KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) — Sungai di Tepian Lubuok Sobae, Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, Sabtu (15/8/2026), kembali menjadi panggung pertarungan yang menyedot perhatian.
Di atas air yang berkilau diterpa matahari, dua jalur dari dua daerah bertemu dalam sebuah duel yang bukan sekadar adu cepat. Untung Bertuah dari Kabupaten Indragiri Hulu berhadapan dengan Siganteng Ibu Kota dari Desa Sawah, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi.
Sejak awal perlombaan, tensi pertandingan sudah terasa.
Ketika aba-aba dilepaskan, kedua jalur meluncur.
Dayung puluhan anak pacu menghantam air secara serentak. Permukaan sungai pecah menjadi riak-riak panjang. Dari tepian, suara penonton bergulung seperti gelombang.
Siganteng Ibu Kota berusaha mempertahankan lajunya.
Namun Untung Bertuah datang dengan irama yang berbeda dari desa Danau Baru, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau.
Jalur asal Indragiri Hulu itu bergerak cepat, terukur dan konsisten. Setiap kayuhan seperti menyusun jarak baru dari lawannya.
Sedikit demi sedikit.
Meter demi meter.
Hingga akhirnya, pertandingan memasuki bagian yang paling menentukan.
Pancang keempat.
Di titik itu, pertarungan berubah menjadi drama.
Untung Bertuah melaju semakin kencang.
Seperti sebilah pedang yang telah terhunus, jalur dari Inhu tersebut menebas lintasan. Pancang keempat menjadi saksi ketika jarak kedua jalur semakin terbuka.
Untung Bertuah memutus laju Siganteng Ibu Kota.
Siganteng tidak menyerah.
Anak-anak pacu terus mengayuh. Napas mereka berpacu dengan waktu. Keringat bercampur dengan percikan air sungai.
Dari tepian, dukungan tidak berhenti.
“Terus! Terus!”
Suara-suara itu membumbung dari berbagai penjuru.
Namun Untung Bertuah sudah menemukan momentum.
Jarak yang semula tipis berubah menjadi semakin nyata.
Dan semakin dekat garis finis, semakin sulit bagi Siganteng Ibu Kota untuk mengejar.
Hingga akhirnya, Untung Bertuah mencapai garis akhir lebih dahulu.
Kemenangan kembali menjadi milik jalur asal Indragiri Hulu.
Kemenangan atas Siganteng Ibu Kota bukan cerita pertama Untung Bertuah di gelanggang Baserah.
Sehari sebelumnya, jalur tersebut juga berhasil mengalahkan Keramat Jubah Merah, jalur yang menjadi salah satu harapan masyarakat Kuantan Singingi.
Kini, Siganteng Ibu Kota menyusul.
Dua jalur Kuansing telah merasakan ketajaman jalur dari Inhu itu.
Untung Bertuah seolah menjelma menjadi pedang yang belum disarungkan.
Datang dari tanah tetangga, tetapi mampu menebas lintasan di tengah gelanggang Kuansing.
Namun metafora itu tidak boleh menghapus kenyataan bahwa di balik kemenangan tersebut terdapat kerja keras panjang.
Tidak ada jalur yang tiba-tiba menjadi kuat.
Di belakangnya ada latihan.
Ada strategi.
Ada kekompakan.
Ada masyarakat yang bekerja bersama.
Dan ada anak-anak muda yang menghabiskan tenaga untuk menjaga irama dayung.
Kekalahan Siganteng Ibu Kota tentu meninggalkan kecewa.
Tetapi jalur dari Desa Sawah itu telah memberikan perlawanan.
Tidak ada kata menyerah selama dayung masih menghantam air.
Anak pacu terus mengayuh meski lawan mulai menjauh.
Sebab mereka tahu, setiap kayuhan adalah amanah.
Ada nama kampung yang mereka bawa.
Ada masyarakat yang menunggu.
Ada harapan yang dititipkan.
Dan ada tradisi yang harus mereka jaga.
Karena itu, kekalahan di lintasan tidak serta-merta menjadi kekalahan dalam perjuangan.
Pacu jalur memiliki cara sendiri untuk mengajarkan keteguhan: berani bertanding, menerima hasil dan kembali bangkit.
Bagi Untung Bertuah, dua kemenangan beruntun atas jalur Kuansing menjadi catatan penting.
Jalur asal Indragiri Hulu tersebut menunjukkan bahwa persaingan pacu jalur semakin terbuka.
Tidak ada daerah yang boleh merasa paling kuat.
Tidak ada jalur yang bisa memastikan kemenangan sebelum menyentuh garis akhir.
Di sungai, semua prediksi bisa berubah.
Satu kesalahan irama dapat membuat jarak terbuka.
Satu hentakan yang tepat bisa mengubah posisi.
Dan beberapa detik bisa menentukan nasib sebuah jalur.
Itulah yang membuat pacu jalur selalu memiliki daya magis.
Ia sederhana dalam bentuk, tetapi rumit dalam pertarungan.
Tepian Lubuok Sobae kembali membuktikan dirinya sebagai panggung kebudayaan.
Masyarakat berkumpul.
Anak-anak berlari di tepian.
Suara pedagang bercampur dengan teriakan pendukung.
Dan di tengah semuanya, sungai menjadi pusat perhatian.
Di atas sungai itu, masyarakat menyaksikan sebuah warisan budaya yang terus hidup.
Pacu jalur bukan hanya perlombaan.
Ia adalah pertemuan antara tradisi dan generasi.
Antara kerja keras dan kebanggaan.
Antara kampung dan kampung.
Bahkan antara kabupaten dan kabupaten.
Untung Bertuah boleh menang.
Siganteng Ibu Kota boleh kalah.
Tetapi keduanya telah memberikan satu hal yang jauh lebih penting: pertunjukan budaya yang hidup.
Hari Sabtu, 15 Agustus 2026, akan menjadi salah satu halaman dalam perjalanan Untung Bertuah di Tepian Lubuok Sobae.
Pancang keempat telah dilewati.
Siganteng Ibu Kota telah ditinggalkan.
Garis finis telah menjadi milik jalur dari Inhu.
Namun perjalanan belum selesai.
Sebab pacu jalur tidak pernah mengenal kepastian sebelum perlombaan benar-benar berakhir.
Masih ada gelanggang.
Masih ada lawan.
Masih ada pancang yang menunggu.
Dan masih ada sungai yang akan menjadi hakim paling jujur.
Hari ini pedang dari Inhu kembali menebas.
Namun apakah ketajamannya akan terus bertahan hingga penghujung lomba di gelanggang?
Jawabannya akan ditulis oleh dayung, air dan keberanian para anak pacu.
Di Tepian Lubuok Sobae, tradisi terus bergerak.
Dan selama dayung masih mampu membelah sungai, cerita pacu jalur akan selalu menemukan bab berikutnya.*(ald)