Ikhlas yang Tak Pernah Disebutkan

Ikhlas yang Tak Pernah Disebutkan
foto: aldian syahmubara/ist. (doc. kilasriau.com)

 

KilasRiau.com -- Ada kebaikan yang tidak pernah masuk berita.

Tidak ada kamera yang merekamnya. Tidak ada unggahan di media sosial. Tidak ada ucapan terima kasih yang kemudian dibagikan kepada banyak orang. Bahkan orang yang menerima kebaikan itu mungkin tidak pernah tahu siapa yang sesungguhnya menolongnya.

Namun, kebaikan itu tetap terjadi.

Diam-diam.

Di sebuah ruang yang sunyi, seseorang mungkin memilih memaafkan meski ia punya alasan untuk membalas. Seseorang mungkin membantu orang lain bangkit, lalu pergi sebelum namanya sempat disebut. Ada pula yang memberikan sesuatu yang ia miliki, padahal dirinya sendiri sedang membutuhkan.

Tidak ada panggung.

Tidak ada tepuk tangan.

Hanya ada satu saksi yang tidak pernah tidur: Allah.

Barangkali, di situlah kita perlu kembali memahami makna ikhlas.

Sebab zaman kita sedang mengalami satu kegelisahan yang aneh: banyak orang ingin berbuat baik, tetapi pada saat yang sama ingin diketahui bahwa dirinya telah berbuat baik.

Kebaikan perlahan berubah menjadi tontonan.

Sedekah difoto. Bantuan diumumkan. Kepedulian dibuat menjadi konten. Perbuatan baik membutuhkan dokumentasi agar dianggap benar-benar terjadi.

Tentu tidak semua publikasi tentang kebaikan adalah sesuatu yang salah. Ada kalanya publikasi dibutuhkan untuk transparansi, menggerakkan orang lain, atau mengajak masyarakat melakukan hal serupa.

Tetapi ada satu pertanyaan yang layak diajukan kepada diri sendiri:

Ketika tidak ada seorang pun yang melihat, apakah kita masih mau berbuat baik?

Pertanyaan sederhana itu sebenarnya cukup untuk menguji kejujuran hati.

Kita hidup di tengah zaman ketika keberadaan seseorang sering kali diukur dari seberapa banyak ia terlihat.

Jumlah pengikut menjadi ukuran. Jumlah tayangan menjadi kebanggaan. Komentar menjadi pengakuan. Bahkan kebaikan pun kadang terasa belum lengkap jika belum diketahui banyak orang.

Kita takut tidak dianggap.

Kita takut tidak diapresiasi.

Kita takut kebaikan kita dilupakan.

Padahal, bukankah salah satu makna ikhlas justru adalah ketika kita tidak sibuk memastikan siapa yang mengingat?

Orang yang benar-benar ikhlas tidak selalu membutuhkan panggung.

Ia tidak selalu merasa perlu menjelaskan bahwa dirinya baik.

Ia tidak sibuk mengingatkan orang lain tentang berapa banyak yang telah ia lakukan.

Ia tidak menghitung kebaikannya seperti pedagang menghitung keuntungan.

Sebab ia percaya bahwa apa yang luput dari ingatan manusia tidak pernah luput dari pengetahuan Allah.

Di sinilah Surah Al-Ikhlas menjadi sebuah renungan yang jauh lebih dalam daripada sekadar bacaan yang kita hafal sejak kecil.

Surah itu mengajarkan tentang Allah Yang Maha Esa, tempat bergantung, yang tidak membutuhkan siapa pun, dan tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan-Nya.

Allahu Ash-Shamad.

Allah tempat bergantung.

Kalimat itu semestinya mengubah cara kita menjalani kehidupan.

Jika kepada Allah kita menggantungkan diri, mengapa seluruh kebaikan kita masih harus bergantung pada pengakuan manusia?

Jika Allah adalah tempat kembali, mengapa kita begitu gelisah ketika manusia tidak mengenal jasa kita?

Jika Allah mengetahui isi hati, mengapa kita begitu sibuk menjelaskan diri kepada dunia?

Ada orang-orang yang sepanjang hidupnya melakukan kebaikan, tetapi namanya tidak pernah tertulis dalam sejarah.

Mereka bukan pejabat.

Bukan tokoh terkenal.

Bukan orang kaya.

Bukan pula orang yang memiliki ribuan pengikut.

Mereka mungkin hanya ibu yang setiap pagi menyiapkan makanan untuk keluarganya.

