KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) — Sungai akhirnya memilih. Setelah berhari-hari menjadi panggung pertarungan, Tepian Lubuok Sobae, Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, menutup gelanggang dengan sebuah cerita yang tajam: Alam Cahayo Tuah Nagori dari Desa Sikakak, Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi, keluar sebagai jawara.
Mahkota itu diraih dengan jalan yang tidak biasa.
Jalur dari Sikakak tersebut terlebih dahulu menumbangkan Untung Bertuah, jalur asal Indragiri Hulu (Inhu) yang sebelumnya tampil bak pedang tajam dan sulit dihentikan.
Kemudian, ketika pintu final terbuka pada Ahad (16/8/2026), Alam Cahayo Tuah Nagori kembali berhadapan dengan jalur dari Inhu.
Kali ini Batu Hijau Tuah Negeri, dari Desa Batu Rijal Barat, Kecamatan Peranap.
Dua jalur Inhu.
Dua pertarungan.
Dan pada akhirnya, dua-duanya harus mengakui ketangguhan jalur dari Sikakak.
Alam Cahayo Tuah Nagori merobohkan benteng terakhir dan mengangkat mahkota Lubuok Sobae.
Perjalanan menuju puncak tidak dibangun dalam satu kayuhan.
Pada hari ketiga, Sabtu (15/8/2026), Untung Bertuah masih menjadi salah satu nama yang paling diperhitungkan.
Jalur asal Inhu itu datang dengan kecepatan dan reputasi.
Ia telah membuat lawan-lawan sebelumnya kehilangan pijakan.
Bahkan sejumlah jalur Kuansing harus meninggalkan lintasan setelah berhadapan dengannya.
Untung Bertuah seperti sebilah pedang yang terus mencari sasaran.
Namun kemudian datang Alam Cahayo Tuah Nagori.
Jalur dari Sikakak itu tidak menyingkir.
Tidak menunduk.
Tidak gentar oleh nama besar.
Di atas sungai, keduanya bertarung.
Dayung menghantam air.
Jalur bergerak dalam irama yang keras.
Tepian Lubuok Sobae bergemuruh.
Dan ketika pertarungan mencapai garis penentuan, Alam Cahayo Tuah Nagori berhasil memutus laju Untung Bertuah.
Pedang tajam dari Inhu akhirnya disarungkan.
Kemenangan itu bukan hanya membawa Alam Cahayo Tuah Nagori melewati satu lawan.
Ia membuka pintu menuju final.
Ahad (16/8/2026), matahari kembali menyinari Tepian Lubuok Sobae.
Namun bagi para pendukung jalur, hari itu bukan sekadar hari perlombaan.
Hari itu adalah hari penentuan.
Di satu sisi berdiri Alam Cahayo Tuah Nagori.
Di sisi lain, Batu Hijau Tuah Negeri.
Jalur dari Desa Batu Rijal Barat, Kecamatan Peranap, Inhu, itu menjadi penghalang terakhir menuju mahkota.
Jika Untung Bertuah adalah pedang yang sebelumnya harus dipatahkan, maka Batu Hijau Tuah Negeri adalah benteng terakhir yang harus diruntuhkan.
Pertemuan dua jalur itu pun menyimpan aroma pertarungan yang berbeda.
Tidak ada ruang untuk kesalahan.
Tidak ada kesempatan mengulang.
Tidak ada hari berikutnya untuk memperbaiki kekalahan.
Final hanya mengenal satu pemenang.
Ketika Dayung Menjadi Bahasa
Aba-aba dilepaskan.
Dalam sekejap, dua jalur melesat.
Puluhan anak pacu menghantam permukaan sungai dengan dayung yang bergerak serempak.
Air pecah.
Riak memanjang.
Badan jalur bergetar.
Dan suara manusia dari tepian berubah menjadi gemuruh panjang.
Batu Hijau Tuah Negeri memberikan perlawanan.
Jalur asal Peranap itu tidak datang untuk menjadi penghias final.
Mereka mengerahkan tenaga.
Menjaga irama.
Mempertahankan laju.
Namun Alam Cahayo Tuah Nagori telah tiba di final dengan pengalaman menghadapi tekanan sehari sebelumnya.
Mereka tahu bahwa final tidak bisa dimenangkan hanya dengan tenaga.
Ada irama yang harus dijaga.
Ada konsentrasi yang harus dipertahankan.
Ada kekompakan yang tidak boleh pecah walau tubuh mulai kehilangan tenaga.
Satu orang kehilangan irama, seluruh jalur dapat kehilangan jarak.
Dan anak-anak pacu Alam Cahayo Tuah Nagori mampu menjaga semuanya tetap menyatu.
Di awal perlombaan, pertarungan berlangsung sengit.
Cahayo Tuah Nagori mulai menemukan momentumnya.
Satu hentakan.
Satu irama.
Satu tarikan napas.
Jalur dari Sikakak perlahan bergerak lebih cepat.
Batu Hijau Tuah Negeri mencoba menjawab.
Namun jarak mulai berbicara.
Dan dalam pacu jalur, jarak adalah bahasa yang paling jujur.
Tidak ada narasi yang bisa mengubahnya.
Tidak ada sorakan yang bisa menyembunyikannya.
Ketika satu jalur mulai berada di depan, lawannya hanya memiliki satu pilihan: mengejar.
