Dari Beton ke Peradaban: Menggagas Rumah Besar Kebudayaan Kuansing

Dari Beton ke Peradaban: Menggagas Rumah Besar Kebudayaan Kuansing
foto: epi martison/ist. (doc. kilasriau.com)

 

Kuansing Harus Membangun Rumah Kebudayaan, Bukan Sekadar Monumen Beton

 

KilasRiau.com - Ada penyakit yang sering menyertai pembangunan daerah: kita terlalu mudah mengukur kemajuan dari apa yang tampak.

Gedung tinggi dianggap kemajuan.

Panggung besar dianggap prestasi.

Fasad megah dianggap identitas.

Bangunan mahal dianggap warisan.

Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

Apa yang akan hidup setelah gedung itu selesai dibangun?

Pertanyaan ini layak diajukan ketika Kuantan Singingi berbicara tentang masa depan kebudayaan.

Sebab Kuansing sesungguhnya tidak kekurangan kebudayaan.

Yang mungkin kurang adalah ruang untuk kebudayaan itu tumbuh, bekerja, bereksperimen, diwariskan dan menemukan bentuk barunya.

Kita memiliki Pacu Jalur.

Memiliki seni tari.

Musik.

Randai.

Teater.

Seni rupa.

Ukir.

Pahat.

Kriya.

Tradisi lisan.

Sejarah.

Adat.

Dan berbagai pengetahuan leluhur yang hidup dalam masyarakat.

Tetapi semua itu tidak cukup jika hanya dipuji ketika festival tiba.

Kebudayaan membutuhkan rumah.

Membutuhkan sekolah.

Membutuhkan studio.

Membutuhkan museum.

Membutuhkan workshop.

Membutuhkan panggung.

Membutuhkan arsip.

Membutuhkan ruang eksperimen.

Membutuhkan generasi penerus.

Dan membutuhkan arsitektur yang memahami bahwa bangunan kebudayaan bukan sekadar benda mati.

Ia harus menjadi organisme sosial yang hidup.

 

Jangan Samakan Pembangunan Kebudayaan dengan Pembangunan Beton

Sebuah gedung dapat selesai dalam hitungan tahun.

Kebudayaan membutuhkan puluhan generasi.

Gedung dapat dihitung dalam meter persegi.

Kebudayaan tidak dapat dihitung hanya dengan ukuran fisik.

Gedung dapat diresmikan dalam satu hari.

Kebudayaan harus dirawat setiap hari.

Karena itu, kesalahan paling mendasar adalah ketika pembangunan kebudayaan diperlakukan seperti proyek konstruksi biasa.

Bangun.

Resmikan.

Foto.

Publikasikan.

Lalu selesai.

Tidak.

Kebudayaan tidak pernah selesai.

Ia terus berubah.

Terus bernegosiasi dengan zaman.

Terus mencari bentuk.

Terus membutuhkan manusia.

Maka gedung kebudayaan harus dirancang bukan hanya untuk kebutuhan hari ini, tetapi untuk memungkinkan kebudayaan berkembang selama puluhan tahun ke depan.

 

Bangunan Boleh Modern, Tetapi Jangan Kehilangan Jiwa

Kuansing tidak perlu membangun bangunan yang pura-pura kembali ke masa lalu.

Rumah adat tidak harus disalin mentah-mentah.

Ornamen lama tidak harus ditempel di setiap sudut.

Bentuk jalur tidak perlu dipaksakan menjadi bentuk gedung.

Tradisi tidak boleh diperlakukan seperti katalog desain.

Yang harus diwarisi bukan sekadar bentuk.

Yang harus diwarisi adalah cara berpikir.

Bagaimana leluhur membaca alam?

Bagaimana mereka mengatur ruang?

Bagaimana mereka menghormati tamu?

Bagaimana masyarakat berkumpul?

Bagaimana ruang sosial dibangun?

Bagaimana manusia berhubungan dengan sungai, hutan, tanah, matahari, angin dan hujan?

Bagaimana adat dan adab bekerja dalam kehidupan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi sumber inspirasi arsitektur Kuansing masa kini.

 

Leluhur Tidak Punya Teknologi Canggih, Tetapi Punya Kebijaksanaan

Ada paradoks zaman modern.

Kita memiliki komputer untuk merancang bangunan.

Memiliki simulasi digital.

Memiliki material canggih.

Memiliki teknologi struktur.

