TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Ada masa ketika sebuah daerah tidak hanya bersolek dengan lampu-lampu perayaan, tetapi juga dengan semangat warganya. Ada saat ketika langkah kaki ribuan orang bukan sekadar berjalan dalam iring-iringan, melainkan menjadi penanda bahwa sebuah masyarakat sedang merawat jati dirinya. Saat itulah kini tengah berdenyut di Kecamatan Kuantan Tengah.
Menjelang pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Ke-XLIV Tingkat Provinsi Riau Tahun 2026, geliat persiapan tampak begitu hidup. Dari ruang-ruang kantor pemerintahan hingga sudut-sudut desa, dari para guru hingga pemangku adat, dari anak-anak sekolah hingga tokoh masyarakat, semuanya bergerak dalam irama yang sama: menyambut tamu, memuliakan Al-Qur'an, dan menjaga marwah negeri.
Sabtu pagi, 13 Juni 2026, Aula Kantor Camat Kuantan Tengah menjadi saksi bagaimana tekad itu dirajut. Dalam rapat persiapan pawai MTQ yang dipimpin langsung oleh Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si, berbagai elemen masyarakat duduk bersama, menyatukan pandangan dan langkah demi menyukseskan perhelatan akbar tingkat Provinsi Riau tersebut.
Namun, yang paling mencuri perhatian bukan sekadar rapat itu sendiri. Melainkan angka yang kemudian muncul dari hasil konsolidasi.
Sebanyak 1.250 orang akan diturunkan oleh Kecamatan Kuantan Tengah untuk mengikuti pawai ta'aruf MTQ.
Sebuah jumlah yang bukan hanya menunjukkan kesiapan, tetapi juga menggambarkan besarnya semangat masyarakat untuk menjadi bagian dari sejarah.
"Kecamatan Kuantan Tengah tidak main-main dalam menyambut amanah ini. Kami telah mengonsolidasikan seluruh elemen masyarakat dan unsur pemerintahan. Sedikitnya ada 1.250 orang yang akan turun langsung ikut serta untuk menyukseskan dan memeriahkan iringan pawai ta'aruf MTQ Tingkat Provinsi Riau tahun ini," ujar Eka Putra.
Di balik angka itu, tersimpan kisah tentang gotong royong yang masih bertahan di tengah zaman yang serba individual. Ada guru yang melatih peserta didiknya, ada perangkat desa yang memastikan warganya terlibat, ada tokoh adat yang menjaga agar tradisi tetap menjadi bagian dari perayaan keagamaan.
Kuantan Tengah memilih mengusung tema "Mengantar Anyam", sebuah tradisi yang sarat makna tentang kebersamaan, ketekunan, dan warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Seolah ingin menyampaikan pesan bahwa Al-Qur'an tidak hanya dibaca, tetapi juga diterjemahkan dalam kehidupan sosial masyarakat yang saling menopang satu sama lain.
Tak heran jika Kuantan Tengah menjadi kecamatan dengan jumlah peserta terbanyak dibandingkan daerah lainnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 4.251 orang akan ambil bagian dalam pawai MTQ dari 15 kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi.
Kuantan Mudik akan menampilkan Tradisi Perahu Baganduang dengan 200 peserta. Singingi Hilir membawa tema Bintang dengan 150 peserta. Logas Tanah Darat hadir dengan Jambar sebanyak 251 peserta. Sentajo Raya mengusung Mengantar Anak Pancar dengan 300 peserta.
Benai akan memperlihatkan tradisi Turun Mandi yang melibatkan 250 orang. Pangean membawa Silat Pangean dengan 230 peserta. Singingi menampilkan Hadroh sebanyak 200 orang. Gunung Toar hadir dengan tema Batik bersama 250 peserta.
Hulu Kuantan mengangkat Maghrib Mengaji dengan 100 peserta. Pucuk Rantau menampilkan kekayaan Hasil Pertanian bersama 200 orang. Kuantan Hilir membawa nuansa Rayo Onam dengan 200 peserta. Kuantan Hilir Seberang mengusung Khatam Al-Qur'an sebanyak 200 orang.
