Dulu Gemerlap Saat MTQ, Kini Gelap: Lampu Ornamen Kota Teluk Kuantan Dipertanyakan

Dulu Gemerlap Saat MTQ, Kini Gelap: Lampu Ornamen Kota Teluk Kuantan Dipertanyakan
foto: istimewa (doc. kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Gemerlap Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Riau XLIV di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, memang telah berakhir. Namun, kemeriahan yang sempat menyelimuti wajah pusat Kota Teluk Kuantan kini menyisakan pertanyaan di tengah masyarakat.

Sejumlah lampu pada ornamen dan dekorasi kota yang sebelumnya menghiasi kawasan pusat Kota Teluk Kuantan dilaporkan tidak lagi menyala sejak sekitar tiga hari setelah penutupan MTQ Riau XLIV.

Kondisi tersebut terlihat di kawasan Pasar Taluk, termasuk sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Imam Bonjol, Teluk Kuantan.

Pantauan media ini pada Senin (10/8/2026) dini hari sekitar pukul 00.07–00.08 WIB, sejumlah ornamen yang sebelumnya tampil semarak selama pelaksanaan MTQ terlihat dalam kondisi gelap. Lampu dekorasi yang menjadi bagian dari wajah kawasan tersebut tidak tampak menyala.

Padahal, selama MTQ Riau XLIV berlangsung, kawasan pusat kota menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian. Berbagai ornamen bernuansa Melayu dipasang untuk mempercantik kota sekaligus menyambut para kafilah, tamu dan pengunjung dari berbagai daerah.

Kini, setelah panggung besar MTQ ditutup, masyarakat mulai mempertanyakan keberlanjutan fasilitas tersebut.

Apakah lampu memang sengaja dimatikan? Apakah mengalami kerusakan? Atau ada persoalan lain yang menyebabkan lampu tidak lagi dinyalakan?

Pertanyaan itu dinilai wajar karena ornamen tersebut berada di ruang publik dan menjadi bagian dari wajah ibu kota Kabupaten Kuansing.

Persoalan ini sejatinya bukan hanya tentang lampu yang padam.

Di balik kondisi tersebut terdapat pertanyaan yang lebih besar mengenai bagaimana pemerintah mengelola dan merawat fasilitas publik setelah sebuah agenda besar selesai.

Sebab, mempercantik kota menjelang acara merupakan satu pekerjaan. Tetapi memastikan fasilitas yang telah dipasang tetap terawat setelah acara berakhir merupakan pekerjaan yang tidak kalah penting.

Jangan sampai wajah kota hanya dipoles ketika ada tamu dan kegiatan besar, kemudian kembali gelap setelah acara selesai.

Sejumlah warga pun mempertanyakan hal tersebut.

“Waktu MTQ kemarin malam-malam kota terlihat terang dan bagus. Setelah acara selesai, beberapa hari kemudian lampunya mati. Kami jadi bertanya, memang sengaja dimatikan atau ada kerusakan?” ujar seorang warga.

Menurutnya, apabila ornamen tersebut memang dimaksudkan sebagai bagian dari penataan wajah Kota Teluk Kuantan, semestinya keberadaannya tidak hanya berfungsi selama MTQ berlangsung.

“Kalau memang untuk memperindah kota, sayang kalau setelah acara selesai langsung gelap. Apalagi ini berada di pusat kota dan dilihat banyak orang,” katanya.

Pengunjung Ikut Bertanya
Kondisi serupa juga menjadi perhatian pengunjung yang melintas di kawasan tersebut.

Seorang pengunjung mengaku sempat melihat suasana pusat Kota Teluk Kuantan ketika MTQ Riau XLIV berlangsung. Menurutnya, ornamen dan pencahayaan membuat kawasan kota terlihat lebih hidup pada malam hari.

“Waktu ada MTQ, suasananya bagus sekali. Banyak lampu dan ornamen, jadi pusat kota kelihatan hidup. Sekarang saya lewat lagi, ternyata sebagian lampunya sudah mati,” tuturnya.

Ia berharap ornamen yang sudah dipasang tidak berakhir hanya sebagai dekorasi musiman.

“Kalau sudah dibuat, tentu harus dirawat. Jangan hanya bagus saat ada acara. Setelah acara selesai, lampunya mati dan akhirnya ornamen itu tidak maksimal,” ujarnya.

Pengunjung lainnya juga menilai pemerintah perlu menjaga konsistensi dalam menata wajah ibu kota kabupaten.

“Teluk Kuantan ini kan ibu kota kabupaten. Kalau malam, pusat kota seharusnya tetap terlihat hidup dan terang. Tidak harus semuanya menyala sepanjang malam, tetapi kalau memang ada jadwalnya, masyarakat perlu tahu,” katanya.

Jika Sengaja Dimatikan, Apa Alasannya?

Pertanyaan masyarakat sebenarnya tidak rumit.

Jika lampu tersebut memang sengaja dimatikan setelah MTQ selesai, pemerintah tinggal menjelaskan alasannya.

Apakah karena penghematan energi?

Apakah ada jadwal operasional tertentu?

Atau memang pencahayaan tersebut hanya diperuntukkan selama pelaksanaan MTQ?

Penjelasan sederhana sebenarnya dapat menghentikan berbagai spekulasi.

