Mencari Sang Penjaga Kalamullah, Kisah Haru Hafiz Muda Asal Sentajo Raya yang Menyentuh Hati Bupati Siak

Mencari Sang Penjaga Kalamullah, Kisah Haru Hafiz Muda Asal Sentajo Raya yang Menyentuh Hati Bupati Siak
foto: doc. kilasriau.com

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Di tengah riuhnya bazar dan kemeriahan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-XLIV Tingkat Provinsi Riau di Teluk Kuantan, Ahad (28/6/2026), terselip sebuah kisah sederhana yang sarat makna. Kisah tentang perhatian yang lahir dari ketulusan, tentang seorang hafiz muda yang tak pernah menduga akan mendapat penghargaan dari seorang kepala daerah.

Adalah Muhammad Raziq Pratama, putra pasangan Sardi Saputra dan Misra Maryensis, warga Dusun Karak, Desa Pulau Komang, Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi. Hafiz Al-Qur'an itu menjadi sosok yang menarik perhatian rombongan Dr. Afni Z saat berkunjung ke Stand Bazar Kabupaten Siak.

Bukan karena kemewahan pakaian yang dikenakannya, bukan pula karena keramaian yang mengiringinya. Sosok Raziq justru memancarkan kesederhanaan seorang anak yang telah menambatkan hatinya pada ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Perhatian itu kemudian diwujudkan melalui bingkisan dan amplop dari Bupati Siak yang diserahkan oleh Ecy Novemirata, Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Siak.

Namun, di balik penyerahan bingkisan tersebut, tersimpan kisah yang tidak banyak diketahui.

Ecy Novemirata mengaku, setelah melihat sosok Raziq di stand bazar, ia merasa terpanggil untuk mengetahui siapa anak tersebut. Ia bahkan berusaha mencari orang yang mengenalnya agar bisa menghubungkan mereka.

"Hati kami tersentuh ketika melihat seorang hafiz muda hadir di Stand Bazar Kabupaten Siak. Kami merasa, anak-anak yang menjaga ayat-ayat Allah layak mendapatkan perhatian dan doa. Karena itulah kami berusaha mencari tahu siapa ananda Muhammad Raziq Pratama hingga akhirnya bisa menyampaikan amanah dari Ibu Bupati Siak. Semoga langkah kecil ini menjadi penyemangat bagi ananda untuk terus menjadi penjaga Al-Qur'an dan menginspirasi generasi muda lainnya," tutur Ecy Novemirata.

Kalimat itu menjadi cermin bahwa kepedulian tidak selalu lahir dari perencanaan panjang. Kadang, ia hadir begitu saja ketika hati dipertemukan dengan keikhlasan.

Bagi keluarga Raziq, perhatian tersebut bukan sekadar bingkisan. Ia adalah penghormatan bagi perjuangan seorang anak yang memilih mengisi hari-harinya dengan menghafal firman Allah.

Dengan mata yang berkaca-kaca, orang tua Raziq menyampaikan rasa syukur yang mendalam.

"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Bupati Siak, Dr. Afni Z, S.A.P., M.Si., atas perhatian dan kasih sayang kepada anak kami. Terima kasih juga kepada pak Ecy Novemirata yang telah menyampaikan amanah tersebut. Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan dengan pahala yang berlipat, memberikan kesehatan, keberkahan umur, dan kemudahan dalam setiap langkah pengabdian beliau," ungkap orang tua Raziq.

Hari itu terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan ulang tahun ke-41 Bupati Siak. Dari sudut kecil arena MTQ, keluarga sederhana dari Sentajo Raya turut mengirimkan doa terbaik.

"Selamat ulang tahun yang ke-41 kepada Ibu Bupati Siak. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, umur yang berkah, kebahagiaan, serta kekuatan dalam mengemban amanah. Semoga setiap langkah pengabdian Ibu menjadi ladang amal dan selalu diberi kemudahan dalam memimpin demi kemaslahatan masyarakat," ucap mereka.

Di arena MTQ, ribuan orang datang membawa harapan menjadi yang terbaik. Namun, ada pula yang pulang membawa kenangan yang tak bisa diukur dengan piala ataupun medali.

Sebab, kemuliaan Al-Qur'an tidak hanya tampak di atas mimbar perlombaan, tetapi juga hidup dalam kepedulian, kasih sayang, dan penghormatan kepada para penjaganya.

Di bawah langit Teluk Kuantan yang menjadi saksi perhelatan akbar syiar Islam di Bumi Lancang Kuning, kisah Muhammad Raziq Pratama mengajarkan bahwa sekecil apa pun perhatian kepada para penghafal Al-Qur'an akan menjelma menjadi cahaya yang menguatkan langkah mereka untuk terus menjaga kalamullah, hingga ayat-ayat suci itu tetap hidup dari generasi ke generasi.*(ald)