Ayah yang bekerja sampai tubuhnya letih demi memastikan anak-anaknya bisa sekolah.

Guru yang membeli perlengkapan belajar muridnya dengan uang sendiri.

Tetangga yang diam-diam mengantarkan makanan kepada keluarga yang sedang kesulitan.

Seseorang yang membayar utang orang lain tanpa pernah meminta namanya disebut.

Atau seorang sahabat yang memilih tetap mendoakan kita meski kita telah mengecewakannya.

Kebaikan-kebaikan semacam itu jarang menjadi berita.

Tetapi bukan berarti ia tidak bernilai.

Justru mungkin di situlah kemuliaan sebuah kebaikan: ia tidak membutuhkan saksi manusia.

Kita sering lupa bahwa nilai sebuah amal tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar ia terlihat.

Sebuah kebaikan yang kecil, jika lahir dari hati yang bersih, bisa jauh lebih bermakna daripada perbuatan besar yang dibungkus dengan kesombongan.

Sebab Allah tidak membutuhkan pertunjukan.

Yang dilihat bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi juga apa yang berada di baliknya.

Niat.

Hati.

Kejujuran.

Ada gejala lain yang patut kita renungkan.

Dalam kehidupan sosial, kebaikan terkadang berubah menjadi mata uang.

“Aku sudah membantu kamu.”

“Aku dulu pernah menolongmu.”

“Aku sudah berbuat banyak untukmu.”

Kalimat-kalimat itu muncul ketika hubungan mulai retak.

Kebaikan yang semestinya menjadi amal berubah menjadi tagihan.

Pertolongan yang semestinya menjadi kasih sayang berubah menjadi alat untuk mengendalikan.

Pada titik tertentu, kita perlu bertanya:

Apakah kita benar-benar menolong, atau sebenarnya sedang membeli hak untuk dihargai?

Jika setiap kebaikan harus dibayar dengan penghormatan, ucapan terima kasih, loyalitas, atau balasan, maka mungkin yang kita cari bukan lagi keikhlasan.

Kita sedang melakukan transaksi.

Padahal kebaikan yang ikhlas tidak selalu meminta kembali.

Ia selesai ketika diberikan.

Seperti hujan yang jatuh ke bumi tanpa menagih pohon agar mengucapkan terima kasih.

Seperti matahari yang memberikan cahaya tanpa bertanya siapa yang akan mengingatnya.

Ada pula bentuk ikhlas yang sering disalahpahami.

Diam.

Ketika disakiti, seseorang memilih tidak membalas.

Bukan karena ia tidak mampu.

Bukan karena ia tidak punya bukti.

Bukan pula karena ia takut.

Ia hanya memilih menyerahkan sebagian urusan kepada Allah.

Di zaman ketika setiap konflik bisa menjadi konsumsi publik, kemampuan untuk tidak membalas menjadi sesuatu yang langka.

Sedikit-sedikit diumumkan.

Sedikit-sedikit dibuka ke publik.

Sedikit-sedikit orang merasa perlu membuktikan bahwa dirinya berada di pihak yang benar.

Padahal tidak semua kebenaran harus dipertontonkan.

Ada kebenaran yang cukup diketahui Allah.

Ada luka yang tidak perlu dijadikan status.

Ada penghinaan yang tidak perlu dibalas dengan penghinaan.

Ada cerita yang lebih baik disimpan karena tidak semua orang perlu mengetahui isi kehidupan kita.

Ikhlas bukan berarti membiarkan kezaliman.

Ikhlas juga bukan berarti seseorang harus diam ketika haknya dirampas.

Keadilan tetap harus diperjuangkan.

Kebenaran tetap harus disampaikan.

Tetapi memperjuangkan kebenaran tidak harus selalu disertai kebencian.

Di situlah kedewasaan spiritual diuji.

Ada anggapan bahwa orang ikhlas adalah orang yang tidak pernah kecewa.

Tidak.

Orang ikhlas tetap bisa menangis.

Tetap bisa terluka.

Tetap bisa marah.

Tetap bisa kecewa.

Ikhlas bukan berarti hati manusia berubah menjadi batu.

Ikhlas adalah kemampuan untuk menerima kenyataan tanpa membiarkan luka menguasai seluruh hidup.

Kita mungkin kehilangan seseorang yang kita cintai.

Kita mungkin gagal mendapatkan sesuatu yang kita perjuangkan bertahun-tahun.

