Dari Sebuah Tong Sampah, Mahasiswa KUKERTA UNRI Menanam Kesadaran di Embung Muara Langsat

Dari Sebuah Tong Sampah, Mahasiswa KUKERTA UNRI Menanam Kesadaran di Embung Muara Langsat
foto: rahmat hidayat/tim KKN UNRI Muara Langsat. (doc. kilasriau.com)

 

KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) — Peradaban tidak selalu lahir dari bangunan-bangunan megah, jalan raya yang membelah kota, atau bendungan raksasa yang mengubah bentang alam. Sering kali, perubahan justru dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana: sepotong papan kayu yang mengajak manusia berpikir, dan dua tong sampah yang mengingatkan bahwa bumi bukan tempat mewariskan kerusakan kepada generasi berikutnya.

Di Dusun Kauman, Desa Muara Langsat, Kabupaten Kuantan Singingi, langkah kecil itu diwujudkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Berdampak Universitas Riau (UNRI). Mereka tidak hanya datang menjalankan kewajiban akademik, tetapi menghadirkan sebuah ikhtiar agar kawasan Embung Wisata Muara Langsat tetap menjadi ruang hidup yang bersih, indah, sekaligus mendidik.

Pada Kamis (23/7/2026) sore, mahasiswa KUKERTA Berdampak UNRI meresmikan dan menyerahkan fasilitas kebersihan berupa plang edukasi lingkungan bertuliskan "Berapa Lama Sampah Itu Terurai?" beserta dua unit tong sampah terpilah, organik dan anorganik, kepada Pemerintah Desa Muara Langsat.

Program sederhana itu lahir dari kegelisahan yang nyata.

Embung Dusun Kauman selama ini telah berkembang menjadi salah satu ruang publik yang ramai dikunjungi masyarakat. Hamparan air yang tenang, udara pedesaan yang sejuk, dan panorama alam yang masih terjaga menjadikan kawasan ini sebagai tempat favorit warga untuk bersantai, menikmati kuliner, memancing, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga.

Namun sebagaimana banyak destinasi wisata di berbagai daerah Indonesia, meningkatnya jumlah pengunjung juga membawa persoalan yang tidak pernah benar-benar selesai: sampah.

Kemasan makanan, botol plastik, gelas sekali pakai, hingga kantong belanja kerap tertinggal di tepian embung. Keindahan yang seharusnya menjadi ruang kontemplasi perlahan kehilangan pesonanya akibat rendahnya kesadaran sebagian pengunjung terhadap kebersihan lingkungan.

Alih-alih sekadar mengeluhkan keadaan, para mahasiswa memilih bekerja.

Mereka merancang sebuah media edukasi yang sederhana namun sarat makna. Pada plang kayu tersebut ditampilkan informasi visual mengenai lamanya waktu yang dibutuhkan berbagai jenis sampah untuk terurai di alam—mulai dari sekitar 20 tahun, 50 tahun, ratusan tahun, hingga ada yang nyaris tidak dapat terurai sama sekali.

Pesan itu sengaja dibuat agar setiap orang yang datang tidak hanya menikmati panorama embung, tetapi juga berhenti sejenak untuk merenungkan jejak yang mereka tinggalkan setelah pulang.

Tepat di bawah plang edukasi tersebut, mahasiswa menyediakan dua unit tong sampah terpisah untuk sampah organik dan anorganik. Kehadiran fasilitas ini diharapkan membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat, yakni memilah sampah sejak dari sumbernya sebagai langkah awal pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Yang menarik, seluruh fasilitas tersebut dibangun melalui swadaya murni mahasiswa KUKERTA Berdampak UNRI tanpa menggunakan anggaran dari pemerintah desa maupun pihak lain.

Selama kurang lebih empat hari, dimulai sejak 20 Juli 2026, mereka bergotong royong membeli material, memotong kayu, merakit rangka, mengecat, memasang papan informasi, hingga menempatkan tong sampah di lokasi yang mudah dijangkau pengunjung.

