Di Tepian Narosa, Kuansing Menenun Marwah: Siang Bapacu, Malam Mangaji

Di Tepian Narosa, Kuansing Menenun Marwah: Siang Bapacu, Malam Mangaji
foto: istimewa (doc. kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Di tanah yang dibelah aliran Sungai Kuantan, di negeri yang sejak lama menjadikan dayung sebagai kehormatan dan air sebagai saksi perjuangan, semangat itu kembali dipanggil. Kabupaten Kuantan Singingi kembali menenun sejarah, merajut marwah, dan menyiapkan panggung bagi perhelatan budaya yang bukan sekadar perlombaan, melainkan denyut nadi sebuah peradaban.

Pada Kamis (14/5/2026), di ruang rapat Kecamatan Kuantan Tengah, langkah-langkah kecil menuju peristiwa besar itu dipastikan. Di ruangan yang dipenuhi semangat, Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, menyampaikan kabar yang disambut penuh rasa syukur—Surat Keputusan kepanitiaan Pacu Jalur Rayon II telah resmi ditandatangani.

Bukan sekadar selembar keputusan, tetapi seperti penabuh pertama yang mengawali irama panjang menuju gelanggang.

“Alhamdulillah, seluruh unsur kepanitiaan telah terisi penuh sesuai tugas dan fungsinya. Agenda ini bukan sekadar lomba, tapi merupakan marwah tahunan yang menguras pikiran dan tenaga kita demi kesuksesan bersama,” ujar Eka Putra, dengan suara yang terdengar seperti panggilan bagi mereka yang mengerti arti menjaga warisan.

Di luar gedung, angin mungkin biasa berembus. Namun di dalam ruang itu, yang bergerak bukan sekadar udara—melainkan tekad.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kuansing, Ir. Emmerson, mengingatkan bahwa perhelatan tahun ini bukan pekerjaan ringan. Ada budaya yang harus dijaga, ada tamu yang harus dihormati, ada nama daerah yang harus dijunjung tinggi.

Sebab tahun ini, Pacu Jalur Rayon II akan berjalan seiring dengan Musabaqah Tilawatil Quran Provinsi Riau ke-44—dua arus besar yang bertemu dalam satu muara.
Siang, dayung akan memecah air.
Malam, ayat-ayat suci akan memecah sunyi.

“Tempat parkir jalur, pos pengamanan, hingga kedatangan jalur-jalur dari berbagai daerah harus tertata. Tanggal 25 Mei, mereka mulai merapat di Tepian Narosa,” ujar Emmerson.

Dan Tepian Narosa, seperti biasa, akan kembali menjadi saksi.
Saksi tentang kayu yang diberi nyawa.
Tentang dayung yang tidak sekadar digerakkan tangan, tetapi digerakkan harga diri.

Ketua panitia, Indra Sukri, melaporkan bahwa persiapan telah menyentuh angka 80 persen. Proposal telah berlayar ke berbagai pintu. Gelanggang mulai dibangun. Promosi mulai menggema.

Namun sebagaimana setiap perjuangan, selalu ada ombak yang harus dilalui. Salah satunya adalah tantangan pendanaan.

Tapi di negeri yang besar karena gotong royong, angka bukan alasan untuk berhenti. Sponsor akan diketuk. Peluang akan dicari. Expo UMKM akan digerakkan. QRIS pun disiapkan—pertanda bahwa tradisi tak pernah takut berjalan berdampingan dengan zaman.

Sementara itu, Asisten II Kabupaten Kuansing, Azhar Ali, memastikan bahwa kenyamanan tamu menjadi bagian dari kehormatan.

Pedagang akan ditata di kawasan Jalan Imam Bonjol dan sekitar Lapangan Limuno, agar setiap tamu yang datang bukan hanya menyaksikan budaya, tetapi juga merasakan keramahan sebuah negeri.

Dan ketika rapat itu usai, sesungguhnya tidak ada yang benar-benar selesai.

Karena setelah itu, yang berjalan bukan lagi sekadar agenda.
Yang bergerak adalah marwah.
Yang dipikul bukan hanya tugas.
Tetapi nama baik kampung, kehormatan negeri, dan warisan yang tak boleh kehilangan gaung.

Sebentar lagi, di Tepian Narosa, riak air akan kembali gaduh oleh hentakan dayung. Sebentar lagi, langit Kuansing akan kembali mendengar sorak kemenangan.
Dan ketika malam turun, lantunan ayat suci akan menyempurnakan semuanya.

Karena di Kuansing, budaya bukan sekadar tontonan.
Ia adalah darah.
Ia adalah doa.
Ia adalah cara sebuah negeri menjaga dirinya tetap hidup.*(ald)