Alam Cahayo Tuah Nagori terus melaju.
Batu Hijau Tuah Negeri bertahan.
Tetapi garis finis semakin dekat.
Ketika Alam Cahayo Tuah Nagori berhasil mencapai garis akhir lebih dahulu, tepian Lubuok Sobae pecah.
Sorak kemenangan membumbung.
Masyarakat Sikakak mendapatkan jawaban atas seluruh penantian.Alam Cahayo Tuah Nagori menang.
Batu Hijau Tuah Negeri harus mengakui ketangguhan lawannya.
Dan pada saat itu, perjalanan panjang gelanggang menemukan ujungnya.
Mahkota menjadi milik Sikakak.
Ada ironi yang membuat perjalanan Alam Cahayo Tuah Nagori semakin menarik.
Untuk mencapai puncak, jalur tersebut harus melewati dua kekuatan dari Indragiri Hulu.
Pertama, Untung Bertuah.
Kemudian Batu Hijau Tuah Negeri.
Keduanya tumbang di tangan jalur yang sama.
Jika Untung Bertuah datang sebagai pedang tajam, Batu Hijau Tuah Negeri hadir sebagai benteng terakhir.
Dan Alam Cahayo Tuah Nagori berhasil melewati keduanya.
Dua jalur Inhu ditumbangkan. Satu mahkota akhirnya menetap di Kuantan Singingi.
Namun kemenangan ini bukan tentang mempertentangkan dua kabupaten.
Pacu jalur justru memperlihatkan bagaimana tradisi mampu mempertemukan masyarakat lintas daerah dalam satu arena.
Di sungai, mereka adalah lawan.
Di daratan, mereka tetap bersaudara.
Bagi masyarakat Desa Sikakak, kemenangan itu adalah cerita yang jauh lebih panjang daripada beberapa menit di atas sungai.
Ada latihan yang mungkin tidak terlihat.
Ada keringat yang jatuh sebelum pertandingan.
Ada anak pacu yang menahan lelah.
Ada pengurus yang bekerja tanpa banyak suara.
Ada masyarakat yang terus memberikan dukungan.
Dan ada doa yang dikirimkan dari rumah-rumah.
Ketika Alam Cahayo Tuah Nagori menembus garis akhir, semua itu seperti menemukan tempatnya.
Sikakak menjadi jawara.
Nama desa itu kini tertulis dalam sejarah Tepian Lubuok Sobae 2026.
Dari Kejutan Menjadi Sejarah
Kemenangan atas Untung Bertuah semula bisa disebut kejutan.
Tetapi kemenangan di final mengubah maknanya.
Itu bukan lagi kebetulan.
Itu adalah pembuktian.
Alam Cahayo Tuah Nagori tidak hanya mampu menumbangkan satu jalur kuat.
Ia mampu menjaga momentum hingga pertandingan terakhir.
Ia mampu menghadapi tekanan final.
Dan ia mampu kembali mengalahkan jalur dari daerah yang sama.
Dari penantang menjadi juara.
Dari kejutan menjadi sejarah.
Dari Sikakak menuju mahkota Lubuok Sobae.
Pacu jalur memiliki satu hakim yang tidak bisa ditawar: sungai.
Manusia boleh membuat prediksi.
Penonton boleh menjagokan.
Pengurus boleh menghitung peluang.
Nama besar boleh dibicarakan.
Tetapi ketika aba-aba terdengar, semua itu tinggal cerita.
Yang tersisa adalah dayung.
Kekuatan.
Strategi.
Kekompakan.
Mental.
Dan garis finis.
Di Tepian Lubuok Sobae, sungai telah memberikan putusannya.
Alam Cahayo Tuah Nagori adalah jawaranya.
Batu Hijau Tuah Negeri harus menerima kekalahan di laga puncak, tetapi perjuangannya tetap menjadi bagian dari cerita besar gelanggang.
Karena kemenangan satu jalur tidak akan pernah menjadi cerita tanpa keberanian lawannya untuk bertarung.
Ahad, 16 Agustus 2026, menjadi hari yang akan diingat masyarakat Sikakak.
Alam Cahayo Tuah Nagori menutup gelanggang dengan kemenangan.
Setelah menumbangkan Untung Bertuah, mereka kembali menghadapi jalur Inhu.
Batu Hijau Tuah Negeri pun akhirnya harus menyerah di final.
Dan mahkota Lubuok Sobae pun dibawa pulang.
Bukan oleh jalur yang paling banyak dipuji.
Bukan pula oleh jalur yang paling ramai dijagokan.
Melainkan oleh mereka yang mampu menyatukan tenaga, teknik, irama dan keberanian hingga detik terakhir.
Hari itu, Alam Cahayo Tuah Nagori tidak sekadar memenangkan perlombaan.
Ia menulis sebuah epilog yang indah di sungai: menebas pedang, meruntuhkan benteng, lalu pulang membawa mahkota.
Dan ketika sorak kemenangan perlahan reda, sungai kembali mengalir seperti biasa.
Tenang.
Panjang.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Padahal di dalam arusnya, Tepian Lubuok Sobae telah menyimpan satu cerita yang akan lama dikenang: Alam Cahayo Tuah Nagori, jawara dari Sikakak.*(ald)