Memiliki pendingin udara.

Memiliki pencahayaan buatan.

Tetapi terkadang kita justru kehilangan kemampuan sederhana untuk membaca alam.

Leluhur mungkin tidak mengenal istilah green architecture.

Tetapi mereka memahami arah angin.

Mengenal panas matahari.

Memahami hujan.

Memilih material berdasarkan pengalaman.

Mengatur bukaan.

Mengatur ruang.

Menyesuaikan bangunan dengan lingkungan.

Artinya, apa yang hari ini kita sebut inovasi ekologis sebenarnya sebagian sudah lama hidup dalam kebijaksanaan masyarakat.

Maka modernitas tidak seharusnya berarti memutus hubungan dengan masa lalu.

Modernitas yang matang justru mampu berdialog dengan kebijaksanaan lama.

 

Arsitektur Kuansing Harus Bisa Dirasakan

Bayangkan sebuah gedung kebudayaan.

Seseorang masuk ke dalamnya.

Ia belum membaca papan nama.

Belum melihat logo.

Belum membaca sejarah bangunan.

Tetapi ia langsung merasakan:

“Ini Kuansing.”

Itulah identitas arsitektur yang sesungguhnya.

Bukan karena bangunannya dipenuhi ornamen tradisional.

Bukan karena setiap dinding diberi motif adat.

Tetapi karena keseluruhan pengalaman ruangnya berbicara tentang tempat itu.

Materialnya.

Cahayanya.

Teksturnya.

Proporsinya.

Sirkulasinya.

Hubungannya dengan ruang terbuka.

Hubungannya dengan alam.

Karya seni yang ada di dalamnya.

Suara.

Aroma material.

Cara orang berkumpul.

Cara pertunjukan berlangsung.

Semuanya menjadi satu bahasa.

Bahasa arsitektur Kuansing.

 

Akustik Bukan Pelengkap

Jika Kuansing ingin memiliki gedung kesenian yang benar-benar representatif, maka akustik tidak boleh diperlakukan sebagai urusan belakangan.

Akustik harus menjadi bagian dari desain sejak awal.

Musik tradisional harus terdengar jernih.

Dendang harus memiliki karakter.

Randai harus dapat didengar penonton.

Dialog teater tidak boleh tenggelam.

Musik harus seimbang.

Pertunjukan tari harus memperoleh dukungan tata suara yang tepat.

Pertunjukan kolosal membutuhkan sistem audio yang mampu menjangkau ribuan penonton tanpa mengorbankan kualitas.

Karena itu, arsitek dan ahli akustik harus bekerja bersama sejak awal.

Gedung pertunjukan yang cantik tetapi buruk akustiknya hanyalah kemasan tanpa suara.

Padahal kebudayaan juga hidup melalui suara.

 

Estetik, Artistik, Tetapi Tidak Menjadi Kesombongan

Gedung kebudayaan harus indah.

Tetapi keindahan bukan kesombongan.

Bangunan boleh megah, tetapi tidak boleh membuat masyarakat merasa asing.

Boleh monumental, tetapi tidak boleh kehilangan fungsi.

Boleh unik, tetapi keunikannya harus lahir dari identitas, bukan sekadar mengejar sensasi bentuk.

Boleh kontemporer, tetapi jangan tercerabut dari akar.

Boleh menggunakan teknologi terbaru, tetapi jangan sampai teknologi menghapus karakter lokal.

Arsitektur terbaik bukan yang paling keras berteriak tentang dirinya, melainkan yang membuat manusia nyaman merasakan tempatnya.

 

Adat Bukan Ornamen, Adab Bukan Dekorasi

Ada kekeliruan yang perlu dihentikan.

Kita sering menyebut bangunan sebagai bangunan budaya hanya karena ada ornamen tradisional pada fasad.

Padahal adat bukan ukiran.

Adab bukan warna.

Kearifan lokal bukan tulisan di dinding.

Adat dan adab harus diterjemahkan ke dalam cara ruang digunakan.

Bagaimana orang menerima tamu.

Bagaimana masyarakat bermusyawarah.

Bagaimana seniman bekerja.

Bagaimana anak-anak belajar.

Bagaimana orang tua dihormati.

Bagaimana ruang publik terbuka bagi masyarakat.

Bagaimana manusia berhubungan dengan alam.

Di situlah adat menjadi arsitektur.