Tidak ada proyek bernilai miliaran rupiah.

Tidak ada kontraktor.

Tidak pula seremoni yang berlebihan.

Yang ada hanyalah semangat gotong royong dan keyakinan bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan.

Peresmian fasilitas tersebut dilakukan langsung oleh Sekretaris Desa Muara Langsat, Dys Oco Sinara, S.H., didampingi perangkat desa Aldi serta seluruh anggota Tim KUKERTA Berdampak Universitas Riau.

Dalam sambutannya, Dys Oco Sinara menyampaikan apresiasi atas kontribusi nyata mahasiswa yang dinilai tidak hanya meninggalkan sarana fisik, tetapi juga menghadirkan pendidikan lingkungan bagi masyarakat.

"Kami dari pihak desa mengucapkan terima kasih kepada adik-adik mahasiswa KUKERTA yang telah berinisiatif membuat plang dan tong sampah ini. Harapannya, masyarakat yang berkunjung ke embung bisa membaca plang tersebut dan teredukasi bahwa sampah itu sangat susah dan membutuhkan waktu lama untuk terurai. Edukasi visual seperti ini sangat penting bagi masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, menjaga kawasan wisata bukan semata menjadi tanggung jawab pemerintah desa. Kebersihan lingkungan hanya dapat terwujud apabila seluruh masyarakat memiliki kesadaran yang sama bahwa setiap sampah yang dibuang sembarangan akan meninggalkan dampak yang jauh lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan untuk menikmatinya.

Sementara itu, Ketua Kelompok KUKERTA Berdampak UNRI Desa Muara Langsat, Kevin Andrean, berharap fasilitas yang telah dibangun dapat dirawat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

"Kami berharap masyarakat Muara Langsat bersedia merawat dan menjaga plang serta tong sampah ini. Semoga apa yang kami tinggalkan di desa ini bisa terus memberikan manfaat yang berkelanjutan demi menjaga kebersihan dan keindahan embung bagi masyarakat luas," katanya.

Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap krisis iklim, pencemaran plastik, dan kerusakan ekosistem, langkah sederhana yang dilakukan mahasiswa KUKERTA Berdampak UNRI sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih besar daripada ukuran fisiknya.

Mereka tidak sedang membangun sekadar dua tong sampah.

Mereka sedang menanam kesadaran.

Karena sesungguhnya plastik tidak pernah berjalan sendiri menuju sungai.

Botol tidak melompat sendiri ke semak belukar.

Semua berawal dari tangan manusia.

Dan hanya tangan manusia pula yang mampu menghentikannya.

Embung Muara Langsat kini memiliki lebih dari sekadar panorama yang memanjakan mata. Ia memiliki pesan yang terus berdiri di hadapan setiap pengunjung: bahwa mencintai alam bukanlah slogan, melainkan kebiasaan yang diwujudkan melalui tindakan paling sederhana.

Barangkali, puluhan tahun dari sekarang, papan kayu itu akan lapuk dimakan hujan dan matahari. Catnya mungkin memudar, tong sampahnya mungkin berganti.

Namun jika kesadaran yang ditanam hari ini tumbuh di hati masyarakat, maka yang akan tetap hidup bukanlah kayu atau besi yang ditinggalkan mahasiswa.

Melainkan cara berpikir bahwa setiap bungkus plastik yang dibuang sembarangan sesungguhnya sedang mencuri keindahan yang seharusnya diwariskan kepada anak cucu.

Di situlah makna terdalam sebuah pengabdian.

Mahasiswa datang hanya beberapa minggu, tetapi nilai yang mereka tinggalkan diharapkan bertahan jauh melampaui masa KUKERTA. Sebab pengabdian yang sesungguhnya bukan hanya meninggalkan bangunan, melainkan meninggalkan kesadaran—kesadaran bahwa alam akan terus menjaga manusia, selama manusia terlebih dahulu belajar menjaga alam.*(ald)