Pelayanan Puskesmas Kari Dinilai Mengecewakan, Rizka: Kita Sudah Layani Sesuai SOP Yang Berlaku

Pelayanan Puskesmas Kari Dinilai Mengecewakan, Rizka: Kita Sudah Layani Sesuai SOP Yang Berlaku

TELUK KUANTAN, KilasRiau.com
Seorang warga Teluk Kuantan berinisial WS, menilai pelayanan Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) Kari sangat jauh dari kata memuaskan. Dalam hal ini pelayanan kesehatan terkait keluhan Covid-19.

Yang mana, pada saat itu WS datang ke Puskesmas Kari bersama keluarganya, yakni istri, anak dan kedua orang tuanya guna mendapatkan pelayanan Swab PCR.

"Saya sama istri, anak dan mertua datang ke Puskesmas Kari sekitar pukul 10:00 WIB. Sampai di sana, saya langsung menuju ke pelayanan. Saya sampaikan bahwa saya mau swab PCR, karena sejak hari Senin, demam. Gejalanya Covid 19 dan kawan saya sudah keluar hasilnya, positif," kata WS saat dikonfirmasi awak media pada Kamis (01/07/2021) via WhatsApp pribadinya.

WS menceritakan, pada saat itu petugas mengatakan bahwa dirinya tidak bisa di swab PCR sekarang dengan alasan petugas swab sedang keluar kota. Mereka menyampaikan kalimat keluar kota bukan sekali dua, tapi berkali-kali. Bahkan saya disuruh swab mandiri oleh mereka, ujar WS.

"Saya coba minta obat Covid, tapi mereka tak mau. Saya sempat berdebat dengan mereka, ketika mereka menyarankan saya swab pada Selasa depan. Kondisi saya darurat. Tak mungkin saya swab minggu depan," kata WS tegas.

Setelah terjadinya perdebatan antara WS sang Pasien dengan petugas puskesmas, akhirnya mereka bersedia melakukan rapid antigen. Saya pun mau, karena akan dapat obat anti virus, kata WS.

"Pada saat melakukan rapid antigen, saya bertanya kepada petugas. Kemana petugas swab PCR? Dijawabnya keluar kota.
Saya tanya lagi, dalam rangka apa? Dijawabnya liburan. Enak ya, kata saya. Tapi petugas itu diam saja," kata WS menerangkan.

WS mengaku, "usai dirapid, saya disuruh pulang. Tak lama kemudian, petugas datang mengantarkan obat. Ada tiga jenis obat yang diantar. Nah, satu jenis obat tak ada. Mereka membuat resep dan menyuruh saya beli sendiri di apotek," demikian terang WS menceritakan kronologisnya.

Sementara itu di sisi lain, Plt Kepala UPTD Kesehatan Puskesmas Kari, Rizka Sofiana Dewi, A.Md.,Keb saat dikonfirmasi KilasRiau.com pada Kamis (01/07/2021) membantah dengan tegas terkait permasalahan pelayanan puskesmas yang dikeluhkan masyarakat tersebut.

Terkait pelayanan yang dikeluhkan oleh warga Teluk Kuantan, WS dan istri, anak serta kedua orang tuanya terhadap pelayanan Puskesmas Kari yang terkesan abai dan santai saja, apalagi pelayanan untuk Covid-19. Rizka Sofiana Dewi menjelaskan bahwa pihaknya sudah memberikan pelayanan dan respons terhadap keluhan masyarakat sebagaimana mestinya.

Menurut Rizka, pihaknya sudah memberikan pelayanan maksimal terhadap masyarakat yang membutuhkan, terutama terkait pelayanan Covid-19. 
Plt Kepala UPTD Kesehatan Puskesmas Kari itu mengatakan, hal itu berlaku tanpa pengecualian.

"Pak WS dan keluarga (Istri, anak, beserta kedua orang tuanya) datang ke Puskesmas Kari pukul 11.00 WIB, kemudian menyampaikan ke petugas pendaftaran ingin swab PCR sekeluarga, kemudian petugas pendaftaran menyampaikan keinginan pak WS kepada perawat ahli puskesmas yang sudah dilatih pengambilan swab PCR dan Antigen," kata Rizka.

