Maulid Nabi di Koto Sentajo: Jangan Hanya Ramai Bershalawat, Akhlak Rasulullah Harus Hidup dalam Kehidupan

Maulid Nabi di Koto Sentajo: Jangan Hanya Ramai Bershalawat, Akhlak Rasulullah Harus Hidup dalam Kehidupan
foto: doc. kilasriau.com

Maulid Nabi di Koto Sentajo Tak Sekadar Seremoni, Pj Kades H. Bahmada Ajak Hidupkan Akhlak Rasulullah

KOTO SENTAJO (KilasRiau.com) — Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya tidak berhenti pada lantunan shalawat, tausiyah, dan keramaian majelis. Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, peringatan kelahiran Rasulullah justru menjadi ruang untuk mengoreksi kembali kehidupan umat: tentang kejujuran yang mulai diuji, tentang amanah yang kerap dipertaruhkan, serta tentang akhlak yang seharusnya menjadi napas dalam kehidupan bermasyarakat.

Pesan itu mengemuka dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Raudhatul Jannah, Desa Koto Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, Sabtu (29/8/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung ba’da Isya tersebut dihadiri masyarakat, muslimin dan muslimat, serta menjadi momentum bagi pemerintah desa bersama masyarakat untuk memperkuat kehidupan keagamaan dan silaturahmi.

Pemerintahan Desa Koto Sentajo di bawah kepemimpinan Pj Kades Koto Sentajo, H. Bahmada, A.Md., turut menjadi bagian dari momentum keagamaan tersebut.

Peringatan Maulid kali ini mengusung tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW untuk Pribadi yang Lebih Baik dan Masyarakat yang Berkah.”

Tema itu terasa semakin penting ketika kehidupan sosial masyarakat menghadapi tantangan yang tidak sederhana.

Kemajuan teknologi membuat informasi bergerak tanpa batas. Media sosial menjadikan setiap orang dapat berbicara kepada publik dalam hitungan detik. Namun, kemudahan berbicara tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan menjaga ucapan.

Di tengah situasi tersebut, keteladanan Rasulullah SAW menjadi relevan.

Bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan.

Peringatan Maulid Nabi pada dasarnya bukan hanya tentang bagaimana umat mengingat kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Lebih jauh, Maulid merupakan momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kehidupan umat mencerminkan akhlak Rasulullah SAW?

Sebab ukuran keberhasilan sebuah masyarakat tidak semata-mata dapat dilihat dari pembangunan jalan, gedung, fasilitas publik atau kemajuan ekonomi.

Ada ukuran yang jauh lebih dalam: bagaimana masyarakat memperlakukan sesamanya.

Apakah kejujuran masih menjadi pegangan?

Apakah amanah masih ditempatkan sebagai tanggung jawab moral?

Apakah orang yang memiliki kekuasaan mampu menggunakan kewenangannya dengan adil?

Apakah yang kuat masih mau melindungi yang lemah?

Dan apakah perbedaan masih dapat dirawat dalam bingkai persaudaraan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika semangat Maulid dibawa keluar dari ruang masjid menuju kehidupan nyata.

Sebab agama tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.

Dalam kegiatan tersebut, tausiyah diisi oleh Ustadz H. Mulkan M. Sarin, Lc., MA.

Kehadiran penceramah menjadi bagian penting dalam memberikan penguatan keagamaan kepada jamaah sekaligus mengajak masyarakat menjadikan kehidupan Rasulullah SAW sebagai sumber keteladanan.

Pesan yang terkandung dalam Maulid tidak semestinya berhenti pada kecintaan secara lisan.

Kecintaan kepada Rasulullah SAW harus memiliki konsekuensi dalam kehidupan.

Menjaga ucapan merupakan bagian dari akhlak.

Menghormati orang lain merupakan bagian dari akhlak.

Menjaga silaturahmi merupakan bagian dari akhlak.

Menunaikan amanah merupakan bagian dari akhlak.

Demikian pula membantu sesama, bersikap sabar, menghindari fitnah, menjaga persaudaraan dan berani berada di pihak yang benar.

Nilai-nilai tersebut tidak pernah kehilangan relevansinya, bahkan ketika zaman berubah.

Kehadiran Pj Kades Koto Sentajo H. Bahmada, A.Md. dalam momentum tersebut juga menempatkan pemerintah desa bukan hanya sebagai pengelola administrasi pemerintahan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Desa pada hakikatnya bukan sekadar wilayah administratif.

