seni budaya bukan hanya mencetak seniman.

Ia dapat mencetak manusia kreatif.

Dan manusia kreatif adalah bahan bakar ekonomi masa depan.

Kebudayaan tidak harus miskin agar disebut asli.

Yang harus dijaga adalah maknanya.

Yang harus dikembangkan adalah kualitasnya.

Yang harus dibangun adalah ekosistemnya.

Ruang kriya pun harus berubah.

Jangan hanya menjadi tempat memajang barang.

Jadikan ia pusat produksi.

Tempat pengrajin bekerja.

Tempat anak muda belajar.

Tempat desain diuji.

Tempat produk difoto.

Tempat kemasan dikembangkan.

Tempat pasar dibaca.

Tempat seniman dan pengrajin bertemu.

Tempat tradisi bertemu desain kontemporer.

Sebab warisan leluhur tidak akan menjadi kuat hanya karena dipajang.

Ia harus dikerjakan.

Di sinilah batas-batas profesi harus dibuka.

Seniman perlu memahami teknologi.

Arsitek perlu memahami budaya.

Insinyur perlu memiliki kepekaan artistik.

Budayawan perlu memahami perkembangan zaman.

Peneliti perlu turun ke masyarakat.

Teknolog perlu memahami manusia.

Dan masyarakat tidak boleh hanya dianggap sebagai pengguna akhir.

Mereka adalah pemilik pengetahuan yang hidup.

Arsitek merancang ruang.

Insinyur memastikan struktur dan teknologi bekerja.

Seniman memberi rasa.

Budayawan menjaga makna.

Ahli lingkungan membaca ekologi.

Masyarakat memberi pengalaman hidup.

Tidak ada satu profesi yang mampu membangun kebudayaan sendirian.

Peradaban lahir dari pertemuan keahlian.

Inilah bagian paling penting.

Kita tidak boleh terjebak dalam romantisme.

Jangan mengira bahwa mencintai budaya berarti menolak modernitas.

Tidak.

Teknologi bukan musuh kebudayaan.

Teknologi dapat menjadi alat untuk menyelamatkannya.

Kita dapat merekam musik tradisional secara digital.

Membuat arsip suara.

Membuat dokumenter.

Membangun perpustakaan digital.

Membuat animasi.

Membuat film.

Membuat aplikasi edukasi.

Membuka pameran virtual.

Membawa seni Kuansing ke dunia.

Tetapi teknologi harus menjadi alat, bukan penghapus identitas.

Kita boleh modern.

Tetapi jangan menjadi asing terhadap diri sendiri.

Leluhur kita tidak mempunyai perangkat lunak arsitektur secanggih hari ini.

Tetapi mereka membaca alam.

Mereka membaca matahari.

Membaca angin.

Membaca hujan.

Membaca tanah.

Membaca sungai.

Membaca kebutuhan manusia.

Hari ini kita memiliki teknologi yang jauh lebih maju.

Tetapi jangan sampai teknologi membuat kita lupa membaca alam.

Gedung kebudayaan Kuansing masa depan harus mampu berdamai dengan iklim.

Memanfaatkan cahaya.

Mengelola udara.

Menghargai pepohonan.

Menggunakan material secara bijak.

Memikirkan energi.

Membuka hubungan manusia dengan lanskap.

Modern, tetapi tidak tercerabut.

Canggih, tetapi tidak angkuh.

Indah, tetapi tidak berlebihan.

Khas, tetapi tidak menjadi museum masa lalu.

Maka kami percaya:

Kebudayaan bukan aksesori pembangunan.
Kebudayaan adalah fondasi identitas.

Sekolah seni bukan pelengkap pendidikan.
Ia adalah tempat regenerasi peradaban.

Museum bukan gudang benda lama.
Ia adalah ingatan yang diberi ruang.

Gedung kesenian bukan monumen.
Ia adalah rumah bagi kreativitas.

Workshop bukan ruang produksi biasa.
Ia adalah laboratorium pewarisan pengetahuan.

Pacu Jalur bukan sekadar festival.
Ia adalah ekosistem sejarah, seni, pengetahuan, dan kebanggaan.

