Di Rumah Godang Sentajo, Mahasiswa KKN UNRI Menyelami Akar Peradaban Melayu

KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) — Sabtu (4/7/2026), sinar rembulan malam menembus celah-celah dinding kayu Rumah Godang Kenegerian Sentajo. Bangunan yang telah berdiri melewati pergantian zaman itu tampak tenang, seolah menunggu kedatangan mereka yang ingin mendengar kisah-kisah lama yang tak pernah selesai diceritakan.

Di rumah adat yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya itu, puluhan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Riau (UNRI) duduk bersila. Dengan layar proyektor, tanpa ruang kuliah berpendingin udara. Yang hadir hanyalah lantai kayu tua, ukiran-ukiran Melayu yang sarat filosofi, dan seorang tetua adat yang menjadi penjaga ingatan kolektif masyarakat Kenegerian Sentajo.

Di hadapan mereka berdiri Familus, tokoh adat Sentajo. Dengan suara tenang, ia mulai membuka lembar demi lembar sejarah yang selama ini hidup dalam ingatan masyarakat.

Rumah Godang (Rumah Adat) hari itu bukan sekadar lokasi diskusi. Ia berubah menjadi ruang belajar tentang bagaimana sebuah bangsa mempertahankan dirinya melalui adat, budaya, dan nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi.

Di tengah derasnya arus globalisasi yang perlahan menggeser ruang hidup tradisi, perjumpaan antara mahasiswa dengan para pemangku adat menjadi semakin bermakna.

Modernisasi memang menghadirkan teknologi, kecerdasan buatan, dan dunia digital yang bergerak tanpa batas. Namun, di Sentajo, masyarakat percaya bahwa kemajuan tidak boleh membuat manusia tercerabut dari akar budayanya.

Itulah sebabnya Rumah Godang tetap dijaga.

Bukan semata karena bangunannya tua, melainkan karena di sanalah hidup sebuah sistem nilai yang selama ratusan tahun menjaga masyarakat tetap utuh.

"Adat bukan sekadar warisan yang dikenang. Adat adalah pedoman hidup yang mengatur bagaimana manusia menghormati sesama, menjaga marwah, serta menyelesaikan persoalan melalui musyawarah. Selama adat dijaga, jati diri masyarakat akan tetap berdiri kokoh meski zaman berubah," ujar Familus.

Kalimat itu membuat suasana hening. Para mahasiswa mencatat. Sebagian lagi mengangkat telepon genggam, merekam setiap penjelasan yang keluar dari bibir sang tetua adat.

Bagi masyarakat luar, Rumah Godang mungkin hanya dipandang sebagai rumah adat Melayu.

Namun bagi masyarakat Kenegerian Sentajo, rumah itu adalah pusat kehidupan.

Di sanalah para ninik mamak bermusyawarah.

Di sanalah persoalan masyarakat diselesaikan.

Di sanalah keputusan-keputusan adat dilahirkan.

Dan di sanalah marwah negeri dijaga.

Familus menjelaskan bahwa Rumah Godang menjadi simbol persatuan seluruh masyarakat adat Sentajo.

Ia tidak berdiri untuk satu keluarga, melainkan menjadi milik bersama seluruh anak kemenakan.

Karena itu, setiap ukiran yang menghiasi dinding rumah memiliki makna.

Setiap tiang memiliki filosofi.

Bahkan arah bangunannya pun mengandung nilai kehidupan.

Diskusi kemudian memasuki pembahasan yang membuat mahasiswa semakin antusias.

Familus memaparkan bahwa Kenegerian Sentajo memiliki sistem pemerintahan adat yang tersusun rapi.

Di puncak struktur terdapat Pucuk Pucuak Adat, pemegang amanah tertinggi dalam kehidupan adat.

Ia bukan seorang penguasa.

Melainkan pemimpin yang memegang amanah untuk menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat berdasarkan musyawarah dan mufakat.

