Negeri Kuantan: Ketika Adat Menjadi Nafas, dan Marwah Menjadi Warisan

Negeri Kuantan: Ketika Adat Menjadi Nafas, dan Marwah Menjadi Warisan

KilasRiau.com - Di hamparan bumi Melayu yang dibelah oleh aliran Sungai Kuantan, di antara kabut pagi yang turun perlahan menyentuh tepian, di antara desir angin yang membawa aroma tanah basah selepas hujan, berdirilah sebuah negeri tua yang tak hanya kaya akan bentang alam, tetapi juga sarat dengan warisan jiwa. Negeri itu bernama Negeri Kuantan, sebuah kawasan budaya yang kini berada dalam wilayah Kabupaten Kuantan Singingi-atau yang lebih akrab disebut masyarakat dengan nama Kuansing.

Namun bagi anak cucu yang lahir dan tumbuh di tanah ini, Kuansing bukan sekadar titik koordinat di peta, bukan pula sekadar batas administratif yang ditandai oleh papan nama di pinggir jalan. Ia adalah tanah pusaka. Tanah tempat leluhur menanam nilai. Tempat sejarah berjalan beriringan dengan doa. Tempat adat tidak sekadar dikenang, tetapi dihidupi.

Di negeri ini, sungai bukan hanya aliran air.
Ia adalah kitab yang mengajarkan perjalanan.
Bukit bukan sekadar gundukan tanah.

Ia adalah saksi bisu tentang sumpah, perjuangan, dan air mata para pendahulu.

Dan kampung-kampung tua yang berdiri di sepanjang negeri bukan sekadar pemukiman.
Ia adalah ruang tempat marwah diwariskan.

Di Negeri Kuantan, orang tua dahulu tidak hanya membangun rumah, tetapi membangun peradaban. Mereka tidak sekadar menanam padi, menoreh karet, atau menyusuri sungai untuk mencari penghidupan. Mereka menanam sesuatu yang jauh lebih mahal dari harta-yakni adat, harga diri, dan kehormatan.

Karena bagi orang Kuantan, hidup tanpa adat ibarat batang kayu tanpa akar-tegak sesaat, tumbang oleh angin.

Di negeri ini, adat tidak tumbuh dari hawa nafsu manusia, tidak pula dibangun dari kesepakatan yang berubah sesuai zaman. Ia bertumpu pada sebuah falsafah yang telah menjadi urat nadi kehidupan:

“Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.”

Kalimat ini bukan sekadar petuah yang dipajang di dinding balai adat, bukan pula hiasan pidato dalam seremonial. Ia adalah cara hidup.

Ia hidup dalam langkah seorang anak ketika mencium tangan orang tuanya.
Ia hidup dalam tutur kata seorang pemuda ketika berbicara kepada yang dituakan.
Ia hidup dalam keputusan seorang pemimpin ketika memilih keadilan di atas kepentingan.
Ia hidup dalam musyawarah, dalam pernikahan, dalam pembagian pusaka, dalam penyelesaian sengketa, bahkan dalam cara seseorang menundukkan pandangan ketika berhadapan dengan yang bukan muhrim.

Di negeri ini, agama dan adat tidak saling mendahului. Keduanya berjalan beriring.
Seperti sungai dan tebing.
Seperti akar dan batang.
Seperti ruh dan jasad.

Di Negeri Kuantan, sejak dahulu orang tua-tua berkata:
“Nagori ado karano panghulu, kampuang ado karano tuo, kaum ado karano mamak.”

Artinya, negeri akan tegak karena pemimpinnya, kampung akan terjaga karena orang-orang bijaknya, dan kaum akan kuat karena mamak yang memayungi anak kemenakannya.

Bagi orang Kuantan, pemimpin bukanlah orang yang paling tinggi duduknya, bukan pula yang paling lantang suaranya. Pemimpin adalah orang yang paling dahulu memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri. Pemimpin adalah tempat berteduh ketika panas, tempat berlindung ketika hujan, tempat bertanya ketika bingung, dan tempat kembali ketika perselisihan mulai memecah persaudaraan.

Karena itulah orang Kuantan mengenal falsafah:
“Didahulu selangkah, ditinggikan sarantiang.”

Bukan berarti pemimpin harus merasa lebih mulia, tetapi karena masyarakat menitipkan amanah agar ia berjalan lebih dulu menunjukkan arah, dan berdiri sedikit lebih tinggi agar mampu melihat bahaya yang mungkin datang.

