TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Rabu pagi, 19 Agustus 2026, Tepian Narosa bukan sekadar akan menjadi tempat orang menunggu bunyi denting air yang dibelah kayuh. Di sana, sebelum jalur-jalur berpacu dan sorak penonton pecah di tepian Sungai Kuantan, sebuah cerita lama akan lebih dulu diarak ke tengah kota.
Cerita itu bernama “Maantar Marapulai”.
Sebanyak 1.161 orang dari Kecamatan Kuantan Tengah disiapkan untuk membawa prosesi adat tersebut dalam pawai pembukaan Festival Pacu Jalur Tradisional Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Bukan sekadar parade.
Bukan pula sekadar kewajiban administratif sebagai peserta nomor urut pertama.
Pawai itu dirancang sebagai sebuah panggung budaya—tempat adat, simbol, pakaian, pantun, manusia dan ingatan kolektif bertemu dalam satu arak-arakan.
Dari samping Klinik Tantan, rombongan akan bergerak menuju depan Bengkel Dewi Motor/Zona Coffee di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Kuantan Tengah. Pukul 09.00 WIB, jalanan Teluk Kuantan diperkirakan berubah menjadi lorong panjang tempat kebudayaan Kuantan Tengah berjalan dengan kaki manusia.
Di tengah rombongan itu, Camat Kuantan Tengah Eka Putra, S.Sos., M.Si., bersama istri, ditempatkan sebagai marapulai.
Simbol itu bukan tanpa makna.
Dalam tradisi masyarakat setempat, Maantar Marapulai merupakan prosesi adat mengantar pengantin pria menuju rumah pengantin perempuan. Ada arak-arakan, bawaan adat, batombo atau berbalas pantun, kemudian ramah tamah.
Kini, prosesi yang biasanya hidup di halaman rumah dan di tengah keluarga itu dibawa ke ruang publik.
Ke tengah pesta rakyat.
Ke tengah Festival Pacu Jalur.
Dan, dalam konteks KEN, ke hadapan mata orang-orang yang datang dari berbagai penjuru.
Ketika adat berjalan di atas jalan raya
Dalam naskah teknis pawai yang disiapkan Kecamatan Kuantan Tengah, susunan rombongan dibuat sedemikian rupa.
Di barisan paling depan terdapat penari payung dari UPK Narosa.
Kemudian marapulai—Camat Eka Putra bersama istri.
Di belakangnya, dua pembawa payung, Kania dan Anggun, mengiringi pasangan tersebut.
Menyusul barisan Ninik Mamak dari Lembaga Adat Desa. Setelah itu pembawa bintang, jambar, dan ondel-ondel dari TP PKK Kecamatan.
Dua pembawa koper, Yeni dan Mega, kemudian mengambil posisi dalam rombongan.
Di belakangnya mengalir barisan kepala desa, lurah, RT/RW, perangkat desa dan kelurahan. Kemudian ASN Kantor Camat, instansi vertikal, bidang kesehatan dan pendidikan, kepala sekolah, organisasi masyarakat, BPD, hingga UPK Narosa.
Semuanya bergerak dalam satu garis.
Dalam satu irama.
Dalam satu cerita.
Jumlahnya tidak sedikit: 1.161 orang.
Angka itu, jika dilihat sekilas, hanyalah angka administratif dalam sebuah surat. Tetapi ketika 1.161 manusia itu mengenakan pakaian adat dan berjalan bersama, angka tersebut berubah menjadi sebuah pemandangan.
Sebuah pernyataan.
Bahwa kebudayaan tidak selalu tinggal di museum.
Ia bisa berjalan.
Ia bisa bernyanyi.
Ia bisa menari.
Ia bahkan bisa menempuh jalan raya menuju panggung sebuah festival.
Hitam Takuluak Barembai, kuning yang menyala
Kekuatan visual pawai juga tidak dibiarkan berjalan tanpa arah.
Peserta diwajibkan mengenakan pakaian adat dengan motif Takuluak Barembai warna hitam.
Laki-laki mengenakan tanjak atau peci, songket, dan kacamata hitam.
Perempuan menggunakan jilbab berwarna kuning, juga dengan kacamata hitam.
Hitam dan kuning menjadi bahasa visual rombongan.
Di tengah keramaian, warna itu akan menjadi identitas yang mudah dikenali.
