TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Kondisi memprihatinkan terlihat di salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi. Akses utama menuju Pasar Tradisional Berbasis Modern Kuantan Singingi yang setiap hari dilalui pedagang, pembeli, hingga kendaraan pengangkut barang, hingga kini masih dipenuhi kubangan air, lumpur, dan permukaan jalan yang rusak.
Kondisi tersebut akhirnya mendapat perhatian serius dari kalangan legislatif. Anggota DPRD Kuantan Singingi, Dian Septina, bersama rekan sejawatnya, Ike Krisnawati, turun langsung ke lapangan (turlap) untuk melihat kondisi riil jalan di depan pasar tersebut, Ahad (17/5/2026).
Dian menyusuri titik-titik jalan yang dipenuhi genangan, kedua legislator perempuan itu menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat harus ekstra hati-hati saat melintas. Tidak sedikit pengendara roda dua harus memperlambat laju kendaraan, sementara mobil pengangkut barang pun tampak kesulitan melewati jalur yang menjadi akses vital menuju pasar.
Di sela peninjauan, Dian Septina secara tegas menyoroti ironi yang terjadi di kawasan yang menjadi denyut ekonomi rakyat tersebut. Menurutnya, setiap hari aktivitas parkir berjalan, kendaraan keluar masuk, dan retribusi parkir yang dibayarkan masyarakat masuk sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun di sisi lain, akses utama yang digunakan masyarakat justru belum juga mendapatkan perhatian maksimal.
“Saat rakyat bayar parkir, mengapa jalan ke pasar masih berkubang?” ujar Dian, mempertanyakan kondisi yang menurutnya tidak sejalan dengan semangat pelayanan publik.
Ia menegaskan bahwa setiap rupiah yang berasal dari masyarakat semestinya kembali dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama dalam bentuk pembangunan fasilitas dasar yang menunjang aktivitas ekonomi.
“Parkir ini dibayar oleh rakyat, kemudian menjadi PAD daerah. Artinya ada kontribusi nyata dari masyarakat untuk daerah. Maka sudah sepantasnya hasil itu juga kembali kepada rakyat dalam bentuk pembangunan dan fasilitas yang layak,” tegasnya.
Menurut Dian, jalan di depan pasar tersebut bukan sekadar akses biasa, melainkan urat nadi aktivitas ekonomi masyarakat. Setiap hari, jalur itu digunakan pedagang untuk membawa barang dagangan, pembeli untuk memenuhi kebutuhan, hingga kendaraan distribusi yang menopang roda perekonomian lokal.
Karena itu, ia mempertanyakan prioritas pembangunan infrastruktur daerah apabila akses menuju pusat perdagangan rakyat masih dibiarkan dalam kondisi memprihatinkan.
“Ini bukan jalan kecil yang jarang dilalui. Ini akses utama masyarakat mencari nafkah, berdagang, berbelanja, dan menggerakkan roda ekonomi. Sangat disayangkan jika sampai hari ini kondisinya masih seperti ini dan belum juga diperbaiki,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dian berharap pihak-pihak terkait segera turun tangan dan mengambil langkah konkret agar persoalan tersebut tidak terus berlarut dan menjadi keluhan berkepanjangan di tengah masyarakat.
“Kita berharap pihak terkait segera turun mengatasi kondisi ini. Jangan sampai masyarakat terus-menerus mengeluh karena akses yang setiap hari mereka gunakan justru tidak nyaman, bahkan berpotensi membahayakan. Ini menyangkut kepentingan banyak orang,” harapnya.
Sementara itu, Ike Krisnawati menyebut hasil tinjauan lapangan tersebut akan menjadi catatan penting dalam fungsi pengawasan DPRD, agar persoalan infrastruktur yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat tidak luput dari perhatian.
Kehadiran dua legislator perempuan itu pun mendapat sambutan positif dari para pedagang dan warga sekitar. Mereka berharap kunjungan tersebut tidak berhenti pada peninjauan semata, tetapi benar-benar menjadi pintu masuk lahirnya langkah konkret dari pemerintah daerah.
Bagi masyarakat, pasar bukan sekadar tempat transaksi jual beli. Pasar adalah ruang hidup, tempat harapan bertemu dengan kerja keras. Dan ketika jalan menuju ruang hidup itu dipenuhi kubangan, maka yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya kualitas infrastruktur, tetapi juga keberpihakan terhadap rakyat kecil.*(ald)