Rizka juga mengatakan bahwa bersama dengan pemegang program P2M, perawat ahli puskesmas menjelaskan prosedur untuk pemeriksaan PCR, bahwa PCR di puskesmas diadakan 3 kali seminggu, yakni Selasa, Rabu dan Sabtu.

"Petugas kami menyarankan, kalau ingin swab PCR cepat, bisa periksa swab PCR di klinik swasta (klinik DUTA) dan pemeriksaan nya berbayar, tapi beliau tidak mau ke swasta dan inginnya di puskesmas saja," kata Rizka menjelaskan.

Karena beliau ngotot untuk tetap swab di puskesmas, lanjut Rizka, akhirnya di panggil Kepala Tata Usaha (TU) sekaligus surveilans puskesmas untuk menjelaskan kepada WS. Kemudian petugas menanyakan nama pasien dan keluhannya apa, beliau menjelaskan namanya WS, merupakan kontak erat dari inisial MR positif Covid, kata Rizka.

"Terus surveilands bertanya lagi apakah pak MR sudah swab PCR?, pasien menjawab iya, sudah di swab PCR di RSUD Teluk Kuantan," jawabnya singkat.

Kemudian surveilans meminta nomor handphone (HP) pasien pak WS, dan kemudian pak WS memberikan nmr hp nya, kata Rizka.

"Karena beliau merasa ada gejala covid, beliau datang ke Puskesmas Kari untuk lakukan swab PCR, akhirnya surveilans menyarankan pak WS untuk swab Antigen, dan beliau meng iya kan. Terus di tanya lagi keluarga yang bergejala siapa saja? beliau beliau mengatakan, dia dan istri nya, karena kedua orang tuanya tidak bergejala. Makanya tidak disarankan untuk swab Antigen, karena prosedur swab Antigen adalah suspec yang bergejala, dan beliau setuju untuk itu," terang Rizka.

Kemudian surveilans menjelaskan seandainya bapak WS dan istri hasil swabnya positif, maka di sarankan swab PCR sekeluarga termasuk kedua orang tuanya untuk swab PCR pada hari Selasa di Kantor Camat, tegas Rizka.

"Kemudian surveilans menjelaskan kalau swab Antigen bapak WS positif, maka nanti bakal ada Tim Tracer Puskesmas datang ke rumah bapak sambil mengantarkan obat buat bapak, dan beliau juga setuju," terang Rizka lagi.

Akhirnya kata Rizka, beliau memutuskan bahwa, dirinya dan istri serta anaknya di swab Antigen. "Beliau minta anaknya juga diswab, kami pun meng iya kan, asalkan anaknya mau dan tidak menangis. Pada saat diswab, akhirnya anak pak WS tidak mau dilakukan swab terhadap dirinya dan menangis," ungkap Rizka menjelaskan.

"Akhirnya yang diswab Antigen pak WS dan istrinya saja oleh petugas puskesmas yang sudah dilatih," tegasnya.

Pada saat diswab WS bertanya kepada petugas swab "analis nya kemana?" petugas puskesmas menjawab "hari ini libur, izin enggak masuk, analis minta izin mau periksa kehamilan," tapi beliau (WS) dengan nada nyeleneh bilang ke petugas "enaknya bisa liburan," kata Rizka menceritakan buah percakapan petugas Puskesmas Kari dengan pasien WS.

"Pada saat diswab itu pukul 11.20 WIB, dan hasil swab Antigen nya positif," imbuh Rizka.

Pada pukul 11.40 WIB, Tim Tracer Puskesmas Kari menelfon WS, hingga 5 kali panggilan tapi tidak diangkat. "Mungkin beliau lagi di jalan pulang menuju ke rumah," kata Rizka. 

Kemudian kembali dihubungi pada pukul 12.00 WIB, baru telfon terhubung dan diangkat WS, tim tracer menjelaskan mau datang ke rumah pak WS melakukan pelacakan seperti yang dijelaskan surveilans diawal. 
"Beliau memperbolehkan, dan mengirimkan lokasi rumah, disertai Kartu Keluaraga (KK) beliau," kata Rizka membeberkan.

Akhirnya tim tracer kata Rizka, sampai ke rumah WS pada pukul 12.15 WIB. "Rumah beliau ada di Sinambek, kelurahan Sungai Jering," terang Rizka.

