TOBEK PANJANG (KilasRiau.com) – Di tengah kesejukan malam yang menyelimuti perkampungan, cahaya lampu sederhana dari Pos Ronda RW 04 Garunggang Cunduang menjadi saksi berkumpulnya masyarakat dari berbagai unsur dalam sebuah agenda penuh makna; syukuran, doa bersama, sekaligus silaturahmi untuk mensucikan kampung dari segala bala, musibah, serta berbagai potensi gangguan yang dapat mengusik ketenteraman negeri.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu malam (16/5/2026) di Dusun Tobek Panjang, Desa Koto Taluk, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, itu bukan sekadar ritual adat atau kegiatan seremonial semata. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ruang perjumpaan batin, penguat persaudaraan, sekaligus wadah menyatukan tekad seluruh elemen masyarakat dalam menjaga marwah kampung, merawat nilai-nilai adat, dan memperkokoh keamanan lingkungan di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.
Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Eka Putra, Kepala Desa Riza Andika yang diwakili Sekretaris Desa Haris Rosyadi, Ketua BPD Yuliadi, Ketua Pemuda Hendra Nopriadi, tokoh adat Kenegerian Taluk Datuk Bisai mudo Suryawan, tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat desa, Bhabinkamtibmas Desa Koto Taluk Budi, serta masyarakat yang memadati lokasi kegiatan dengan penuh antusias.
Nuansa kekeluargaan begitu terasa sejak awal kegiatan. Warga dari berbagai usia duduk bersila, saling menyapa, berbincang hangat, seolah menegaskan bahwa kampung yang kuat bukan dibangun dari megahnya bangunan, melainkan dari eratnya hubungan antar sesama.
Dalam sambutannya, Camat Eka Putra menyampaikan bahwa keamanan, ketertiban, dan kenyamanan dalam kehidupan bermasyarakat tidak akan lahir begitu saja tanpa adanya kepedulian bersama.
Menurutnya, tantangan sosial hari ini semakin beragam, mulai dari persoalan penyakit masyarakat, konflik sosial, penyalahgunaan teknologi informasi, hingga lemahnya komunikasi antarwarga yang dapat membuka ruang bagi berbagai persoalan di lingkungan.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat agar tidak pernah lengah dalam menjaga kampung.
"Ketenteraman dan ketertiban masyarakat harus terus dijaga. Ini tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Dibutuhkan komunikasi, koordinasi, dan kepedulian dari seluruh unsur—pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, hingga masyarakat itu sendiri," ujar Eka Putra.
Ia juga menegaskan bahwa keberadaan pos ronda harus benar-benar dihidupkan sebagai pusat kontrol sosial di tengah masyarakat, bukan sekadar bangunan pelengkap lingkungan.
"Gerakkan semua unsur dalam menjaga negeri. Keamanan lingkungan, pencegahan penyakit masyarakat, dan pengawasan terhadap berbagai potensi gangguan harus terus ditingkatkan. Jika semua bergerak, maka kampung akan tetap aman, nyaman, dan harmonis," tegasnya.
Pesan penuh makna kemudian datang dari tokoh adat Kenegerian Taluk, Datuk Bisai, yang menyampaikan petuah adat dengan logat khas Melayu yang langsung menyentuh hati masyarakat.
"Kok tatungkuik samo-samo makan tanah."
Ungkapan singkat tersebut sontak menghadirkan keheningan. Sebuah falsafah adat yang mengajarkan bahwa setiap persoalan yang datang ke negeri harus dipikul bersama, dihadapi bersama, dan diselesaikan bersama—bukan saling menyalahkan, apalagi berjalan sendiri-sendiri.
Dalam petuahnya, Datuk Bisai mengingatkan bahwa persatuan adalah benteng paling kokoh dalam menjaga kampung dari perpecahan.
Ia mengajak masyarakat agar selalu mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan setiap persoalan, sekecil apa pun.
"Kalau ada persoalan, mari duduk bersama. Cari jalan keluarnya dengan musyawarah. Jangan mudah terpancing emosi, jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya," pesannya.
Ia juga menyoroti derasnya arus informasi digital yang kerap membawa kabar bohong atau hoaks yang dapat memecah hubungan persaudaraan di tengah masyarakat.
"Jangan terprovokasi oleh informasi hoaks. Saring sebelum sharing. Jangan sampai kampung yang damai menjadi gaduh hanya karena kabar yang belum tentu benar. Mari bersama mendukung program pemerintah demi kemajuan dan pembangunan negeri," tambahnya.
Senada dengan itu, Bhabinkamtibmas Desa Koto Taluk, Budi, menegaskan bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab kepolisian, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif seluruh warga.
Ia menilai keberadaan ronda malam, komunikasi antarwarga, serta keterlibatan perangkat desa menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif.
"Kolaborasi antara Bhabinkamtibmas, petugas ronda, perangkat desa, pemuda, dan masyarakat harus terus diperkuat. Monitoring keamanan harus dilakukan bersama-sama. Ketika semua unsur bergerak, maka potensi gangguan bisa dicegah lebih awal," ungkapnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak ragu melapor apabila menemukan aktivitas mencurigakan atau potensi gangguan keamanan di lingkungan sekitar.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Dalam suasana hening dan penuh kekhusyukan, tangan-tangan menengadah, memanjatkan harapan agar Dusun Tobek Panjang, Desa Koto Taluk, dan seluruh negeri Kuantan Singingi senantiasa dijauhkan dari marabahaya, konflik, perpecahan, serta diberikan keberkahan, kedamaian, dan persatuan yang kokoh.

Malam itu, dari sebuah pos ronda sederhana di sudut Tobek Panjang, bukan hanya doa yang dipanjatkan. Lebih dari itu, lahir sebuah pesan yang menggema hingga ke relung hati masyarakat—bahwa menjaga negeri dimulai dari menjaga persaudaraan, merawat komunikasi, menolak hoaks, dan berdiri bersama ketika kampung membutuhkan.*(ald)