Pacu Jalur Jangan Diobral

Merawat Kerinduan, Menjaga Marwah Sebuah Peradaban

Merawat Kerinduan, Menjaga Marwah Sebuah Peradaban
foto: ald/ist (doc. kilasriau.com)

 

KilasRiau.com - Tidak ada kebudayaan besar yang lahir dari sesuatu yang murahan. Begitu pula tidak ada tradisi agung yang tetap dihormati apabila ia kehilangan kehormatan yang selama ini dijaga oleh masyarakatnya sendiri.

Pacu Jalur adalah buktinya.

Selama lebih dari satu abad, Pacu Jalur bukan hanya menjadi perlombaan mendayung di Sungai Kuantan. Ia menjelma sebagai simbol peradaban masyarakat Rantau Kuantan. Di dalam sebatang jalur sepanjang puluhan meter tersimpan kerja kolektif sebuah kampung; mulai dari memilih pohon terbaik di hutan, mengolahnya dengan kearifan adat, menghiasnya dengan seni, hingga menggerakkan puluhan pendayung yang menyatukan tenaga, irama, dan jiwa.

Setiap kayuhan adalah gotong royong.

Setiap hentakan dayung adalah persatuan.

Setiap kemenangan adalah kehormatan sebuah kampung.

Karena itu, dahulu Pacu Jalur tidak pernah dipandang sebagai hiburan biasa. Ia adalah pesta rakyat. Ia adalah peristiwa budaya. Ia adalah kebanggaan yang ditunggu sepanjang tahun.

Namun kini, di tengah popularitas Pacu Jalur yang semakin luas, muncul sebuah ironi yang patut direnungkan.

Mengapa gaungnya justru terasa semakin berkurang?

Mengapa euforia masyarakat tidak lagi sebesar dulu?

Mengapa sebagian orang tua mulai berkata, "Pacu kini tak lagi segagah masa lalu?"

Pertanyaan itu tidak lahir dari kebencian terhadap Pacu Jalur. Sebaliknya, ia lahir dari kecintaan yang mendalam.

Masyarakat tua Kuantan memiliki sebuah ungkapan yang sangat sederhana tetapi sarat makna.

"Lah tekuak urang dek gilo pacu je, bak barang di Tanah Abang."

Kalimat itu terdengar jenaka, tetapi sesungguhnya merupakan kritik sosial yang sangat tajam.

Barang yang terus-menerus diobral memang akan tetap laku. Orang tetap membelinya. Namun perlahan barang itu kehilangan prestise. Ia tidak lagi dipandang istimewa. Nilainya menurun bukan karena kualitasnya berubah, melainkan karena eksklusivitasnya hilang.

Di sinilah kegelisahan itu bermula.

Hari ini hampir setiap momentum besar di Kuantan Singingi dihiasi Pacu Jalur. Hari ulang tahun kecamatan, hari jadi kabupaten, festival daerah, peresmian kegiatan, hingga berbagai agenda pemerintahan menghadirkan Pacu Jalur sebagai magnet keramaian.

Niatnya tentu baik. Pemerintah ingin budaya tetap hidup. Masyarakat ingin ekonomi bergerak. Daerah ingin menarik wisatawan.

Namun pertanyaannya, apakah memperbanyak penyelenggaraan otomatis berarti memperkuat kebudayaan?

Belum tentu.

Dalam ilmu ekonomi dikenal istilah inflasi. Ketika sesuatu beredar terlalu banyak, nilainya dapat menurun. Dalam kebudayaan, gejala serupa juga bisa terjadi. Sebuah tradisi yang terlalu sering dipentaskan berisiko kehilangan rasa istimewanya.

Yang hilang bukan perlombaannya.

Yang hilang adalah kerinduan.

Padahal, kerinduan adalah bahan bakar utama sebuah tradisi.

Tempo dulu, masyarakat menghitung hari menjelang Pacu Jalur. Perantau menyesuaikan jadwal pulang kampung. Pedagang mempersiapkan dagangan. Anak-anak menghafal nama-nama jalur kebanggaan. Seluruh kampung hidup dalam penantian.

Saat itu, panggung utama hanya ada di Baserah sebagai pembuka musim budaya dan Tepian Narosa, Taluk Kuantan, sebagai puncak kejayaan Pacu Jalur. Dua gelanggang itu bukan sekadar lokasi perlombaan. Ia adalah kiblat budaya. Menjadi juara di sana berarti mengukir nama dalam sejarah.

Karena panggungnya terbatas, setiap kemenangan memiliki nilai yang tinggi.

