Kilasriau.com - Orang-orang biasanya pergi berwisata ke Singapura untuk berbelanja, untuk menikmati kemodernannya, atau sekedar santai di Sentosa.
Hal ini wajar, sebab Singapura dibuat memang untuk itu. Tapi bagi saya pribadi, lebih dari tiga hal itu. Saya memandang Singapura sebagai sebuah karya seni, bukan hanya kota tempat orang-orang berwisata.
Tapi tempat dimana setiap saya melewati gedung-gedung tuanya, ada keistimewaan yang saya rasakan pada gedung-gedung itu. Bukan hanya gedung tapi juga daerah-daerah lamanya. Misalnya saat saya mengelilingi Kampung Glam, yang didirikan pada zaman Sultan Husein.
Saya suka berpetualang menjelajahi daerah-daerah lamanya. Di daerah-daerah inilah banyak tersimpan monumen-monumen lama. Saya membagi Singapura kepada tiga zaman. Yang pertama zaman sebelum Inggris, kedua zaman Inggris, dan ketiga zaman setelah Inggris.
Meskipun kalau dibandingkan dengan Firenze, apalagi Roma, Singapura adalah kota yang masih muda, tapi apabila dilihat dari sudut pandang saya sebagai orang nusantara saat menjelajahinya, tentu saya tak akan pernah menganggap Singapura sebagai kota baru. Karena sangking terawatnya semua monumen lamanya.