Camat Kuantan Tengah Eka Putra Serukan Pentingnya Literasi dalam Kehidupan Sehari-hari

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Pagi belum sepenuhnya meninggalkan dinginnya ketika Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispersip) Kuantan Singingi mulai dipenuhi langkah-langkah kecil penuh harap. Deretan kursi tertata rapi, spanduk kegiatan membentang di dinding, dan aroma kertas—seakan mengingatkan bahwa di ruangan inilah kata-kata diberi tempat terhormat.

Jumat (19/12/2025) pagi, Festival Literasi Kuansing Tahun 2025 resmi digelar. Bukan sekadar agenda tahunan, tetapi ikhtiar bersama untuk menyalakan kembali api membaca, menulis, dan berpikir kritis di tengah masyarakat.

Di antara para tamu undangan, hadir Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si. Sosok yang dikenal aktif mendukung kegiatan sosial dan pendidikan itu melangkah tenang memasuki aula. Kehadirannya menandai satu hal penting: literasi bukan hanya urusan perpustakaan, melainkan tanggung jawab semua lini pemerintahan.

Dalam suasana yang sarat makna, Eka Putra menyampaikan pandangannya tentang literasi—bukan sebagai konsep besar yang jauh dari kehidupan, melainkan sesuatu yang melekat dalam keseharian manusia.

“Literasi merupakan salah satu wawasan yang harus kita miliki dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Eka Putra.

Baginya, literasi adalah kemampuan memahami dunia. Ia hadir saat seseorang membaca tanda zaman, memilah informasi di tengah derasnya arus digital, serta mengambil keputusan dengan nalar yang jernih. Tanpa literasi, masyarakat mudah terjebak pada kabar yang kabur, opini yang menyesatkan, dan konflik yang lahir dari salah paham.

Ia menilai, kegiatan seperti Festival Literasi Kuansing menjadi ruang penting untuk mengingatkan kembali bahwa membaca dan berpikir bukanlah aktivitas elit, melainkan kebutuhan dasar agar masyarakat mampu berdiri tegak menghadapi perubahan.

Lebih jauh, Eka Putra berharap literasi dapat tumbuh dari ruang-ruang kecil: dari rumah, sekolah, hingga desa-desa. Dari obrolan sederhana, dari buku yang dibaca bersama, dari kebiasaan bertanya dan berdiskusi.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kuansing, Shanti Evi Dimeti, SH, menegaskan bahwa Festival Literasi Kuansing 2025 bukanlah kegiatan seremonial belaka. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang membangun ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan.

“Perpustakaan hari ini tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi ruang belajar, ruang diskusi, dan ruang tumbuh bagi masyarakat,” tutur Shanti Evi.

Menurutnya, perpustakaan harus hadir sebagai ruang yang ramah bagi semua kalangan—anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Tempat di mana ide bertemu, pengetahuan dibagikan, dan imajinasi dirawat.

Festival Literasi Kuansing, kata dia, diharapkan menjadi titik temu antara pemerintah, pendidik, pegiat literasi, dan generasi muda. Sebuah ruang kolaborasi yang mendorong tumbuhnya budaya baca serta kecakapan literasi di tengah tantangan zaman digital.

Di balik rangkaian kegiatan, festival ini menyimpan pesan yang lebih dalam: bahwa masa depan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas manusianya. Literasi menjadi jembatan menuju masyarakat yang cerdas, kritis, dan berdaya.

Di aula itu, buku-buku mungkin terdiam di rak. Namun gagasan bergerak, harapan bersemi, dan kata-kata menemukan rumahnya. Festival Literasi Kuansing 2025 menjadi penanda bahwa literasi bukan sekadar kemampuan, melainkan sikap hidup—yang harus terus dirawat agar cahaya pengetahuan tak pernah padam.*(ald)


Baca Juga