Pacu Jalur Mendunia, MTQ Menggema: Teluk Kuantan Bersiap Jadi Lautan Budaya dan Religi

Pacu Jalur Mendunia, MTQ Menggema: Teluk Kuantan Bersiap Jadi Lautan Budaya dan Religi

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Sungai Kuantan kembali akan menjadi pusat denyut budaya masyarakat Negeri Jalur. Event Pacu Jalur Rayon II yang bersempena dengan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Provinsi Riau ke-XLIV dipastikan akan digelar pada Sabtu hingga Senin, 27–29 Juni 2026, di Tepian Narosa, Teluk Kuantan. Ahad (24/5/2026).

Perhelatan yang menggabungkan kekuatan budaya dan nilai religius tersebut diprediksi akan menjadi magnet besar bagi masyarakat Kuantan Singingi maupun pengunjung dari berbagai daerah di Provinsi Riau.

Mengusung tema dan semangat “Siang Bapacu, Malam Mangaji”, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan perlombaan jalur yang sarat gengsi dan tradisi, namun juga menjadi momentum memperkuat syiar Islam melalui pelaksanaan MTQ tingkat Provinsi Riau.

Di siang hari, riuh tepuk tangan penonton akan mengiringi derasnya kayuhan para anak pacu yang bertarung membawa marwah kampung masing-masing. Sementara ketika malam tiba, suasana akan berubah khidmat dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema dari arena MTQ.

Perpaduan dua agenda besar itu menjadi simbol kuat bahwa masyarakat Kuantan Singingi mampu menjaga keseimbangan antara adat dan agama, budaya dan spiritualitas, tradisi dan nilai-nilai religius.

Tepian Narosa sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu ikon Pacu Jalur di Teluk Kuantan. Setiap kali event digelar, kawasan tersebut selalu dipadati ribuan masyarakat yang datang untuk menyaksikan langsung jalur-jalur terbaik berpacu di atas Sungai Kuantan.

Pacu Jalur bukan sekadar olahraga tradisional. Ia adalah identitas masyarakat Kuansing yang telah hidup selama ratusan tahun. Setiap jalur membawa nama kampung, harga diri, dan kebanggaan masyarakat yang mendukungnya.

Sorak penonton di tepian, suara komando anak pacu, hentakan air sungai yang terbelah oleh kayuhan serempak, hingga atraksi para tukang tari di atas jalur selalu menghadirkan suasana yang penuh semangat dan emosional.

Tidak sedikit masyarakat yang rela datang sejak pagi hanya untuk mendapatkan posisi terbaik di tepian sungai demi menyaksikan jalur kebanggaan mereka bertanding.

Momentum Pacu Jalur Rayon II tahun ini juga terasa semakin istimewa karena beriringan dengan pelaksanaan MTQ Tingkat Provinsi Riau ke-XLIV. Kehadiran dua agenda besar tersebut diyakini akan meningkatkan kunjungan masyarakat dan menggairahkan aktivitas ekonomi warga sekitar.

Pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga sektor pariwisata lokal diperkirakan akan ikut merasakan dampak positif dari membludaknya pengunjung selama pelaksanaan kegiatan.

Poster resmi kegiatan yang telah beredar luas di tengah masyarakat turut membangkitkan antusiasme publik. Dalam poster tersebut tertulis kalimat penuh semangat: “Dari Kota Jalur Untuk Semua, Pacu Jalur Mendunia.”

Kalimat itu seolah menjadi pesan bahwa Pacu Jalur kini bukan hanya milik masyarakat Kuantan Singingi semata, melainkan telah menjadi warisan budaya yang dikenal luas dan terus diperkenalkan ke tingkat nasional bahkan internasional.

Ajakan khas masyarakat Kuansing juga turut menghiasi publikasi kegiatan tersebut: “Muo samo-samo manonton!!!”

Ajakan sederhana itu menggambarkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat dalam menyambut pesta budaya tahunan yang selalu dirindukan.

Panitia pelaksana berharap seluruh rangkaian kegiatan nantinya dapat berjalan lancar, aman, dan sukses. Dukungan masyarakat, pemerintah, tokoh adat, pemuda, hingga para pecinta budaya sangat diharapkan demi menjaga marwah Pacu Jalur sebagai kebanggaan Negeri Kuantan.

Di balik derasnya arus Sungai Kuantan, Pacu Jalur sesungguhnya menyimpan filosofi tentang persatuan, kekompakan, kerja keras, dan semangat pantang menyerah. Satu jalur tidak akan mampu melaju tanpa kekompakan seluruh anak pacu yang mengayuh secara serempak.

Nilai itulah yang hingga hari ini tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Ketika suara starter mulai terdengar dan jalur-jalur meluncur membelah sungai, masyarakat bukan hanya menyaksikan perlombaan. Mereka sedang menyaksikan sejarah, tradisi, dan jati diri yang terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.

Dan pada akhir Juni nanti, Tepian Narosa kembali akan menjadi saksi bagaimana budaya dan religi berpadu dalam satu kemeriahan besar di jantung Negeri Jalur.
 

Salam kayuah… Kayuah… kayuah… kayuah!!!*(ald)