TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Riuh tepian Sungai Batang Kuantan belum benar-benar reda ketika arus kendaraan justru tersendat di sejumlah ruas jalan utama Kota Teluk Kuantan, Sabtu (22/8/2026) malam.
Kemacetan terjadi setelah perhelatan Pacu Jalur Tradisional Event Nasional 2026 hari keempat di Tepian Narosa berakhir. Ribuan kendaraan yang meninggalkan kawasan arena pacu secara bersamaan membuat lalu lintas di sejumlah titik semakin padat.
Salah satu ruas yang terpantau mengalami kemacetan cukup panjang berada di Jalan Diponegoro, khususnya jalur dua yang menjadi salah satu akses penting pergerakan kendaraan di pusat Kota Teluk Kuantan.
Pantauan di lapangan, kemacetan mulai terasa sejak sore dan bertahan hingga malam. Antrean kendaraan membentang dari kawasan simpang Kafe Barak, berlanjut hingga persimpangan antara Klinik Duta dan Pasar Rakyat, bahkan kepadatan turut terasa sampai kawasan simpang Kuburan Keramat.
Kondisi tersebut membuat laju kendaraan melambat. Pada sejumlah titik, kendaraan bahkan harus bergerak perlahan karena ruang badan jalan menyempit.
Persoalan semakin rumit lantaran banyak kendaraan terparkir di kedua sisi Jalan Diponegoro.
Parkir di kiri dan kanan badan jalan membuat ruang yang semestinya digunakan untuk arus lalu lintas menjadi semakin terbatas. Ketika kendaraan dari kawasan Tepian Narosa membanjiri jalan seusai pertandingan, kapasitas jalan pun tidak mampu menampung lonjakan arus secara optimal.
Kemacetan malam itu menjadi gambaran lain dari besarnya magnet Pacu Jalur Event Nasional 2026. Ribuan orang datang ke Teluk Kuantan untuk menyaksikan pertarungan jalur di atas Batang Kuantan. Namun, membeludaknya pengunjung juga membawa konsekuensi terhadap sistem transportasi kota.
Di satu sisi, kemeriahan pacu jalur menjadi kebanggaan daerah dan daya tarik wisata yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, kepadatan lalu lintas menunjukkan bahwa geliat event berskala nasional membutuhkan pengaturan mobilitas yang tidak kalah serius.
Jalan Diponegoro malam itu seolah menjadi titik temu antara pesta rakyat dan persoalan tata kelola lalu lintas. Kendaraan yang keluar dari kawasan pusat keramaian bertemu dengan kendaraan warga, sementara sebagian badan jalan digunakan sebagai tempat parkir.
Situasi tersebut berpotensi menciptakan efek domino. Ketika satu titik tersendat, antrean kendaraan dengan cepat merambat ke persimpangan berikutnya.
Terlebih, kemacetan terjadi setelah pertandingan hari keempat Pacu Jalur di Tepian Narosa berakhir. Arus kendaraan keluar dari kawasan acara datang hampir bersamaan sehingga tekanan terhadap jaringan jalan di pusat kota meningkat.
Fenomena ini sekaligus menjadi catatan penting bagi penyelenggaraan event berikutnya.
Pacu Jalur bukan lagi sekadar pesta budaya lokal. Event tersebut telah menjadi magnet yang mendatangkan masyarakat dari berbagai daerah. Karena itu, persoalan parkir dan rekayasa lalu lintas semestinya ditempatkan sebagai bagian integral dari penyelenggaraan acara, bukan persoalan yang baru ditangani ketika kemacetan sudah terjadi.
Pengelolaan parkir, penentuan kantong parkir, pembatasan parkir di badan jalan, hingga rekayasa arus kendaraan keluar dari kawasan Tepian Narosa menjadi sejumlah hal yang perlu dievaluasi.
Sebab, kesuksesan sebuah event besar tidak hanya diukur dari meriahnya arena pertandingan, padatnya tepian sungai, atau ramainya transaksi pedagang.
Kesuksesan juga diuji ketika ribuan orang meninggalkan arena secara bersamaan—apakah mereka dapat pulang dengan lancar atau justru harus berhadapan dengan antrean panjang di jalan.
Pada Sabtu malam itu, Jalan Diponegoro memberikan jawabannya.
Pesta di Tepian Narosa boleh berakhir untuk hari keempat. Namun, kemacetan di ruas jalan utama Kota Teluk Kuantan justru menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Pacu jalur semakin besar. Maka pengelolaan kotanya pun dituntut semakin matang.*(ald)