Karena kesempatannya langka, setiap masyarakat rela menunggu.

Karena masyarakat menunggu, maka ketika Pacu Jalur datang, seluruh Kuantan benar-benar berpesta.

Hari ini suasananya mulai berbeda.

Belum selesai satu gelanggang, sudah ada gelanggang berikutnya. Belum hilang suara sorak penonton, agenda baru kembali diumumkan.

Akibatnya, masyarakat tidak lagi memiliki waktu untuk merindukan Pacu Jalur.

Sebuah tradisi yang seharusnya menjadi peristiwa budaya perlahan berubah menjadi agenda rutin.

Lebih mengkhawatirkan lagi, ketika perhatian tersedot pada banyaknya penyelenggaraan, persoalan yang jauh lebih mendasar justru sering terlupakan.

Siapa yang menjamin hutan tempat mencari kayu jalur tetap lestari?

Siapa yang memastikan Sungai Kuantan tetap bersih dan bebas dari kerusakan lingkungan?

Siapa yang menyiapkan generasi baru tukang jalur, pengukir, seniman, dan pemangku adat?

Siapa yang memastikan anak-anak memahami bahwa Pacu Jalur bukan sekadar siapa tercepat mencapai garis akhir, melainkan pelajaran tentang gotong royong, disiplin, kepemimpinan, sportivitas, dan penghormatan terhadap alam?

Pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada penyelenggaraan festival.

Festival hanyalah panggung.

Budaya hidup di belakang panggung.

Budaya hidup di hutan yang melahirkan jalur.

Budaya hidup di sungai yang menjadi arena kehidupan.

Budaya hidup di balai adat tempat musyawarah.

Budaya hidup di rumah-rumah penduduk yang bergotong royong menyiapkan konsumsi.

Budaya hidup di tangan para tetua yang mewariskan cerita kepada cucunya.

Jika semua itu hilang, maka yang tersisa hanyalah perlombaan.

Bukan lagi Pacu Jalur sebagai warisan peradaban.

Sudah saatnya arah pelestarian Pacu Jalur ditata kembali. Kalender penyelenggaraan perlu disusun dengan visi jangka panjang. Event pembinaan tetap penting, tetapi harus dibedakan dengan event puncak yang memiliki prestise tinggi. Tidak semua perlombaan harus diposisikan sebagai agenda besar. Sebuah tradisi justru memperoleh kehormatan ketika memiliki jenjang, kualitas, dan momentum yang jelas.

Pemerintah daerah juga perlu menggeser fokus dari sekadar memperbanyak festival menuju memperkuat ekosistem budaya. Melindungi hutan, menjaga Sungai Kuantan, membina tukang jalur, mendokumentasikan pengetahuan adat, melibatkan sekolah, serta mendorong riset dan diplomasi budaya akan memberi dampak yang jauh lebih panjang dibanding sekadar menambah jumlah perlombaan.

Pacu Jalur telah membuktikan dirinya mampu mengangkat nama Kuantan Singingi hingga ke panggung dunia. Namun pengakuan itu tidak boleh membuat kita terlena. Justru semakin dikenal, semakin besar tanggung jawab untuk menjaganya.

Sebab sebuah kebudayaan tidak runtuh dalam satu malam. Ia perlahan kehilangan makna ketika masyarakat mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

Pacu Jalur tidak akan punah karena kekurangan pendayung.

Pacu Jalur tidak akan hilang karena kekurangan penonton.

Pacu Jalur justru akan berada di persimpangan ketika ia kehilangan marwahnya—ketika ia lebih sering dijadikan alat memenuhi agenda daripada dijaga sebagai warisan peradaban.

Kita tentu tidak menginginkan hari itu datang.

Karena ketika masyarakat tidak lagi menunggu Pacu Jalur, tidak lagi merindukannya, tidak lagi menganggapnya sebagai peristiwa yang agung, sesungguhnya yang hilang bukan sekadar sebuah perlombaan.

Yang hilang adalah sepotong jiwa Kuantan.

Dan apabila jiwa itu benar-benar hilang, sejarah kelak mungkin masih mencatat bahwa Pacu Jalur pernah ada.

Tetapi generasi mendatang tidak lagi merasakan getaran yang membuat leluhur kita rela menjaga tradisi ini selama berabad-abad.

Marwah budaya tidak diwariskan oleh banyaknya festival.

Marwah budaya diwariskan oleh kemampuan sebuah generasi menjaga kehormatannya.

Itulah pekerjaan rumah terbesar kita hari ini.*(ald)

 

by: aldian syahmubara