Pakaian bukan sekadar pakaian.
Dalam pawai budaya, busana adalah bagian dari narasi.
Tanjak bukan sekadar penutup kepala.
Songket bukan sekadar kain. Jilbab kuning bukan hanya warna. Semuanya menjadi bagian dari cara sebuah komunitas memperkenalkan dirinya kepada orang lain.
Sebab festival besar selalu memiliki dua wajah.
Wajah pertama adalah pertunjukan.
Wajah kedua adalah identitas.
Jika pertunjukan selesai, musik berhenti dan penonton pulang, identitaslah yang semestinya tertinggal.
Di titik itulah pawai seperti Maantar Marapulai menemukan relevansinya.
Pacu jalur bukan hanya soal siapa yang tercepat
Selama bertahun-tahun, Pacu Jalur dikenal melalui satu gambaran yang kuat: perahu panjang yang meluncur di Sungai Kuantan, puluhan anak pacu mengayuh dengan tubuh dan napas yang seolah menyatu.
Tetapi festival sebesar ini sesungguhnya memiliki ruang yang jauh lebih luas daripada perlombaan.
Ada adat.
Ada seni.
Ada musik.
Ada kuliner.
Ada pasar malam.
Ada permainan rakyat.
Ada pedagang kecil yang berharap kerumunan menjadi rezeki.
Ada tamu dari luar daerah yang datang membawa kamera.
Ada anak-anak yang melihat jalur untuk pertama kalinya.
Ada orang tua yang membawa kembali ingatan masa kecil.
Dan ada masyarakat yang mempertontonkan kepada dunia bahwa Pacu Jalur tidak lahir dari ruang kosong.
Ia tumbuh dari kebudayaan.
Karena itu, ketika Kecamatan Kuantan Tengah memilih “Maantar Marapulai”, yang diarak sesungguhnya bukan hanya seorang camat yang didandani sebagai pengantin pria.
Yang diarak adalah sebuah pesan:
bahwa sebelum orang luar mengenal jalur, mereka perlu mengenal masyarakat yang melahirkannya.
Dari rumah pengantin menuju panggung KEN
Ada sesuatu yang puitik dalam pemindahan sebuah prosesi perkawinan ke dalam festival.
Di rumah, Maantar Marapulai merupakan urusan keluarga dan kaum. Ada penghormatan kepada mempelai, ada peran ninik mamak, ada bawaan adat, ada pantun dan perjumpaan dua keluarga.
Di jalan raya, maknanya melebar.
Rombongan tidak lagi hanya disaksikan keluarga.
Ia disaksikan masyarakat.
Kamera.
Wisatawan.
Tamu daerah.
Dan publik yang datang karena Pacu Jalur.
Di situlah adat memperoleh ruang baru tanpa harus kehilangan akar.
Tradisi tidak harus selalu dibekukan agar disebut lestari.
Kadang ia justru harus dibawa berjalan.
Diperkenalkan.
Dipertontonkan.
Diceritakan ulang kepada generasi yang mungkin tidak lagi akrab dengan halaman rumah tempat prosesi itu dahulu berlangsung.
Pantun membuka jalan, payung menaungi marapulai
Naskah pawai tersebut juga memasukkan pantun sebagai bagian dari pembukaan.
Itu penting.
Sebab masyarakat Kuantan Singingi tidak hanya mewariskan adat dalam bentuk benda, tetapi juga melalui bahasa.
Pantun adalah ingatan yang memiliki irama.
Ia bisa menyampaikan penghormatan tanpa harus meninggikan suara. Bisa menyampaikan sindiran tanpa harus menuding. Bisa membuka percakapan tanpa harus mengetuk pintu.
Dalam Maantar Marapulai, pantun menjadi jembatan antara rombongan yang datang dengan tuan rumah yang menyambut.
Kini jembatan itu dibawa ke jalanan kota.
Payung dibuka.
Marapulai berjalan.
Ninik mamak mengiringi.
Jambar dibawa.
Perangkat desa dan ASN berada dalam barisan.
Satu per satu unsur masyarakat masuk ke dalam cerita.
Seperti sebuah rumah besar yang sedang bergerak.
1.161 orang dan satu pesan
Besarnya jumlah peserta sekaligus memperlihatkan bahwa pawai ini membutuhkan koordinasi yang tidak sederhana.