Adat yang hanya dipajang adalah dekorasi. Adat yang hidup dalam perilaku ruang adalah kebudayaan.

 

Pacu Jalur Jangan Hanya Hidup Lima Hari

Inilah salah satu pertanyaan paling penting.

Mengapa Pacu Jalur harus menunggu kalender perlombaan untuk kembali hidup?

Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan di sungai.

Di dalamnya ada sejarah.

Ada teknologi tradisional.

Ada keterampilan.

Ada seni.

Ada musik.

Ada tari.

Ada gotong royong.

Ada ekonomi.

Ada identitas.

Ada memori kolektif.

Karena itu, Pacu Jalur seharusnya hidup sepanjang tahun.

Ketika perlombaan selesai, penelitian dimulai.

Ketika tepian sepi, museum bekerja.

Ketika penonton pulang, dokumentasi berlangsung.

Ketika jalur selesai diperlombakan, workshop kembali membuat jalur.

Ketika panggung dibongkar, sekolah seni kembali berlatih.

Pacu Jalur harus menjadi ekosistem kebudayaan, bukan sekadar kalender acara.

 

Museum Sejarah Kuansing: Jangan Biarkan Generasi Mendatang Menjadi Tamu di Tanah Sendiri

Kuansing membutuhkan museum sejarah yang representatif.

Tetapi museum bukan gudang benda lama.

Museum adalah tempat sebuah masyarakat berbicara kepada masa depannya.

Di dalamnya dapat tersimpan artefak, benda purbakala, manuskrip, foto lama, dokumentasi tokoh, sejarah kampung, sejarah adat, perkembangan masyarakat, sejarah sungai dan perjalanan Pacu Jalur.

Tetapi museum masa kini tidak cukup dengan lemari kaca.

Harus ada multimedia.

Film dokumenter.

Peta digital.

Rekonstruksi visual.

Rekaman suara.

Ruang edukasi anak.

Ruang penelitian.

Ruang diskusi.

Ruang arsip.

Sejarah harus dibuat dapat dialami, bukan hanya dibaca.

 

Pusat Sejarah Pacu Jalur

Pacu Jalur layak memiliki ruang sejarah tersendiri.

Bagaimana kayu dipilih?

Bagaimana jalur dibuat?

Siapa para pembuatnya?

Bagaimana teknik berkembang?

Apa hubungan jalur dengan masyarakat?

Bagaimana musik dan tari menyertainya?

Bagaimana Pacu Jalur berubah dari generasi ke generasi?

Semua harus terdokumentasi.

Sebab suatu hari mungkin akan datang generasi yang mengenal Pacu Jalur hanya dari video.

Jangan sampai mereka tahu siapa pemenangnya, tetapi tidak tahu mengapa Pacu Jalur begitu penting bagi identitas Kuansing.

 

Workshop Pembuatan Jalur: Sekolah yang Tidak Boleh Hilang

Workshop pembuatan jalur harus menjadi ruang hidup.

Para maestro bekerja.

Anak muda belajar.

Teknik didokumentasikan.

Material diteliti.

Eksperimen dilakukan.

Wisatawan belajar.

Sekolah berkunjung.

Di sana tradisi bukan dipajang.

Tradisi dipraktikkan.

Pengetahuan membuat jalur tidak boleh mati bersama para pengrajinnya.

Kalau pengetahuan hanya berada di kepala beberapa orang tua, maka pemerintah harus segera memikirkan mekanisme pewarisan.

Sebab kehilangan seorang maestro bukan hanya kehilangan seorang manusia.

Bisa jadi kita kehilangan satu perpustakaan hidup.

 

Sekolah Seni dan Budaya Kuansing

Kuansing juga membutuhkan sekolah atau pusat pendidikan seni dan budaya.

Tari.

Musik.

Randai.

Teater.

Film.

Seni rupa.

Pahat.

Ukir.

Kriya.

Sastra lisan.

Dokumentasi.

Pacu Jalur.

Teknologi multimedia.

Produksi pertunjukan.

Anak-anak tidak cukup diberi tahu bahwa budaya adalah warisan.

Mereka harus diberi kesempatan untuk menguasai keterampilan yang membuat warisan itu tetap hidup.

Karena tradisi tidak mati hanya karena zaman berubah.

Tradisi mati ketika tidak lagi memiliki penerus.