Sementara Inuman menghadirkan Robab dengan 200 peserta, dan Cerenti tampil melalui kesenian Rebana bersama 270 orang.
Semua hadir membawa identitasnya masing-masing. Semua datang dengan cerita yang berbeda. Tetapi tujuan mereka satu: menunjukkan bahwa Kabupaten Kuantan Singingi adalah tanah yang kaya akan tradisi dan kuat dalam nilai-nilai religius.
Di tengah persiapan itu, Kuantan Tengah juga tidak berjalan sendiri.
Unsur pemerintahan kecamatan, kantor urusan agama, kepala puskesmas, lurah, kepala desa, ketua BPD, kepala sekolah dari berbagai tingkatan, hingga Datuk Penghulu dari sejumlah kenegerian dilibatkan dalam proses persiapan.
Mereka memahami bahwa MTQ bukan sekadar perlombaan membaca ayat-ayat suci. Lebih dari itu, ia adalah panggung peradaban.
Sebab di negeri Melayu, agama dan adat ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
"Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah."
Ungkapan itu seolah kembali menemukan maknanya di bumi Kuantan Singingi.
Menariknya, semarak MTQ tahun ini juga beriringan dengan denyut budaya yang telah lama menjadi kebanggaan masyarakat Kuansing, yakni Pacu Jalur Rayon II yang akan digelar di Tepian Narosa, Teluk Kuantan.
Di satu sisi, lantunan ayat-ayat suci akan menggema dari arena MTQ. Di sisi lain, gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai masyarakat akan mengiringi kayuhan para anak pacu yang membelah Sungai Kuantan.
Dua peristiwa berbeda, tetapi memiliki ruh yang sama: kebersamaan.
MTQ mengajarkan tentang keteduhan hati. Pacu Jalur mengajarkan tentang kekompakan dan perjuangan.
Keduanya lahir dari masyarakat yang sama. Tumbuh di tanah yang sama.
Dan Kuantan Tengah kini berdiri di persimpangan keduanya, mempersiapkan diri menjadi tuan rumah yang tidak hanya dikenang karena kemeriahannya, tetapi juga karena kehangatan sambutannya.
Menutup keterangannya, Camat Eka Putra mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kekompakan dan memberikan kesan terbaik kepada para tamu yang datang dari berbagai penjuru Riau.
"Ayo bersama-sama kita sukseskan dan semarakkan perhelatan MTQ Tingkat Provinsi Riau Tahun 2026 dan Pacu Jalur Rayon II. Mari kita jadikan Kuantan Tengah sebagai tuan rumah yang berkesan, aman, dan penuh prestasi," ujarnya.
Dan ketika hari itu tiba, ketika ribuan peserta mulai melangkah dalam barisan pawai, sesungguhnya yang sedang dipertontonkan bukan sekadar atraksi budaya.
Yang sedang diperlihatkan kepada dunia adalah wajah Kuantan Singingi yang sesungguhnya.
Wajah masyarakat yang masih percaya bahwa kemajuan tidak harus memutus akar tradisi.
Bahwa syiar agama dapat berjalan berdampingan dengan budaya.
Bahwa di tengah derasnya perubahan zaman, ada nilai-nilai yang tetap dijaga.
Tentang persaudaraan.
Tentang penghormatan terhadap warisan leluhur.
Dan tentang keyakinan bahwa sebuah negeri akan tetap kokoh selama masyarakatnya mampu berjalan beriringan, seperti anak pacu dalam satu jalur yang mengayuh menuju tujuan yang sama.
"Di Kuantan Tengah, MTQ bukan hanya perayaan keagamaan. Ia adalah pertemuan antara iman, budaya, dan harapan yang diarak bersama dalam langkah ribuan manusia."*(ald)