Ada ASN.
Ada kepala desa dan lurah.
Ada Ninik Mamak.
Ada lembaga adat.
Ada sekolah.
Ada tenaga kesehatan.
Ada PKK.
Ada BPD.
Ada UPK Narosa.
Ada unsur pendidikan dan instansi vertikal.
Mereka berasal dari ruang sosial yang berbeda, tetapi pagi itu dipertemukan dalam satu barisan.
Di sinilah pawai budaya menjadi lebih dari sekadar dekorasi.
Ia menjadi gambaran kecil tentang bagaimana sebuah kecamatan melihat dirinya sendiri.
Tidak berdiri sendiri.
Melainkan tersusun dari banyak unsur yang saling menopang.
Sebagaimana sebuah jalur tidak mungkin bergerak hanya dengan satu orang.
Ia membutuhkan puluhan pendayung, tukang tari, tukang tari di haluan, tukang onjai, dan seluruh unsur yang membuat sebuah jalur memiliki nyawa.
Begitu pula sebuah masyarakat.
Ia bergerak karena banyak tangan.
Jangan sampai adat hanya menjadi ornamen
Namun, kemeriahan sebuah festival juga menyimpan pertanyaan yang lebih serius.
Ketika adat dibawa ke panggung besar, ada tanggung jawab untuk memastikan bahwa ia tidak berhenti sebagai ornamen.
Jangan sampai Maantar Marapulai hanya menjadi pakaian hitam, jilbab kuning, payung, koper dan jambar yang bagus untuk difoto.
Di balik simbol-simbol itu terdapat pengetahuan.
Ada struktur sosial.
Ada penghormatan kepada ninik mamak.
Ada tata cara.
Ada bahasa.
Ada filosofi.
Ada hubungan antara keluarga dan kaum.
Dan ada sejarah panjang masyarakat yang mempertahankan adatnya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Festival seharusnya tidak hanya membuat tradisi terlihat.
Festival juga semestinya membuat orang mengerti.
Sebab budaya yang hanya dipandang akan mudah menjadi tontonan.
Tetapi budaya yang dipahami akan menjadi warisan.
Ketika Kuantan Tengah membuka pintu
Rabu pagi itu, Kecamatan Kuantan Tengah mendapat kehormatan sekaligus tanggung jawab sebagai peserta pawai nomor urut 1.
Rombongan akan membuka jalan.
Dan dalam simbol yang lebih luas, mereka juga seolah membuka pintu bagi seluruh rangkaian pesta Pacu Jalur 2026.
Di belakang pawai akan datang hiruk-pikuk festival.
Orang-orang akan memenuhi tepian.
Pedagang membuka lapak.
Musik mengalun.
Anak-anak berlari.
Kamera diarahkan ke sungai.
Jalur-jalur bersiap menguji kekuatan.
Dan Teluk Kuantan kembali menjadi kota yang hidup karena sebuah tradisi tua.
Tetapi sebelum semua itu, 1.161 orang akan berjalan.
Membawa Maantar Marapulai.
Membawa payung.
Membawa jambar.
Membawa pantun.
Membawa pakaian adat.
Dan yang paling penting, membawa ingatan.
Ingatan bahwa Pacu Jalur tidak semata-mata tentang menang atau kalah.
Ia tentang siapa kita.
Tentang dari mana kita berasal.
Tentang adat yang tetap ingin hidup ketika zaman bergerak semakin cepat.
Maka ketika slogan “Pacu Jalur Go International” dikumandangkan, pertanyaan terpenting bukan hanya seberapa jauh Pacu Jalur dikenal dunia.
Pertanyaannya adalah:
apa yang akan dunia kenal dari Kuantan Singingi?
Jawabannya barangkali bukan sekadar jalur yang melaju kencang di atas sungai.
Tetapi masyarakat yang masih memiliki adat untuk diarak, pantun untuk diwariskan, sungai untuk dijaga, dan cerita untuk diceritakan.
Pagi itu, sebelum jalur berpacu, Kuantan Tengah terlebih dahulu mengantarkan marapulai.
Sebuah pengantin adat.
Sebuah prosesi lama.
Dan sebuah pesan baru:
bahwa tradisi yang berani berjalan bersama zaman tidak akan mudah menjadi masa lalu.*(ald)