 

Gedung Kesenian Harus Menjadi Rumah

Gedung kesenian yang representatif membutuhkan lebih daripada sebuah panggung.

Ia membutuhkan:

ruang latihan,

ruang rias,

ruang kostum,

ruang properti,

ruang teknis,

ruang produksi,

ruang dokumentasi,

ruang komunitas,

ruang diskusi,

dan ruang penonton yang nyaman.

Gedung itu harus menjadi rumah bagi seniman.

Bukan gedung yang hanya ramai ketika ada pejabat.

Bukan gedung yang hidup ketika acara berlangsung, kemudian mati sepanjang tahun.

Kebudayaan membutuhkan ruang yang bekerja setiap hari.

 

Satu Gedung Tidak Bisa Menjawab Semua Kebutuhan

Randai membutuhkan ruang tertentu.

Teater membutuhkan ruang tertentu.

Musik membutuhkan akustik tertentu.

Tari kolosal membutuhkan panggung besar.

Pertunjukan rakyat membutuhkan ruang terbuka.

Pertunjukan malam membutuhkan tata cahaya.

Maka Kuansing perlu memikirkan jaringan ruang:

teater tertutup,

panggung terbuka,

arena pertunjukan,

ruang pertunjukan skala sedang,

panggung kolosal untuk ribuan penonton,

dan ruang pendukung produksi.

Jangan semua fungsi dipaksa masuk ke satu gedung serbaguna.

Kebudayaan terlalu kaya untuk dimasukkan ke satu kotak.

 

Studio Live Recording: Agar Suara Kuansing Tidak Hilang

Studio rekaman juga penting.

Musik tradisional dapat direkam.

Musik Pacu Jalur dapat diproduksi.

Tokoh budaya dapat diwawancarai.

Cerita rakyat dapat diarsipkan.

Podcast budaya dapat dibuat.

Film dokumenter dapat diproduksi.

Anak muda dapat belajar audio dan produksi digital.

Karena kebudayaan hari ini hidup bukan hanya di panggung.

Ia juga hidup di ruang digital.

Dokumentasi adalah cara sebuah kebudayaan memperpanjang umurnya.

 

Opening Pacu Jalur Harus Diproduksi Sepanjang Tahun

Jika ingin pembukaan Pacu Jalur menjadi pertunjukan besar, jangan menciptakannya secara mendadak.

Repertoar harus dipersiapkan sepanjang tahun.

Koreografer bekerja.

Komposer bekerja.

Sutradara bekerja.

Seniman tradisi bekerja.

Seniman kontemporer bekerja.

Penata artistik bekerja.

Penata cahaya bekerja.

Tim multimedia bekerja.

Penari berlatih.

Musisi berlatih.

Teater diproduksi.

Film dipersiapkan.

Semua membutuhkan ruang.

Kreativitas tidak lahir dari kepanikan menjelang hari H.

Ia lahir dari ekosistem.

 

Seni Kriya Harus Memiliki Masa Depan Ekonomi

Pahat.

Ukir.

Patung.

Anyaman.

Tekstil.

Kerajinan kayu.

Seni rupa.

Jangan hanya dipamerkan.

Harus diproduksi.

Dikembangkan.

Didesain ulang.

Dipromosikan.

Dipasarkan.

Dikembangkan melalui kolaborasi dengan desainer dan generasi muda.

Dekranasda pun seharusnya tidak hanya menjadi etalase.

Ia dapat menjadi pusat produksi, pembinaan, desain, fotografi produk, pemasaran dan pengembangan perajin.

Kebudayaan tidak harus miskin untuk disebut asli.

Justru ketika kebudayaan mampu memberikan penghidupan kepada pelakunya, ia memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.

 

Ruang Multimedia: Biarkan Anak Muda Menjadi Pencerita Kebudayaannya Sendiri

Generasi muda hidup dalam dunia digital.

Maka kebudayaan juga harus masuk ke sana.

Diperlukan ruang multimedia untuk:

film,

fotografi,

animasi,

podcast,

arsip digital,

virtual exhibition,

produksi konten,

dokumentasi pertunjukan,

dan pendidikan budaya.

Jangan biarkan anak muda hanya menjadi konsumen budaya dari luar.

Berikan mereka fasilitas untuk menjadi produsen cerita tentang tanahnya sendiri.

 

Dari Dekranasda sampai Museum, Semuanya Harus Terhubung

Di sinilah konsep yang lebih besar diperlukan.

