KilasRiau.com - Ada sesuatu yang sering luput ketika ribuan pasang mata menyaksikan Pacu Jalur di tepian Sungai Kuantan. Mata kita terpukau pada dentuman meriam, teriakan penyemangat, kekompakan para pendayung, dan kelincahan anak joki yang menari di haluan jalur. Kita larut dalam euforia kemenangan, bersorak ketika satu jalur melesat lebih cepat daripada yang lain. Namun, sesungguhnya yang sedang berlangsung bukan sekadar perlombaan.
Pacu Jalur adalah sebuah peradaban.
Ia bukan hanya olahraga tradisional, bukan semata agenda wisata, bahkan bukan sekadar warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pacu Jalur adalah cara masyarakat Kuantan memandang kehidupan. Di dalamnya tersimpan filsafat tentang hubungan manusia dengan alam, tentang arti kebersamaan, tentang kepemimpinan, tentang pengorbanan, dan tentang tanggung jawab kepada masa depan.
Sayangnya, di tengah semakin besarnya perhatian terhadap Pacu Jalur, kita justru menghadapi paradoks yang mengkhawatirkan. Festivalnya semakin megah, pemberitaannya semakin luas, pengunjungnya semakin banyak, tetapi kesadaran terhadap nilai-nilai yang menopangnya justru perlahan memudar. Kita merayakan simbolnya, tetapi mulai melupakan rohnya.
Padahal, setiap kebudayaan hanya akan bertahan apabila nilai yang dikandungnya tetap hidup di tengah masyarakat.
Sesungguhnya, Pacu Jalur tidak dimulai dari sungai.
Ia dimulai dari hutan.
Sebelum menjadi jalur yang dibanggakan ribuan orang, ia adalah pohon yang tumbuh puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun di rimba Kuantan. Pohon itu berdiri diam, menyerap air hujan, menjaga kesuburan tanah, menjadi rumah bagi burung, serangga, dan berbagai makhluk hidup lainnya. Ia adalah bagian dari keseimbangan alam yang bekerja tanpa pernah meminta penghargaan.
Lalu, melalui proses adat yang penuh pertimbangan, pohon itu dipilih untuk menjadi jalur.
Dalam tradisi masyarakat Melayu, memilih kayu untuk jalur bukanlah sekadar urusan teknis. Ia mengandung penghormatan terhadap alam. Ada etika. Ada batas. Ada kesadaran bahwa manusia mengambil dari alam, tetapi juga memiliki kewajiban menjaga keberlanjutannya.
Di sinilah letak kebijaksanaan yang sering kali dilupakan masyarakat modern.
Kita hidup pada zaman ketika hutan lebih sering dihitung berdasarkan nilai ekonominya daripada nilai kehidupannya. Pohon dipandang sebagai komoditas. Sungai dianggap sekadar saluran air. Alam direduksi menjadi angka-angka investasi.
Padahal, bagi masyarakat yang melahirkan Pacu Jalur, hutan bukan sekadar tempat mengambil kayu. Hutan adalah ibu yang melahirkan kebudayaan.
Karena itu, setiap pohon yang tumbang tanpa kendali sesungguhnya bukan hanya mengurangi tutupan hutan. Ia juga mengurangi kemungkinan lahirnya jalur-jalur masa depan.
Begitu pula dengan Sungai Kuantan.
Selama ini, banyak orang menganggap sungai hanyalah arena perlombaan. Padahal jauh sebelum menjadi lintasan Pacu Jalur, Sungai Kuantan adalah urat nadi kehidupan masyarakat.
Ia menjadi jalur perdagangan, sumber air, tempat mencari ikan, ruang interaksi sosial, bahkan ruang lahirnya berbagai tradisi Melayu.
Peradaban-peradaban besar dunia hampir selalu lahir di tepi sungai. Mesir tumbuh bersama Sungai Nil. Mesopotamia berkembang di antara Tigris dan Efrat. Peradaban Tiongkok bertumbuh di tepian Sungai Kuning.
Demikian pula masyarakat Kuantan.
Tanpa Sungai Kuantan, mungkin tidak pernah ada Pacu Jalur.
Karena itu, menjaga sungai bukan sekadar menjaga kualitas air. Menjaga sungai berarti menjaga ingatan kolektif sebuah masyarakat.
Sungai yang rusak bukan hanya kehilangan ikan.
Ia kehilangan cerita.
Ia kehilangan identitas.
Ia kehilangan sejarah.
Pacu Jalur juga mengajarkan pelajaran penting tentang kepemimpinan.
Dalam satu jalur terdapat puluhan orang. Mereka memiliki tenaga yang berbeda, karakter yang berbeda, bahkan latar belakang yang berbeda.
