KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) – Wajah ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) kembali tercoreng. Belum genap sebulan setelah berakhirnya pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-44 Provinsi Riau, tumpukan sampah kembali menggunung di sepanjang Jalan Tuanku Tambusai, Teluk Kuantan.
Pemandangan yang sempat menghilang selama persiapan hingga pelaksanaan MTQ itu kini kembali menjadi keluhan masyarakat, khususnya para pemilik toko yang setiap hari menjalankan usaha di kawasan tersebut.
Pantauan di lapangan, Jumat (17/7/2026) dini hari, memperlihatkan tumpukan sampah rumah tangga, plastik, kardus, gelas dan botol bekas, hingga sisa makanan memenuhi titik pembuangan di tepi jalan. Sebagian sampah bahkan telah meluber ke badan jalan dan menimbulkan bau tak sedap.
Para pedagang mengaku kondisi tersebut telah berlangsung sekitar sepekan. Mereka mempertanyakan pelayanan kebersihan yang dinilai menurun setelah berakhirnya agenda MTQ Provinsi Riau.
"Kami tetap membayar uang kebersihan Rp50 ribu setiap bulan. Tapi sudah hampir seminggu sampah ini tidak diangkut," ungkap salah seorang pemilik toko kepada media ini.
Menurut mereka, tidak ada persoalan saat Kabupaten Kuansing menjadi tuan rumah MTQ Provinsi Riau. Sejak Mei hingga seluruh rangkaian kegiatan MTQ selesai, kebersihan kota dinilai sangat baik.
"Mulai bulan Mei sampai MTQ selesai, Alhamdulillah kota bersih. Sampah rutin diangkut setiap hari. Tapi setelah MTQ selesai, kondisinya kembali seperti dulu. Sampah menumpuk lagi," ujar pedagang lainnya.
Pengakuan para pedagang itu memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Mereka menilai pelayanan kebersihan seharusnya menjadi pelayanan dasar yang diberikan secara berkelanjutan kepada masyarakat, bukan hanya ketika daerah menjadi sorotan karena menjadi tuan rumah kegiatan berskala provinsi.
Selain mengganggu pemandangan, tumpukan sampah juga dikhawatirkan menjadi sumber penyakit. Apalagi sebagian besar sampah merupakan limbah organik yang mudah membusuk dan mengundang lalat maupun tikus.
"Kalau dibiarkan seperti ini terus, tentu yang dirugikan masyarakat dan pelaku usaha. Bau tidak sedap, lingkungan kotor, pembeli juga kurang nyaman," kata seorang pedagang.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) segera melakukan pengangkutan sampah dan mengevaluasi sistem pengelolaan kebersihan agar kondisi serupa tidak terus berulang.
Menurut mereka, keberhasilan menjaga kebersihan kota saat MTQ membuktikan bahwa pengelolaan sampah sebenarnya dapat dilakukan secara optimal apabila mendapat perhatian yang serius.
Karena itu, masyarakat berharap standar pelayanan tersebut tetap dipertahankan meskipun agenda besar telah usai.
"Kalau saat MTQ bisa bersih, kenapa setelah MTQ selesai kembali seperti ini? Kami berharap pelayanan kepada masyarakat jangan hanya bagus saat ada acara besar," ujar salah seorang pemilik toko.
Kondisi ini juga dinilai dapat memengaruhi citra Teluk Kuantan sebagai ibu kota kabupaten. Jalan Tuanku Tambusai merupakan salah satu ruas utama yang setiap hari dilalui masyarakat maupun tamu dari luar daerah. Tumpukan sampah yang dibiarkan berhari-hari tentu menjadi pemandangan yang kurang elok dan bertolak belakang dengan upaya pemerintah membangun wajah kota yang bersih dan nyaman.
Hingga berita ini diterbitkan, media ini masih berupaya mengonfirmasi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuantan Singingi terkait penyebab kembali menumpuknya sampah di Jalan Tuanku Tambusai, termasuk alasan belum dilakukannya pengangkutan selama sekitar sepekan meski para pedagang mengaku tetap membayar iuran kebersihan setiap bulan.
Masyarakat berharap persoalan ini segera mendapat perhatian agar pelayanan kebersihan kembali berjalan normal dan wajah Kota Teluk Kuantan tetap terjaga setiap hari, bukan hanya pada saat pelaksanaan event besar.*(ald)