Kita mungkin pernah diperlakukan tidak adil.

Kita mungkin telah memberikan yang terbaik, tetapi tetap tidak dihargai.

Dan pada titik tertentu, kita harus belajar mengatakan:

“Aku sudah melakukan yang terbaik. Selebihnya aku serahkan kepada Allah.”

Kalimat itu bukan tanda menyerah.

Ia adalah bentuk penyerahan yang paling dewasa.

Karena manusia memiliki batas.

Kita bisa berusaha, tetapi tidak bisa memaksa hasil.

Kita bisa mencintai, tetapi tidak bisa memaksa seseorang membalas.

Kita bisa membantu, tetapi tidak bisa memaksa orang mengingat.

Kita bisa berbuat baik, tetapi tidak bisa mengendalikan bagaimana orang lain menilai kita.

Yang berada dalam kendali kita hanyalah niat dan tindakan.

Selebihnya milik Allah.

Mungkin sudah waktunya kita tidak terlalu sibuk menjelaskan diri.

Tidak semua orang harus tahu berapa banyak yang telah kita korbankan.

Tidak semua orang harus tahu berapa kali kita menangis.

Tidak semua orang harus tahu bahwa di balik senyum kita ada perjuangan panjang.

Tidak semua orang harus tahu bahwa pernah ada malam-malam ketika kita meminta kepada Allah sesuatu yang bahkan tidak sanggup kita ceritakan kepada manusia.

Biarkan sebagian kebaikan menjadi rahasia.

Biarkan sebagian air mata hanya diketahui sajadah.

Biarkan sebagian perjuangan hanya menjadi percakapan antara dahi dan tanah ketika kita bersujud.

Sebab ada hubungan yang tidak membutuhkan publikasi.

Hubungan antara seorang hamba dan Tuhannya.

Di sana tidak diperlukan kamera.

Tidak diperlukan komentar.

Tidak diperlukan jumlah tanda suka.

Allah tahu.

Dan pengetahuan Allah semestinya cukup.

Ada satu kenyataan yang sering kita hindari: suatu hari nanti, nama kita akan berhenti disebut.

Foto kita akan disimpan di album lama.

Tulisan kita akan tenggelam di antara jutaan tulisan lainnya.

Orang-orang yang hari ini memuji kita akan sibuk dengan kehidupan mereka sendiri.

Generasi akan berganti.

Jabatan akan berpindah.

Kekuasaan akan berakhir.

Kekayaan akan berpindah tangan.

Bahkan tubuh yang hari ini kita rawat dengan begitu bangga pun pada akhirnya akan kembali menjadi tanah.

Lalu apa yang tersisa?

Bukan jumlah orang yang mengenal kita.

Bukan seberapa sering nama kita disebut.

Bukan seberapa banyak pujian yang pernah kita terima.

Yang tersisa adalah apa yang kita bawa menghadap Allah.

Maka mungkin kita perlu belajar melakukan kebaikan yang tidak memiliki penonton.

Memaafkan tanpa mengumumkannya.

Memberi tanpa mengingat-ingatnya.

Menolong tanpa menagihnya.

Berjuang tanpa selalu menuntut penghargaan.

Dan mencintai Allah tanpa menjadikan kesalehan sebagai pertunjukan.

Sebab ada ikhlas yang tidak pernah disebutkan.

Tidak tertulis di koran.

Tidak muncul di layar.

Tidak menjadi bahan percakapan.

Tidak memperoleh tepuk tangan.

Tetapi mungkin justru itulah kebaikan yang paling dekat dengan kejujuran.

Karena ketika seluruh manusia tidak tahu, kita masih melakukannya.

Dan ketika tidak ada satu pun manusia yang bisa memberikan penghargaan, kita tetap percaya bahwa Allah melihat.

Barangkali, itulah ikhlas: ketika dunia tidak tahu apa yang kita lakukan, tetapi hati kita tenang karena tahu bahwa Allah tahu.

Pada akhirnya, kita tidak sedang hidup untuk memastikan manusia mengingat kebaikan kita.

Kita sedang belajar agar Allah menerima amal kita.

Dan jika suatu hari seluruh dunia lupa kepada kita, semoga masih ada satu catatan yang tidak pernah hilang:

bahwa pernah ada seorang manusia yang berusaha berbuat baik, diam-diam, tanpa meminta dunia menyebut namanya.*(ald)

 

 

By: Aldian Syahmubara