Dalam adat Negeri Kuantan, seorang pemimpin-baik penghulu, datuk, maupun Ninik Mamak-harus memahami bahwa kepemimpinan bukan warisan nama semata, melainkan warisan tanggung jawab.

Orang tua dahulu berpesan:
“Kayu godang di tongah padang, ujan paneh tompek balinduang.”

Pemimpin diibaratkan pohon besar di tengah padang. Ketika panas datang, ia memberi teduh. Ketika hujan turun, ia memberi perlindungan. Ketika angin kencang menerpa, ia tetap berdiri agar yang kecil tidak tumbang fan dilindungi.

Pemimpin tidak boleh hidup untuk dirinya sendiri. Ia harus menjadi penyangga.
Menjadi penyejuk.
Menjadi penengah.
Menjadi penjaga marwah.

Seorang Ninik Mamak tidak boleh tergesa dalam mengambil keputusan. Ia harus mendengar semua pihak, menimbang dengan hati yang jernih, dan memutuskan tanpa dipengaruhi dendam maupun kepentingan.

Orang Kuantan berkata:
“Indak tagopoh makan lado, indak tagagau mangambiak putuih.”
(Tidak terburu-buru mencicip pedas, tidak gegabah memutus perkara).

Karena keputusan yang salah dari seorang pemimpin bisa melukai satu kaum, bahkan satu negeri.

Benar tetap benar. Salah tetap salah.

Meski yang salah adalah darah daging sendiri.
Meski yang benar adalah orang yang tidak punya kuasa.

Sebab orang Kuantan percaya:
“Nan bonar ditogakkan, nan salah dibaok luruih.” (Yang benar harus ditegakkan, yang salah harus diluruskan).

Ninik Mamak bukan orang yang mudah marah, bukan pula orang yang gemar mempermalukan.

Nasihatnya lembut.
Kata-katanya menyejukkan.

Namun ketika adat diinjak, ketika marwah kaum direndahkan, ia berdiri tegak tanpa goyah.

Seperti air yang tenang, namun mampu mengikis batu.

Seorang pemimpin adat tidak hidup untuk kemewahan.
Ia hidup untuk amanah.
Yang dipikirkannya bukan isi rumahnya semata, tetapi masa depan anak kemenakan.

Pemimpin bukan orang yang mudah tersinggung.
Bukan pula yang mudah membalas.
Ia harus memiliki dada seluas padang.
Hati sedalam sungai.
Kesabaran setinggi bukit.

Karena yang datang kepadanya bukan hanya pujian, tetapi juga keluhan, air mata, bahkan kemarahan.

Di Negeri Kuantan, pemimpin harus lebih dahulu melakukan sebelum menyuruh.

Lebih dahulu berkorban sebelum meminta.
Lebih dahulu menjaga sikap sebelum menasihati.

Karena orang Kuantan percaya:
“Cermin nan dulu dibasuh, baru tampak muko urang.”
(Cermin harus bersih dahulu, barulah wajah orang lain terlihat jelas).

Di Negeri Kuantan, kepemimpinan tidak berdiri sendiri. Ia berjalan dalam satu falsafah yang kokoh:
“Tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan.”

Yakni kesatuan antara pemimpin adat, alim ulama, dan pemerintah.

Jika salah satu patah, negeri akan pincang.
Jika salah satu hilang, masyarakat akan kehilangan arah.

Karena negeri yang kuat bukan dibangun oleh satu orang besar, tetapi oleh banyak hati yang bekerja untuk tujuan yang sama.

Di Negeri Kuantan, seorang pemimpin boleh sederhana pakaiannya.
Boleh biasa rumahnya.
Boleh tak dikenal jauh ke luar negeri.
Namun satu hal yang tak boleh hilang-
marwahnya.

Karena bagi orang Kuantan, ketika seorang Ninik Mamak kehilangan marwah, bukan hanya dirinya yang jatuh.
Kaumnya ikut malu.
Kampungnya ikut tercoreng.
Dan sejarah akan mencatatnya.

Maka selama di Negeri Kuantan masih lahir pemimpin yang arif, jujur, sabar, dan berjiwa pengayom…
selama masih ada Ninik Mamak yang menjaga adat dengan hati…
selama masih ada anak kemenakan yang hormat kepada petuah…
maka negeri ini tidak hanya akan bertahan-
tetapi akan tetap bermartabat, dari generasi ke generasi.

Mereka bukan raja.
Bukan pula penguasa.
Namun ketika mereka berbicara, yang muda menunduk.
Yang sebaya mendengar.
Yang tua menghormati.

