Kilasriau.com, BANDA ACEH – Provinsi Aceh, khususnya melalui infrastruktur pelabuhan di Lhokseumawe, kini memegang peranan strategis sebagai pusat distribusi (hub) energi nasional.
Wilayah ini menjadi gerbang utama lalu lintas importasi komoditas propana dan butana oleh PT Pertamina Patra Niaga guna menjamin ketahanan pasokan gas elpiji (LPG) untuk regional Sumatera Bagian Utara.
Cakupan distribusi dari hub Aceh ini melayani skala kebutuhan energi untuk area Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, hingga Kepulauan Riau.
Posisi strategis sebagai hub distribusi ini tak pelak berdampak langsung pada postur neraca perdagangan daerah. Berdasarkan data kepabeanan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Aceh, nilai devisa impor komoditas energi yang didominasi oleh negara asal Amerika Serikat (United States) ini mencatatkan angka yang tinggi.
Sepanjang tahun 2025, importasi propana dan butana menembus angka USD 528 juta (92% dari total devisa impor Provinsi Aceh). Importasi pada periode Januari hingga Mei 2026 tercatat sebesar USD 231 juta (83% dari keseluruhan nilai impor daerah).