Bukan satu gedung.

Bukan dua gedung.

Tetapi kawasan atau ekosistem kebudayaan Kuansing.

Sebuah jaringan ruang:

Museum Sejarah Kuansing.

Pusat Sejarah Pacu Jalur.

Workshop Pembuatan Jalur.

Sekolah Seni dan Budaya.

Gedung Kesenian.

Teater.

Panggung Terbuka.

Arena Kolosal.

Studio Live Recording.

Studio Multimedia.

Galeri Seni.

Ruang Kriya, Pahat, Patung dan Ukir.

Ruang Tari, Musik, Teater dan Film.

Ruang Dekranasda.

Ruang Arsip.

Ruang Komunitas.

Semuanya saling berhubungan.

Dari arsip menjadi pengetahuan.

Dari pengetahuan menjadi pendidikan.

Dari pendidikan menjadi keterampilan.

Dari keterampilan menjadi karya.

Dari karya menjadi pertunjukan.

Dari pertunjukan menjadi apresiasi.

Dari apresiasi menjadi kebanggaan.

Dari kebanggaan menjadi keberlanjutan.

Itulah ekosistem.

 

Pertanyaan Besarnya Bukan “Berapa Miliar?”

Kalau kelak pemerintah merencanakan pembangunan kawasan semacam ini, masyarakat jangan hanya diajak bertanya:

Berapa luas lahannya?

Berapa tinggi gedungnya?

Berapa jumlah kursinya?

Berapa besar anggarannya?

Pertanyaan yang lebih penting:

Berapa seniman yang akan bekerja?

Berapa anak yang akan belajar?

Berapa maestro yang akan mengajar?

Berapa tradisi yang akan terdokumentasi?

Berapa karya yang akan lahir?

Berapa pertunjukan yang akan diproduksi?

Berapa perajin yang akan mendapatkan manfaat?

Berapa arsip yang akan diselamatkan?

Berapa komunitas yang akan tumbuh?

Berapa generasi yang akan merasa memiliki?

Itulah ukuran pembangunan kebudayaan.

Gedung yang kosong adalah keberhasilan konstruksi, bukan keberhasilan kebudayaan.

 

Jangan Bangun Gedung yang Membuat Masyarakat Menjadi Tamu

Ini mungkin prinsip paling penting.

Gedung kebudayaan Kuansing jangan sampai terlalu megah sehingga masyarakat tempatan merasa hanya menjadi tamu.

Jangan terlalu eksklusif sehingga seniman lokal hanya dipanggil ketika dibutuhkan untuk seremoni.

Jangan terlalu formal sehingga anak-anak merasa tidak memiliki tempat.

Jangan terlalu monumental sehingga masyarakat hanya datang untuk berfoto.

Gedung itu harus mengatakan:

“Masuklah. Ini rumahmu.”

Karena pembangunan yang benar bukan membuat masyarakat kagum dari kejauhan.

Pembangunan yang benar membuat masyarakat merasa memiliki dari dalam.

 

Arsitektur yang Khas Tidak Berarti Arsitektur yang Terjebak Masa Lalu

Kuansing tidak membutuhkan replika masa lalu.

Yang dibutuhkan adalah interpretasi baru.

Arsitektur kontemporer yang mengambil inspirasi dari:

alam Kuansing,

sungai,

jalur,

rumah tradisional,

motif,

material lokal,

pola ruang masyarakat,

adat,

adab,

gotong royong,

dan sejarah.

Semua diterjemahkan dengan teknologi modern.

Maka gedung bisa:

akustiknya bagus,

estetikanya indah,

artistiknya kuat,

bentuknya unik,

fungsinya jelas,

teknologinya modern,

lingkungannya responsif,

dan sekaligus—

khas Kuansing.

Inilah tantangan arsitektur yang sesungguhnya.

Bukan membuat bangunan yang terlihat tradisional.

Tetapi membuat bangunan modern yang memiliki jiwa tradisi.

 

Jangan Bangun Monumen Kesombongan

Pada akhirnya, Kuansing harus berhati-hati terhadap satu jebakan:

monumentalisme.

Keinginan meninggalkan sesuatu yang besar secara fisik kadang membuat kita lupa bertanya apakah sesuatu itu benar-benar dibutuhkan masyarakat.

Gedung boleh besar.

Panggung boleh spektakuler.

Museum boleh modern.