Saat tim tracer datang, sambung Rizka lagi, "WS menyambut Tim Tracer Puskesmas Kari dengan hangat. Tim tracer sempat salah jalan menuju ke rumahnya, dan beliau menjelaskan masuk rumah beliau dari gang satu nya lagi," ujar Rizka.

"Pada saat berada di rumah beliau, tim tracer langsung memberikan obat kepada pak WS termasuk obat anti virus di dalamnya, kemudian tim tracer bertanya mulai kapan pak WS merasakan gejala demam? beliau menjawab pada hari Senin tanggal 28 Juni, kemudian tim tracer bertanya gejala apa yang bapak rasakan selain demam? beliau menjawab batuk, sakit kepala, tenggorokan. Kemudian tim tracer bertanya lagi apakah bapak kehilangan indra penciuman dan perasa? Beliau menjawab iya hari ini, lalu tim tracer menjelaskan, memang gejala Covid 19 biasanya pada hari ke empat dan ke lima," urai Rizka menceritakan kronologis penanganan yang dilakukan tim tracer di Puskesmas yang kini dipimpinnya tersebut.

Tidak hanya sampai disitu, kata Rizka tim tracer bertanya lagi apakah ada keluhan yang lain? Beliau menjawab iya, tim tracer ber tanya mencret ada? beliau jawab iya, mual? beliau jawab iya, nyeri sendi? beliau jawab iya. Kemudian tim tracer bertanya apkah bapak ada penyakit bawaan seperti DM, jantung, hati, dan lainya? beliau menjawab tidak, ucapnya.

Masih Rizka, tim tracer bertanya seminggu yang lalu bapak (WS) ada bepergian? Beliau jawab iya ke Pekanbaru - Dumai - Pekanbaru, baru balik ke Taluk, perjalanan tersebut di mulai tanggal 23 Juni sampai 26 Juni.

"Kemudian siapa aja yang satu mobil dengan bapak? Beliau menjawab pak inisial MR dan salah satu temannya orang Seberang Taluk, mereka sudah swab PCR. Kemudian tim tracer bertanya lagi beliau sampai di Taluk kontak dengan siapa aja? beliau menjawab kontak dengan keluarga di Pangean (org tua, adik serta sanak famili). Tim tracer mencatat kontak erat beliau, dan menjelaskan bakal dikasih tau kepada Kepala Puskesmas Pangean untuk melakukan swab PCR keluarga beliau disana. Saat itu beliau menyetujui hal tersebut," kata Rizka menerangkan.

"Kemudian tim tracer bertanya kepada istri beliau, keluhan nya apa, dan istrinya menjelaskan sakit kepala dan sakit menelan. Tim tracer juga bertanya apakah istri pak WS ada komunikasi 3 hari yang lalu dengan tetangga? beliau menjwab tidak, karena tetangga kami jauh jauh, sambil tersenyum, paparnya.

Kemudian tim tracer puskesmas memberikan edukasi tentang covid kepada WS dan istrinya. "Setelah itu beliau berterima kasih telah dikunjungi tim puskesmas dan diberikan obat, lalu tim tracer pamit pulang sambil tertawa karna sudah salah masuk jalan setapak sempit menuju ke rumah beliau, sepeda motor tim tracer tidak bisa berputar dan terpaksa berjalan mundur untuk keluar dari rumah nya," begitulah kronologis pelayanan dan kejadian selama penanganan dilakukan terhadap WS menurut Plt Kepala UPTD Kesehatan Puskesmas Kari Rizka Sofiana Dewi, A.Md.,Keb menceritakan.

"Sambutan beliau saat dijelaskan prosedur swab, sangat baik dan menyambut tim juga dengan baik disana. Intinya kita sudah layani beliau dari awal sampai akhir sesuai SOP yang berlaku," tegas Rizka Sofiana Dewi menyampaikan.

Untuk permasalahan tenaga analis yang libur karena izin tersebut, tegas Rizka, tidak ada kaitannya dengan tidak dilakukannya tes swab PCR. 

"Karena ada 1 analis lagi yang standby di puskesmas. Saya juga ga tau apa dosa teman-teman di Puskesmas Kari sehingga pak WS mengatakan seperti itu di media," demikian Rizka Sofiana Dewi menuturkan.**