“Menjaga Marwah Sungai”: Camat Kuantan Hilir Ajak Semua Pihak Bersatu Sukseskan Pacu Jalur Baserah 2026

“Menjaga Marwah Sungai”: Camat Kuantan Hilir Ajak Semua Pihak Bersatu Sukseskan Pacu Jalur Baserah 2026

BASERAH (KilasRiau.com) — Riak Sungai Kuantan perlahan kembali memanggil ingatan kolektif masyarakat tentang sebuah tradisi tua yang tak pernah benar-benar padam dimakan zaman. Di tepian Lubuok Sobae Basogha, denyut persiapan Pacu Jalur Event Kebudayaan Baserah Kecamatan Kuantan Hilir Tahun 2026 mulai terasa hidup. Semangat gotong royong, kebersamaan, dan kebanggaan budaya kembali dihimpun untuk menyambut perhelatan akbar yang akan berlangsung pada 13 hingga 16 Agustus 2026 mendatang.

Plt. Camat Kuantan Hilir, Rahman Candra, didampingi jajaran kepanitiaan, secara terbuka mengajak seluruh elemen masyarakat—mulai dari pelaku usaha, perusahaan, organisasi masyarakat, tokoh daerah hingga masyarakat Kuansing di perantauan—untuk bersama-sama mengambil bagian dalam menyukseskan event budaya tahunan tersebut.

Menurutnya, Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan perahu panjang yang digelar di atas aliran sungai. Lebih dari itu, Pacu Jalur adalah wajah kebudayaan, simbol marwah masyarakat Kuantan Singingi, sekaligus warisan leluhur yang hidup dari generasi ke generasi.

“Kami menghimbau kepada seluruh pelaku usaha, perusahaan, tokoh masyarakat, organisasi daerah, hingga masyarakat Kuansing di perantauan agar bersama-sama berkontribusi aktif menyukseskan Pacu Jalur Event Kebudayaan Baserah Tahun 2026. Ini bukan kegiatan milik sekelompok orang, tetapi budaya bersama yang menjadi kebanggaan daerah,” tegas Rahman Candra di Baserah, Jumat (22/5/2026).

Ajakan itu bukan tanpa alasan. Setiap kali Pacu Jalur digelar, denyut ekonomi masyarakat ikut bergerak. Pedagang kecil memenuhi tepian arena, UMKM menggantungkan harapan pada ramainya pengunjung, dan masyarakat sekitar merasakan langsung geliat ekonomi yang tumbuh dari tradisi budaya.

Rahman Candra menilai, keberhasilan event budaya bukan hanya diukur dari ramainya arena pacu, melainkan juga dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.

“Kita ingin event ini benar-benar hidup. Bukan hanya ramai di arena pacu, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi pedagang kecil, UMKM, pelaku usaha, hingga masyarakat sekitar,” ujarnya.

Di balik semarak perlombaan itu, tersimpan sejarah panjang yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat sepanjang Sungai Kuantan. Dahulu, jalur atau perahu panjang bukanlah alat hiburan. Ia merupakan alat transportasi utama masyarakat untuk mengangkut hasil bumi, menjalin hubungan antar kampung, hingga menjadi urat nadi kehidupan masyarakat tepian sungai.

Waktu kemudian mengubah fungsi jalur menjadi perlombaan rakyat yang sarat makna. Dari sana lahir nilai-nilai kebersamaan, kekompakan, sportivitas, hingga semangat gotong royong yang terus diwariskan sampai hari ini.

Baserah sendiri memiliki tempat tersendiri dalam sejarah perjalanan budaya Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi. Daerah ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang menjadi pusat tumbuh dan berkembangnya tradisi tersebut sejak masa lampau.

Karena itu, pelaksanaan Event Kebudayaan Pacu Jalur di Tepian Lubuok Sobae Basogha dinilai bukan hanya agenda hiburan tahunan, melainkan juga ruang menjaga memori sejarah dan identitas budaya masyarakat Melayu Kuansing.

“Baserah ini punya sejarah panjang terhadap lahir dan berkembangnya budaya Pacu Jalur. Jadi sudah sewajarnya seluruh masyarakat ikut menjaga dan membesarkan event budaya ini,” tambah Rahman Candra.

Pacu Jalur hari ini bukan lagi sekadar milik masyarakat tepian sungai. Ia telah tumbuh menjadi ikon budaya Kabupaten Kuantan Singingi, bahkan menjadi salah satu kebanggaan Provinsi Riau yang dikenal luas hingga ke luar daerah.

Setiap tahunnya, ribuan masyarakat memadati arena pacu. Sorak penonton menggema di sepanjang tepian, dentuman suara anak pacu memecah arus sungai, sementara deretan jalur panjang melaju membawa nama kampung dan harga diri masyarakatnya.

Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, Pacu Jalur juga menjadi benteng budaya yang memperkenalkan nilai-nilai Melayu kepada generasi muda agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya sendiri.

Karena itu, Rahman Candra berharap dukungan nyata dari seluruh perusahaan yang beroperasi di wilayah Kuantan Hilir maupun Kabupaten Kuantan Singingi secara umum, baik melalui sponsorship, bantuan fasilitas, maupun dukungan teknis lainnya.

“Kita berharap seluruh pihak bisa mengambil bagian. Pacu Jalur ini ikon budaya Kuansing, bahkan kebanggaan Provinsi Riau. Kalau bukan kita yang menjaga dan membesarkannya, siapa lagi,” pungkasnya.

Kini, ketika persiapan mulai digerakkan dan semangat kebersamaan kembali dipupuk, masyarakat Kuantan Hilir seolah tengah menunggu satu momentum besar: saat deru jalur kembali membelah Sungai Kuantan, membawa semangat budaya yang tak pernah tenggelam oleh waktu.*(ald)