Teater boleh megah.

Tetapi semuanya harus kembali kepada satu pertanyaan:

Apakah masyarakat akan hidup lebih berbudaya karena ruang itu?

Jika jawabannya tidak jelas, maka sebesar apa pun bangunannya, ia patut dipertanyakan.

Karena pembangunan kebudayaan bukan kompetisi membuat bangunan paling megah.

Ia adalah usaha membuat kehidupan kebudayaan semakin kuat.

 

Warisan Terbesar Bukan Gedung

Pemerintahan berganti.

Pejabat berganti.

Kepala dinas berganti.

Program dapat berubah.

Tetapi kebudayaan harus tetap hidup.

Karena itu, warisan terbaik sebuah pemerintahan bukan sekadar gedung yang memakai nama zamannya.

Warisan terbaik adalah ketika setelah pemerintahan berganti, gedung itu masih melahirkan:

seniman,

penari,

musisi,

perajin,

sutradara,

arsitek,

peneliti,

budayawan,

pembuat jalur,

anak-anak yang mencintai sejarah,

dan generasi baru yang berani menciptakan kebudayaan baru tanpa kehilangan akarnya.

Itulah legacy yang tidak mudah runtuh.

 

Pada Akhirnya, Kita Sedang Memilih Masa Depan

Kita bisa membangun gedung.

Atau kita bisa membangun kehidupan.

Kita bisa membangun monumen.

Atau kita bisa membangun ekosistem.

Kita bisa membangun ruang yang membuat orang kagum.

Atau kita bisa membangun ruang yang membuat orang merasa memiliki.

Pilihan itu bukan semata-mata soal arsitektur.

Ia adalah pilihan tentang cara kita memandang kebudayaan.

Apakah kebudayaan hanya pajangan?

Ataukah ia sumber pengetahuan?

Apakah Pacu Jalur hanya kalender tahunan?

Ataukah ia ekosistem budaya sepanjang tahun?

Apakah adat hanya ornamen?

Ataukah ia sumber nilai dalam kehidupan?

Apakah gedung hanya benda?

Ataukah ia ruang untuk melahirkan masa depan?

Jawabannya akan menentukan wajah Kuansing beberapa puluh tahun mendatang.

Karena itu—jangan bangun gedung yang angkuh.

Bangun gedung yang indah tetapi rendah hati.

Bangun gedung yang artistik tetapi fungsional.

Bangun gedung yang unik tetapi berakar.

Bangun gedung yang modern tetapi tidak kehilangan ingatan.

Bangun gedung dengan akustik yang baik agar suara seni terdengar jernih.

Bangun gedung dengan estetika yang kuat agar manusia merasa nyaman.

Bangun gedung dengan karakter arsitektur yang spesifik agar orang tahu: ini Kuansing.

Bangun ruang yang menghormati adat.

Bangun ruang yang mempraktikkan adab.

Bangun ruang yang bersahabat dengan alam.

Bangun ruang yang terbuka bagi masyarakat.

Dan yang paling penting:

bangun ruang yang membuat kebudayaan bekerja.

Sebab beton hanya akan menjadi beton jika tidak diisi kehidupan.

Gedung hanya akan menjadi gedung jika tidak melahirkan karya.

Museum hanya akan menjadi gudang jika tidak membuat sejarah berbicara.

Panggung hanya akan menjadi panggung jika tidak melahirkan pertunjukan.

Sekolah hanya akan menjadi bangunan jika tidak melahirkan generasi.

Dan kebudayaan hanya akan menjadi slogan jika tidak diberi ruang untuk tumbuh.

Maka ukuran keberhasilan pembangunan kebudayaan Kuansing kelak bukan ketika orang berkata:

“Betapa megah gedungnya.”

Ukuran keberhasilannya adalah ketika seorang anak Kuansing masuk ke dalamnya, melihat sejarah leluhurnya, mendengar musik daerahnya, belajar seni, menyaksikan pertunjukan, membuat karya, lalu berkata:

“Ini tanah saya. Ini budaya saya. Dan saya akan meneruskannya.”

Pada titik itulah arsitektur menemukan maknanya.

Pada titik itulah gedung menemukan jiwanya.

Dan pada titik itulah pembangunan berhenti menjadi sekadar beton—lalu berubah menjadi peradaban.*(ald)

 

source: epi martison, seniman budayawan nasional lulusan institut kesenian jakarta.