BGTK Riau dan BI Perkuat Literasi CBP Rupiah, Tanamkan Cinta Mata Uang Sejak Dini

BGTK Riau dan BI Perkuat Literasi CBP Rupiah, Tanamkan Cinta Mata Uang Sejak Dini
foto: doc. ronaldo rozalino

PEKANBARU (KilasRiau.com) — Menanamkan kecintaan terhadap Rupiah bukan sekadar mengenalkan mata uang kepada peserta didik. Lebih dari itu, literasi Rupiah merupakan bagian dari upaya membangun karakter, menumbuhkan kebanggaan nasional, serta memperkuat kesadaran generasi muda terhadap kedaulatan ekonomi bangsa.

Semangat tersebut mengemuka dalam pertemuan koordinasi dan penguatan Fasilitator Daerah (Fasda) program Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah yang diselenggarakan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Riau bersama Bank Indonesia Perwakilan Riau melalui Zoom Meeting, Jumat (16/10/2026).

Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Riau Bertuah (Berikan Literasi Uang Rupiah) Tahun 2026 itu menjadi ruang konsolidasi antara pemangku kepentingan pendidikan dan Bank Indonesia untuk memperluas edukasi Rupiah melalui lingkungan sekolah.

Fokusnya bukan hanya meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap mata uang nasional, tetapi juga memastikan nilai-nilai cinta, bangga, dan paham Rupiah menjadi bagian dari proses pendidikan yang berkelanjutan.

Kepala BGTK Provinsi Riau, Reisky Bestary, S.Pd., M.PdB., menekankan pentingnya penguatan literasi CBP Rupiah secara sistematis di lingkungan satuan pendidikan.

Menurutnya, edukasi Rupiah perlu diintegrasikan ke dalam kegiatan kokurikuler, modul pembelajaran, struktur kurikulum, hingga sistem penilaian di sekolah-sekolah se-Provinsi Riau.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat literasi Rupiah tidak berhenti sebagai kegiatan sosialisasi sesaat, melainkan berkembang menjadi bagian dari pembentukan karakter peserta didik.

Dukungan dan arahan dari jajaran pendidikan juga menjadi elemen penting untuk memperluas jangkauan program, sehingga implementasinya dapat berjalan lebih terarah dan menjangkau satuan pendidikan di berbagai wilayah Riau.

Dalam konteks ini, sekolah memiliki posisi strategis. Selain menjadi ruang transfer pengetahuan, sekolah juga berperan membentuk kebiasaan dan sikap peserta didik dalam menghargai, menjaga, serta menggunakan uang secara bertanggung jawab.

Penanggung Jawab Program Riau Bertuah sekaligus fasilitator, Sesi Suswanti, M.Pd., menjelaskan bahwa nilai-nilai CBP Rupiah memiliki keterkaitan dengan pembentukan karakter pelajar Pancasila.

Salah satu aspek yang ditekankan adalah tanggung jawab, termasuk membiasakan peserta didik merawat uang Rupiah, mengenali ciri keasliannya, serta memahami cara menggunakan dan mengelola uang secara bijak.

Dengan demikian, pendidikan Rupiah tidak semata-mata berorientasi pada pengetahuan mengenai bentuk dan pecahan uang. Program ini juga dapat menjadi sarana untuk menanamkan kedisiplinan, kepedulian, dan kesadaran terhadap nilai uang dalam kehidupan sehari-hari.

Integrasi melalui kegiatan kokurikuler menjadi salah satu perhatian utama BGTK dan Bank Indonesia Perwakilan Riau agar pesan edukasi tersebut dapat diterapkan secara kontekstual sesuai kebutuhan sekolah.

Pertemuan koordinasi tersebut juga menghadirkan pengalaman para Fasilitator Daerah yang telah menjalankan edukasi CBP Rupiah di wilayah masing-masing.

Dari berbagai laporan yang disampaikan, terlihat bahwa pelaksanaan program membutuhkan kreativitas, konsistensi, serta kemampuan menyesuaikan pendekatan dengan kondisi satuan pendidikan dan karakteristik daerah.

Tiara Bela Pratiwi, Fasda dari SMPN 1 Kuantan Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), memaparkan laporan pelaksanaan On the Job Learning (OJL).

Selama enam bulan terakhir, Tiara secara konsisten melakukan diseminasi program kepada kepala dinas, kepala sekolah, sesama guru, dan peserta didik melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Ia juga membawa pesan edukasi CBP Rupiah hingga ke ajang Jambore Nasional 2026.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa guru dapat berperan sebagai penggerak literasi yang menjembatani kebijakan edukasi dengan praktik nyata di sekolah.