Dalam menjalankan tugasnya, Pucuk Pucuak Adat dibantu oleh beberapa perangkat adat yang memiliki fungsi berbeda.

Monti menjadi pelaksana keputusan adat sekaligus penghubung antara pemimpin adat dengan masyarakat.

Ia memastikan setiap keputusan musyawarah benar-benar dijalankan.

Sementara Dubalang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban negeri adat.

Ia menjadi penjaga marwah adat agar seluruh ketentuan yang telah disepakati dapat dihormati bersama.

Adapun Malin memegang peranan dalam kehidupan keagamaan.

Ia memastikan bahwa adat berjalan seiring dengan ajaran Islam.

Bagi masyarakat Sentajo, adat dan agama bukan dua hal yang dipisahkan.
Keduanya saling menguatkan.

"Adat tidak boleh bertentangan dengan agama. Justru adat menjadi jalan untuk menjaga nilai-nilai agama dalam kehidupan masyarakat," jelas Familus.

Paparan itu membuat para mahasiswa memahami bahwa adat Sentajo bukan sekadar tradisi seremonial.

Ia adalah sistem sosial yang hidup.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Penjabat Kepala Desa Koto Sentajo, H. Bahmada.

Ia menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa KKN Universitas Riau yang memilih belajar langsung kepada masyarakat adat.

Menurutnya, kehadiran mahasiswa membawa harapan baru bagi pelestarian budaya lokal.

"Kami berharap apa yang dipelajari di Rumah Godang ini tidak berhenti selama masa KKN. Kami ingin nilai-nilai adat Sentajo dikenal lebih luas melalui tulisan, penelitian, maupun dokumentasi sehingga generasi muda semakin bangga terhadap budayanya sendiri," ujar Bahmada.

Ia mengatakan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab ninik mamak.

Pemerintah, akademisi, media, dan generasi muda memiliki peran yang sama pentingnya.

Sebab kebudayaan bukan hanya peninggalan masa lalu.

Ia adalah identitas masa depan.

Bagi mahasiswa KKN UNRI, diskusi tersebut menjadi pengalaman yang tidak ditemukan di bangku kuliah.

Mereka belajar bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya lahir dari buku-buku akademik.

Ia juga hidup dalam petuah para tetua.

Dalam musyawarah.

Dalam tradisi.

Dalam cara masyarakat menyelesaikan konflik tanpa kehilangan persaudaraan.

Pengabdian kepada masyarakat akhirnya menemukan makna yang lebih luas.

Bukan hanya membangun jalan.

Bukan hanya membuat papan nama.

Tetapi juga mendengar.
Mencatat.

Mewariskan kembali.

Merawat Ingatan Bangsa

Menjelang pergantian hari, cahaya rembulan perlahan menyelinap melalui celah-celah dinding Rumah Godang.

Suara jangkrik bersahutan dari pepohonan tua di sekitar halaman.

Diskusi pun usai.

Para mahasiswa menutup buku catatan mereka.

Namun sesungguhnya, yang mereka bawa pulang bukan sekadar materi tentang struktur adat, nama-nama perangkat negeri, atau sejarah Kenegerian Sentajo.

Mereka membawa sesuatu yang jauh lebih berharga.

Kesadaran bahwa sebuah bangsa hanya akan berdiri tegak apabila tetap mengenal akar yang menumbuhkannya.

Rumah Godang Sentajo hari itu kembali membuktikan dirinya bukan hanya bangunan kayu yang bertahan melawan usia.

Ia adalah perpustakaan tanpa rak.

Universitas tanpa tingkat.

Tempat sejarah terus berbicara kepada siapa pun yang bersedia mendengar.

Dan di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Sentajo mengajarkan satu pelajaran penting kepada Indonesia: kemajuan tidak pernah lahir dari bangsa yang melupakan budayanya. Kemajuan justru tumbuh dari mereka yang mampu melangkah ke masa depan dengan tetap menggenggam erat akar peradabannya.*(ald)

 

by: aldian syahmubara


Baca Juga