TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Penertiban pedagang di kawasan Taman Jalur Taluk Kuantan, Kamis (21/8/2025), berujung kericuhan. Sejumlah pedagang menolak direlokasi meski aparat gabungan Satpol PP, TNI, Polri, hingga organisasi kepemudaan ikut turun tangan.

Dalam video yang beredar, tampak aksi saling adu mulut antara aparat dengan pedagang yang bersikeras mempertahankan lapaknya. Suasana sempat memanas, namun aparat tetap melanjutkan penertiban.
Kasat Pol PP-PKP Kuansing, Rio Kasyterwandra, S.Sos., MM, menegaskan bahwa langkah tegas ini diambil setelah berbagai upaya persuasif tidak digubris.
“Dari awal sudah disampaikan bahwa taman jalur adalah ruang terbuka hijau, tempat rekreasi, dan istirahat masyarakat saat pacu jalur. Sosialisasi sudah dilakukan sejak lama, baik oleh Satpol PP, DLH, maupun OPD terkait. Bahkan tadi malam saat patroli juga kembali kami tegaskan larangan berdagang di taman,” ujar Rio.
Menurutnya, pedagang sebenarnya sudah difasilitasi relokasi ke Jalan Mayor Fadilah (depan eks Dinas Pasar) dan kawasan Pasar Rakyat oleh Dinas Kopdagrin.
“Namun karena pendekatan persuasif tidak berhasil, hari ini tim gabungan mengambil tindakan represif berupa penertiban. Diketahui pedagang pindah dini hari tadi, sekira pukul 02.00 WIB,” tambahnya.
Sementara itu, suara berbeda datang dari pihak pedagang. Ketua Pedagang Taman Jalur, Muhammad Abrar, mengaku iba melihat kondisi yang dialami anggotanya.
“Tentu sebagai ketua saya kasihan dengan pedagang taman yang merupakan pedagang harian di lingkungan taman. Itu periuk nasi mereka. Pedagang dari luar daerah bisa berjualan di sekitar taman, tapi pedagang taman justru direlokasi ke lokasi yang jangankan orang, lalat saja nggak lewat,” tegas Abrar dengan nada kecewa.
Sejumlah warga yang menyaksikan penertiban pun memberikan pandangan beragam. Rika (34), penonton Pacu Jalur, mengaku prihatin melihat keributan tersebut. “Kalau bisa jangan sampai ribut. Kasihan juga pedagang, mereka hanya mencari makan. Tapi memang taman ini sebaiknya tertata, supaya indah dipandang tamu luar daerah,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Yadi (41), warga Teluk Kuantan. Ia menilai pemerintah seharusnya lebih bijak mencari solusi.
“Saya paham niat pemerintah menata taman, tapi lokasi relokasi pedagang harus strategis. Kalau jauh dari keramaian, bagaimana mereka bisa hidup?” katanya.
Konflik kepentingan antara pemerintah daerah yang ingin menata kawasan taman dengan para pedagang yang menggantungkan hidupnya di lokasi strategis itu kini menjadi sorotan publik.
Warga berharap ada jalan tengah agar ikon wisata Pacu Jalur tetap terjaga tanpa mengorbankan mata pencaharian masyarakat kecil.
Hingga siang hari, situasi di kawasan Taman Jalur berangsur kondusif. Namun, keresahan pedagang atas relokasi yang dinilai merugikan masih terasa kuat dan dikhawatirkan memicu polemik berkepanjangan.*(ald)