Di dalamnya terdapat keluarga, ninik mamak, tokoh agama, pemuda, perempuan, anak-anak serta berbagai lapisan masyarakat yang hidup dalam satu lingkungan sosial.

Karena itu, pembangunan desa tidak cukup hanya berbicara tentang infrastruktur dan program pemerintahan.

Pembangunan manusia juga menjadi bagian penting.

Masjid, majelis ilmu, kegiatan keagamaan dan ruang silaturahmi masyarakat memiliki posisi strategis dalam membangun karakter sosial.

Dari ruang-ruang seperti itulah nilai kebersamaan dapat dirawat.

Namun, tantangannya adalah bagaimana nilai tersebut tidak berhenti dalam kegiatan seremonial.

Maulid boleh diperingati setiap tahun. Shalawat boleh dilantunkan dengan penuh kecintaan. Tausiyah boleh disampaikan dengan bahasa yang menggugah.

Tetapi ukuran paling nyata tetap berada setelah acara selesai.

Apa yang berubah dari diri kita?

Apa yang menjadi lebih baik?

Dan apa yang kita lakukan terhadap orang-orang di sekitar kita?

Ada ironi jika sebuah masyarakat rajin memperingati Maulid Nabi, tetapi nilai-nilai yang dibawa Rasulullah SAW justru tidak hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Masjid ramai, tetapi persaudaraan renggang.

Shalawat terdengar, tetapi lisan masih mudah menyakiti.

Tausiyah disampaikan, tetapi amanah masih diabaikan.

Ceramah tentang kejujuran terdengar, tetapi praktik kehidupan justru dipenuhi kepentingan pribadi.

Di sinilah makna Maulid perlu dikembalikan kepada substansinya.

Maulid bukan sekadar memperingati tanggal.

Maulid adalah momentum untuk memperbaiki diri.

Karena itu, peringatan di Masjid Raudhatul Jannah Koto Sentajo diharapkan tidak berakhir bersamaan dengan bubarnya jamaah.

Nilai-nilai yang disampaikan semestinya ikut pulang bersama setiap orang.

Masuk ke rumah.

Masuk ke tempat kerja.

Masuk ke lingkungan masyarakat.

Masuk ke ruang-ruang pelayanan publik.

Masuk ke cara seseorang berbicara dan mengambil keputusan.

Sebab akhlak tidak diuji ketika seseorang berada di atas mimbar.

Akhlak justru diuji ketika seseorang memiliki kesempatan untuk berbuat salah, tetapi memilih untuk tetap benar.

Panitia melalui poster kegiatan juga mengajak masyarakat memperbanyak shalawat, ilmu, silaturahmi dan amal saleh.

Keluarga, sahabat dan tetangga diajak hadir bersama dalam majelis.

Ajakan tersebut sederhana, tetapi memiliki makna sosial yang besar.

Di tengah kehidupan yang semakin individual, silaturahmi menjadi sesuatu yang perlu terus dirawat.

Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang bertemunya masyarakat.

Di sana, orang dapat saling mengenal, saling mengingatkan dan saling menguatkan.

Masyarakat yang berkah tidak lahir semata-mata karena banyaknya kegiatan keagamaan.

Keberkahan lahir ketika nilai agama menjelma menjadi karakter.

Ketika kejujuran menjadi kebiasaan.

Ketika amanah tidak sekadar menjadi slogan.

Ketika orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Ketika pemimpin memberikan contoh.

Ketika masyarakat menjaga persaudaraan.

Dan ketika ilmu yang dipelajari tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam amal.

Pada akhirnya, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Raudhatul Jannah Koto Sentajo bukan sekadar catatan kegiatan keagamaan pada akhir Agustus 2026.

Ia menjadi pengingat bahwa tantangan terbesar umat bukan hanya bagaimana mengenang Rasulullah SAW, tetapi bagaimana menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan.

Sebab Rasulullah SAW tidak membutuhkan sekadar banyaknya orang yang menyebut namanya.

Yang dibutuhkan umat adalah keteladanan yang hidup.

Maulid boleh selesai malam itu. Tetapi akhlak Rasulullah SAW semestinya tidak pernah selesai untuk dipelajari, diteladani dan diamalkan.*(ald)