Namun apabila lampu tersebut mati karena kerusakan, persoalannya menjadi berbeda.

Masyarakat tentu ingin mengetahui apa yang rusak, siapa yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan, dan kapan perbaikan dilakukan.

Sebab, fasilitas publik tidak seharusnya berhenti pada tahap pemasangan.

Di sinilah pemerintah daerah perlu menunjukkan kualitas tata kelola.

Setiap fasilitas publik yang dibangun atau dipasang membutuhkan perencanaan pemeliharaan. Termasuk ornamen, lampu dekorasi, instalasi listrik dan berbagai perlengkapan pendukungnya.

Jika sebuah fasilitas hanya terlihat bagus pada saat diresmikan atau ketika ada acara, kemudian tidak terawat setelahnya, publik tentu berhak mempertanyakan efektivitas pengelolaannya.

Masyarakat tidak sedang menuntut lampu menyala tanpa batas waktu.

Mereka hanya ingin ada kejelasan mengenai pengelolaan fasilitas yang berada di ruang publik.

Seorang warga bahkan berharap pemerintah tidak alergi terhadap pertanyaan masyarakat.

“Tidak masalah kalau memang ada alasan tertentu. Mungkin penghematan listrik atau sedang diperbaiki. Tapi sebaiknya disampaikan, supaya masyarakat tahu. Jangan dibiarkan begitu saja,” ujarnya.

MTQ Riau XLIV telah memberikan momentum bagi Kuansing untuk memperkenalkan wajah daerah kepada masyarakat luas.

Berbagai ornamen budaya menghiasi kawasan perkotaan. Jalan-jalan utama tampil lebih semarak. Pusat kota menjadi bagian dari atmosfer penyelenggaraan agenda keagamaan tingkat provinsi tersebut.

Tetapi ketika kegiatan berakhir, pekerjaan pemerintah tidak otomatis selesai.

Justru setelah acara usai, publik dapat melihat apakah seluruh fasilitas yang dibangun dan dipasang benar-benar dikelola secara berkelanjutan.

Sebuah kota tidak dinilai hanya ketika sedang dihias. Kota juga dinilai dari bagaimana pemerintah merawat hiasan itu setelah perayaan selesai.

Karena itu, kondisi lampu ornamen yang padam beberapa hari setelah penutupan MTQ layak menjadi perhatian pemerintah daerah.

Bukan untuk mencari kesalahan.

Melainkan untuk memastikan bahwa pembangunan dan penataan kota tidak berhenti sebagai proyek sesaat.

Masyarakat pada dasarnya mengaku bisa memahami jika ada kendala teknis atau kebijakan tertentu mengenai pengoperasian lampu.

Yang mereka pertanyakan adalah mengapa tidak ada penjelasan yang diketahui publik.

“Kalau rusak, ya diperbaiki. Kalau memang sengaja dimatikan, jelaskan alasannya. Jangan sampai masyarakat hanya melihat hasil pembangunannya, tapi tidak tahu bagaimana pemeliharaannya,” kata seorang pengunjung.

Pernyataan itu menggambarkan keresahan sederhana yang kini muncul di tengah masyarakat.

Apalagi kawasan tersebut merupakan pusat kota yang setiap malam dilalui masyarakat, pedagang, pengunjung maupun warga dari luar daerah.

Jika memang lampu memiliki jam operasional tertentu, pemerintah dapat menyampaikannya.

Jika sedang diperbaiki, publik tentu dapat memahami.

Jika memang sengaja dimatikan karena efisiensi, masyarakat juga berhak mengetahui dasar kebijakannya.

Yang menjadi masalah bukan semata-mata lampu mati, melainkan ketika publik tidak mendapatkan penjelasan.
Setelah MTQ, Apa yang Tersisa?
MTQ Riau XLIV telah ditutup.

Kafilah telah kembali. Tamu-tamu daerah telah meninggalkan Kuansing. Aktivitas penyelenggaraan perlahan kembali normal.

Kini tinggal satu pertanyaan penting:
Apa yang tersisa dari kemeriahan itu?

Apakah ornamen-ornamen tersebut akan tetap menjadi bagian dari wajah Kota Teluk Kuantan?

Apakah fasilitasnya akan dirawat?

Apakah lampunya akan kembali menyala?

Atau perlahan dibiarkan menjadi dekorasi yang hanya dikenang sebagai bagian dari sebuah perhelatan besar?

Jawaban atas pertanyaan tersebut sepenuhnya berada di tangan pemerintah dan instansi teknis yang bertanggung jawab.

Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan kota yang indah ketika ada acara.

Mereka membutuhkan kota yang terawat, nyaman dan memiliki pengelolaan yang jelas setiap hari.

Dan pada akhirnya, lampu ornamen yang padam itu seolah menghadirkan pesan sederhana:
MTQ boleh selesai. Perayaan boleh berakhir. Tetapi tanggung jawab merawat wajah kota tidak boleh ikut padam.

Kini masyarakat menunggu penjelasan pemerintah Kabupaten Kuansing: mengapa lampu ornamen kota padam sejak beberapa hari setelah penutupan MTQ Riau XLIV?

Sebuah pertanyaan sederhana, tetapi penting untuk dijawab—terutama jika fasilitas tersebut dibangun dan ditempatkan sebagai bagian dari wajah Kota Teluk Kuantan.*(ald)