Sementara itu, Sumarseh, Fasda Kabupaten Siak dari TK Pembina Kandis, menunjukkan pentingnya mengenalkan Rupiah sejak usia dini.

Bergabung dalam program sejak April 2026, Sumarseh mulai memperkenalkan konsep dasar Rupiah melalui kegiatan kokurikuler di lingkungan pendidikan anak usia dini.

Meski menghadapi tantangan penyesuaian dengan tahun ajaran baru, ia tetap berinisiatif memperluas pengimbasan kepada guru-guru sasaran di lima kecamatan.

Ke depan, Sumarseh juga berencana melibatkan orang tua murid agar edukasi mengenai Rupiah tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi berlanjut dalam kehidupan keluarga.

Pelibatan orang tua dinilai penting karena kebiasaan anak dalam mengenal nilai uang, menjaga uang, dan memahami penggunaannya juga terbentuk melalui interaksi sehari-hari di rumah.

Tantangan berbeda dihadapi Syaiful, yang akrab disapa Kang Ipul, Fasda dari Kabupaten Kepulauan Meranti.

Kondisi geografis kepulauan, keterbatasan sinyal komunikasi, serta akses jalan yang tidak selalu mudah menjadi hambatan dalam memperluas edukasi CBP Rupiah.

Namun, kendala tersebut tidak menghentikan upayanya.

Melalui program CBP Rupiah Go To School, Kang Ipul merangkul koordinator wilayah (Korwil) dan kepala sekolah untuk memperluas penyampaian materi edukasi. Pesan literasi Rupiah juga disisipkan dalam berbagai kegiatan peserta didik.

Pengalaman dari Kepulauan Meranti tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan edukasi tidak hanya ditentukan oleh tersedianya materi pembelajaran, tetapi juga oleh komitmen pelaksana dan kemampuan membangun kolaborasi di tengah keterbatasan.

Bank Indonesia Perwakilan Riau menyambut positif berbagai inisiatif yang dilakukan para fasilitator di lapangan.

Debi, fasilitator BI Riau, mendorong pembentukan forum komunikasi Fasda CBP Rupiah serta penyelenggaraan pertemuan rutin. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman, menyelaraskan strategi edukasi, dan memperkuat pendampingan terhadap para fasilitator.

Sementara itu, Zulkarnain dari BI Riau menyampaikan apresiasi kepada para pendidik yang telah memperluas edukasi CBP Rupiah hingga menjangkau masyarakat dan orang tua murid.

BI Riau juga mendorong pembentukan kepengurusan dan koordinator Fasda CBP Rupiah di setiap kabupaten/kota agar koordinasi dapat berlangsung lebih terstruktur dan berkesinambungan.

Penguatan kelembagaan tersebut diharapkan membantu menghubungkan program di tingkat provinsi dengan pelaksanaan di daerah, sekaligus membuka ruang pertukaran praktik baik antarfasilitator.

Program Riau Bertuah 2026 memperlihatkan bahwa pendidikan mengenai Rupiah memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar pengenalan alat pembayaran.

Cinta Rupiah dapat diwujudkan melalui sikap merawat dan memperlakukan uang secara baik. Bangga Rupiah berkaitan dengan kesadaran terhadap Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara. Sementara itu, paham Rupiah mencakup pemahaman mengenai fungsi dan peran Rupiah serta cara menggunakannya secara bijak.

Ketiga aspek tersebut perlu ditanamkan secara berimbang agar peserta didik tidak hanya mengetahui Rupiah secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkan pemahamannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangan berikutnya adalah memastikan koordinasi lintas instansi dan semangat para fasilitator diterjemahkan menjadi pelaksanaan yang konsisten di sekolah-sekolah, disertai evaluasi yang terukur.

Sebab, keberhasilan literasi tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan sosialisasi yang terlaksana. Perubahan pemahaman, sikap, dan kebiasaan peserta didik juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Melalui sinergi BGTK Provinsi Riau, Bank Indonesia Perwakilan Riau, dan para Fasda, Program Riau Bertuah diharapkan menjadi salah satu upaya berkelanjutan untuk menumbuhkan generasi yang memahami nilai Rupiah sekaligus memiliki kebanggaan terhadap identitas ekonomi nasional.

Cinta Rupiah, Bangga Rupiah, Paham Rupiah. Dari ruang kelas, kesadaran terhadap kedaulatan bangsa ditanamkan sejak dini.*(ald)