Namun, ketika perlombaan dimulai, semua perbedaan itu harus melebur menjadi satu irama.
Tidak ada pendayung yang merasa paling penting.
Tidak ada ruang bagi ego.
Sebab satu kayuhan yang terlambat dapat memperlambat seluruh jalur.
Bukankah ini gambaran paling sederhana tentang bagaimana sebuah bangsa seharusnya dibangun?
Indonesia sering kali terjebak dalam persaingan antar kelompok, antar identitas, bahkan antar kepentingan politik. Kita sibuk mendayung ke arah yang berbeda, lalu bertanya mengapa perahu bernama Indonesia bergerak begitu lambat.
Pacu Jalur menawarkan jawaban yang sederhana.
Kemajuan tidak lahir dari orang-orang yang paling kuat.
Kemajuan lahir dari orang-orang yang mampu menyatukan kekuatannya.
Ada pula satu sosok yang sering dianggap sekadar pelengkap perlombaan: anak joki yang menari di ujung haluan.
Padahal, dialah simbol paling indah dalam seluruh pertunjukan itu.
Ia berdiri di bagian paling depan.
Ia menari tanpa rasa takut.
Ia tersenyum di tengah derasnya arus.
Ia menjadi wajah optimisme sebuah jalur.
Bagi saya, anak joki adalah metafora tentang masa depan.
Ia adalah generasi yang kelak akan menerima estafet kebudayaan.
Ketika ia menari, sesungguhnya masyarakat sedang menyampaikan pesan kepada anak-anaknya: melangkahlah dengan percaya diri menuju masa depan, tetapi jangan pernah melepaskan akar tempat engkau berasal.
Modernitas boleh datang.
Teknologi boleh berkembang.
Dunia boleh berubah.
Tetapi manusia yang kehilangan akar budayanya akan mudah kehilangan arah.
Hari ini, Pacu Jalur telah menjadi kebanggaan nasional. Ia dikenal lebih luas, menjadi magnet wisata, bahkan mendapat perhatian dunia. Semua itu patut disyukuri.
Namun pengakuan tidak boleh membuat kita terlena.
Sebab ancaman terbesar terhadap sebuah kebudayaan bukanlah ketika ia tidak dikenal.
Ancaman terbesar adalah ketika ia hanya dipandang sebagai tontonan.
Ketika budaya hanya diukur dari jumlah penonton, nilai ekonomi, atau besarnya hadiah, maka perlahan-lahan makna yang dikandungnya akan terkikis.
Pacu Jalur harus tetap menjadi ruang pendidikan.
Ia harus menjadi ruang pembentukan karakter.
Ia harus menjadi ruang untuk mengajarkan kepada generasi muda bahwa menjaga hutan sama pentingnya dengan memenangkan perlombaan.
Merawat sungai sama pentingnya dengan mempertahankan tradisi.
Melestarikan budaya sama pentingnya dengan membangun masa depan.
Kita sering berbicara tentang pembangunan.
Kita membangun jalan, jembatan, gedung, kawasan wisata, dan berbagai infrastruktur lainnya.
Semua itu memang penting.
Namun sejarah menunjukkan bahwa sebuah bangsa tidak runtuh karena kekurangan bangunan.
Sebuah bangsa runtuh ketika kehilangan nilai-nilai yang menyatukan masyarakatnya.
Pacu Jalur adalah salah satu nilai itu.
Ia mengajarkan bahwa alam bukan warisan yang bebas dieksploitasi, melainkan amanah yang harus dijaga.
Ia mengajarkan bahwa kemenangan tidak pernah lahir dari kesombongan individu, tetapi dari kerja sama.
Ia mengajarkan bahwa budaya bukan benda mati yang disimpan di museum, melainkan cara hidup yang harus terus dipraktikkan.
Pada akhirnya, setiap kayuhan di Sungai Kuantan sesungguhnya adalah doa yang tidak diucapkan dengan kata-kata.
Doa agar hutan tetap hijau.
Doa agar sungai tetap mengalir jernih.
Doa agar anak-anak Kuantan tetap mengenal budayanya.
Doa agar manusia tidak kehilangan kebijaksanaan di tengah derasnya arus zaman.
Karena sesungguhnya, Pacu Jalur bukan sedang mengajarkan kita cara memenangkan perlombaan.
Ia sedang mengajarkan cara memenangkan masa depan.
Dan masa depan itu hanya akan dimiliki oleh masyarakat yang mampu menjaga tiga hal sekaligus: hutannya sebagai sumber kehidupan, sungainya sebagai nadi peradaban, dan budayanya sebagai jiwa yang memberi makna bagi seluruh perjalanan manusia.*(ald)
by. aldian syahmubara