Karena yang keluar dari mulut seorang Ninik Mamak bukan sekadar kata-kata, melainkan warisan kebijaksanaan.

Mereka adalah penjaga marwah kaum.
Penentu arah anak kemenakan.
Penengah ketika perselisihan datang.
Pemadam ketika bara mulai membesar.

Mereka mengajarkan bahwa memimpin bukan tentang meninggikan suara, melainkan meninggikan hikmah.

Di tangan mereka, adat dijaga agar tidak patah.
Di pundak mereka, nama kaum dipertahankan agar tidak tercoreng.
Dan di hati mereka, masa depan generasi dititipkan.

Masyarakat Kuantan mengenal petuah:
"Anak dipangku, kemenakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan."

Sebuah kalimat yang sederhana, namun mengandung tanggung jawab sebesar langit.

Bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri.
Bahwa keluarga bukan hanya yang serumah.
Bahwa kampung adalah bagian dari kehormatan.

Jika ada satu saksi paling setia perjalanan Negeri Kuantan, maka ia adalah Sungai Kuantan.

Sungai itu telah melihat anak-anak mandi sambil tertawa.
Melihat pemuda belajar mendayung.
Melihat ibu-ibu mencuci sambil bertukar cerita.
Melihat para ninik mamak bermusyawarah di tepian.
Dan melihat generasi demi generasi datang dan pergi.

Dari sungai inilah lahir sebuah kebanggaan yang menggema hingga ke mancanegara, yakni Pacu Jalur.

Bagi orang luar, Pacu Jalur mungkin hanya perlombaan.
Namun bagi orang Kuantan, ia adalah harga diri.

Ia adalah doa yang dipahat pada kayu.
Ia adalah keringat yang disatukan dalam gotong royong.
Ia adalah simbol bahwa kemenangan tidak lahir dari satu orang, tetapi dari kesatuan langkah.

Satu jalur.
Puluhan pendayung.
Satu irama.
Satu tujuan.

Begitulah orang Kuantan memaknai kehidupan.

Di masa lalu, ketika listrik belum menerangi kampung-kampung, ketika jalan aspal belum membelah desa, ketika teknologi belum masuk ke ruang keluarga, masyarakat Negeri Kuantan telah memiliki sekolah terbaik-surau.

Di surau, anak-anak belajar mengenal Tuhan.
Belajar membaca Al-Qur’an.
Belajar menghormati orang tua.
Belajar duduk lebih rendah dari yang dituakan.
Belajar berbicara dengan adab.
Belajar silat, bukan untuk mencari lawan, tetapi untuk menjaga diri dan menjaga kehormatan.

Di sanalah lahir generasi yang mungkin tak bergelar tinggi, tetapi kaya budi.
Yang mungkin tak dikenal dunia, tetapi dikenal langit.

Di negeri ini, konflik tidak selalu berakhir di meja pengadilan.
Ia sering selesai di tikar pandan.
Di bawah cahaya lampu.
Ditemani kopi pahit.
Dan kata-kata yang disusun dengan hati.

Karena orang Kuantan percaya:
“Bulek aiar dek pambuluah, bulek kato dek mufakat.”
(Bahwa keputusan yang baik lahir dari kebersamaan).

Bahwa kebenaran bukan tentang siapa paling keras, tetapi siapa paling jernih.
Bahwa menang bukan berarti menjatuhkan.
Dan kalah bukan berarti kehilangan harga diri.

Kini zaman telah berubah.
Anak-anak mulai mengenal layar sebelum mengenal sawah.
Lebih cepat mengenal dunia daripada mengenal sejarah kampungnya sendiri.
Teknologi datang membawa kemudahan.
Namun juga membawa ancaman lupa.
Lupa asal.
Lupa akar.
Lupa siapa dirinya.

Tetapi selama di Negeri Kuantan masih ada surau yang adzan nya menggema…
Selama masih ada Ninik Mamak yang menasehati dengan kelembutan…
Selama masih ada pemuda yang bangga mendayung jalur…
Selama masih ada anak yang diajarkan mencium tangan orang tua…
Maka adat negeri ini tidak akan mati.

Karena adat bukan benda.
Ia bukan pakaian.
Bukan rumah.
Bukan upacara.
Adat adalah jiwa.

Dan selama jiwa orang Kuantan masih hidup-maka Negeri Kuantan akan tetap berdiri…,
bukan hanya sebagai wilayah,
tetapi sebagai peradaban.*(ald)