Arsitektur bukan sekadar beton dan atap.
Ia adalah cara sebuah masyarakat menyatakan dirinya kepada dunia.

Adat bukan ornamen.
Adab bukan dekorasi.

Tradisi bukan penjara.
Tradisi adalah akar yang memungkinkan pohon tumbuh lebih tinggi.

Dan yang paling penting:

Kita tidak boleh hanya membangun tempat untuk kebudayaan. Kita harus membangun manusia yang mampu menciptakan kebudayaan.

Pada akhirnya, semua bangunan akan mengalami usia.

Beton retak.

Cat mengelupas.

Teknologi berganti.

Panggung direnovasi.

Peralatan menjadi usang.

Tetapi manusia yang telah memperoleh pengetahuan dapat menciptakan kembali semuanya.

Itulah sebabnya investasi terbesar kebudayaan bukanlah beton.

Investasi terbesar adalah manusia.

Di tangan siswa dan mahasiswa yang kompeten dalam seni dan budaya, kekayaan leluhur Kuansing dapat bergerak ke mana-mana.

Menjadi karya.

Menjadi ilmu.

Menjadi inovasi.

Menjadi industri.

Menjadi kebanggaan.

Menjadi identitas.

Menjadi masa depan.

Sekolah khusus itulah salah satu pintunya.

Ruang khusus itulah salah satu mesinnya.

Guru, maestro, seniman, budayawan, akademisi, teknolog, pengrajin, dan masyarakat adalah penggeraknya.

Dan generasi muda adalah pewaris sekaligus penciptanya.

Kita boleh membangun gedung paling indah.

Tetapi jangan biarkan ia sunyi.

Kita boleh membangun panggung paling besar.

Tetapi jangan biarkan ia kehilangan seniman.

Kita boleh membangun museum paling modern.

Tetapi jangan biarkan anak-anak kita tidak mengenal sejarahnya.

Kita boleh membuat festival paling meriah.

Tetapi jangan biarkan kebudayaan hanya hidup ketika lampu panggung menyala.

Bangunlah sekolah.

Bangunlah laboratorium.

Bangunlah museum.

Bangunlah studio.

Bangunlah workshop.

Bangunlah panggung.

Bangunlah ruang kreatif.

Bangunlah kawasan kebudayaan.

Tetapi di atas semuanya:

bangunlah manusia.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mewariskan pengetahuan tanpa kehilangan jati diri, menerima perubahan tanpa kehilangan akar, dan menciptakan masa depan tanpa mengkhianati ingatan.

Kuantan Singingi tidak perlu menjadi salinan daerah lain.

Tidak perlu mengejar kemajuan dengan menghapus wajah sendiri.

Tidak perlu malu terhadap warisan leluhur.

Yang diperlukan adalah keberanian untuk mengolah warisan itu menjadi kekuatan baru.

Dari oguang menjadi musik masa depan.

Dari calempong menjadi kreativitas baru.

Dari gondang menjadi pengetahuan.

Dari jalur menjadi ilmu.

Dari adat menjadi etika.

Dari arsitektur menjadi identitas.

Dari sekolah menjadi generasi.

Dari generasi menjadi karya.

Dari karya menjadi peradaban.

Inilah pekerjaan kebudayaan yang sesungguhnya.

Bukan sekadar menjaga agar masa lalu tidak hilang.

Tetapi memastikan bahwa masa lalu masih mempunyai kemampuan untuk melahirkan masa depan.

Dan apabila suatu hari nanti anak-anak Kuansing berdiri di sebuah panggung, memainkan musik leluhurnya dengan teknologi zaman mereka, menari dengan bahasa tubuh yang baru, berbicara tentang adat dengan pikiran modern, membangun arsitektur yang berakar tetapi tidak membelenggu, serta menciptakan karya yang dikenal jauh melampaui tepian Kuantan—maka pada saat itu kita tahu:

kebudayaan tidak sedang dikenang.

Kebudayaan sedang hidup.

Dan selama ia hidup,
Kuansing tidak akan pernah kehilangan dirinya. *(ald)

 

source: epi martison, seniman budayawan nasional lulusan institut kesenian jakarta/aldian.


Baca Juga