Sepulang dari Banyumas, Camat Kuantan Tengah Kumpulkan Pasukan Kebersihan: Sampah Bukan Lagi Beban, Tapi Peluang PAD dan PADes

Sepulang dari Banyumas, Camat Kuantan Tengah Kumpulkan Pasukan Kebersihan: Sampah Bukan Lagi Beban, Tapi Peluang PAD dan PADes
foto: istimewa (doc. kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Persoalan sampah yang selama ini menjadi wajah sekaligus pekerjaan rumah bagi Kabupaten Kuantan Singingi mulai mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kecamatan Kuantan Tengah. Sepulang dari kunjungan kerja ke Banyumas, Eka Putra langsung mengambil langkah cepat dengan menggelar apel bersama para petugas kebersihan di lingkungan Kecamatan Kuantan Tengah, Ahad (10/5/2026).

Apel yang berlangsung di Teluk Kuantan itu bukan sekadar agenda rutin. Di hadapan para petugas lapangan yang setiap hari berjibaku dengan tumpukan sampah kota, Eka Putra menyampaikan arah baru pengelolaan sampah di Kuantan Tengah—bahwa sampah tidak lagi boleh dipandang sebagai masalah semata, melainkan potensi ekonomi yang dapat memberikan nilai tambah bagi daerah.

Kunjungan ke Banyumas beberapa hari sebelumnya disebut menjadi salah satu referensi penting bagi Pemerintah Kecamatan Kuantan Tengah dalam melihat bagaimana sampah dapat diolah secara sistematis, terukur, dan menghasilkan manfaat ekonomi.

Dalam arahannya, Eka Putra menegaskan bahwa tantangan pengelolaan sampah di Kuantan Singingi bukan perkara kecil. Berdasarkan estimasi yang disampaikan, volume sampah di Kabupaten Kuantan Singingi saat ini mencapai sekitar 30 ton per hari. Angka tersebut, menurutnya, harus dijawab dengan keseriusan, inovasi, dan keterlibatan semua pihak.

“Hari ini Kuantan Singingi, terutama Kecamatan Kuantan Tengah, terus berusaha mengatasi persoalan sampah sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Kita akan terus membenahi ini secara bertahap, konsisten, dan berkelanjutan,” ujar Eka Putra.

Ia menegaskan, posisi Kuantan Tengah memiliki tanggung jawab lebih besar dibanding kecamatan lainnya. Sebab, Kuantan Tengah bukan sekadar salah satu wilayah administratif, tetapi merupakan pusat wajah daerah.

“Kecamatan Kuantan Tengah adalah cerminan Kuantan Singingi. Karena Kuantan Tengah adalah ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi, berada di pusat kota, dan menjadi daerah yang pertama dilihat masyarakat maupun tamu yang datang. Kalau pusat kotanya bersih, tertata, dan nyaman, maka citra daerah juga akan baik,” tegasnya.

Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Sebagai pusat pemerintahan, pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan publik, hingga lalu lintas masyarakat, Kuantan Tengah setiap hari memproduksi volume sampah yang cukup besar. Aktivitas pasar, pertokoan, perkantoran, sekolah, hingga rumah tangga menjadi penyumbang utama.

Karena itu, menurut Eka Putra, persoalan sampah di Kuantan Tengah tidak bisa lagi ditangani dengan pola lama. Harus ada transformasi dari sistem angkut-buang menjadi sistem kelola-produktif.

“Sampah sebenarnya bisa menghasilkan Pendapatan Asli Daerah. Kalau dikelola dengan benar, sampah bukan lagi beban anggaran, tapi justru bisa menjadi sumber pemasukan bagi pemerintah,” katanya.

Tidak hanya berhenti pada level kabupaten, Eka Putra bahkan mendorong agar desa-desa di wilayah Kuantan Tengah mulai membangun sistem pengelolaan sampah mandiri berbasis ekonomi.

Ia menilai, dengan dukungan regulasi, pembinaan, serta kesadaran masyarakat, sampah dapat diolah menjadi kompos, bahan daur ulang, hingga produk bernilai ekonomis yang dapat menopang Pendapatan Asli Desa (PADes).

“Kita berharap ke depan sampah yang ada di Kuantan Tengah bisa diolah oleh desa-desa menjadi PADes. Pemerintah daerah nanti menjadi bagian dari pengontrol, pembina, dan pendamping. Jadi manfaatnya bukan hanya kota menjadi bersih, tapi ekonomi masyarakat juga bergerak,” jelasnya.

Dalam apel tersebut, Eka Putra juga memberikan motivasi kepada para petugas kebersihan yang selama ini berada di garda terdepan menjaga wajah ibu kota kabupaten tetap bersih.

Ia menyebut para pekerja kebersihan bukan sekadar petugas angkut sampah, tetapi bagian penting dari pembangunan daerah yang sering kali bekerja dalam senyap tanpa banyak sorotan.

“Bapak dan ibu sekalian adalah orang-orang yang menjaga wajah Kuantan Singingi setiap hari. Apa yang masyarakat lihat di pusat kota, itu adalah hasil kerja keras kalian. Karena itu saya ingin semangat ini terus dijaga,” ucapnya.

Tak lupa, Camat Kuantan Tengah juga menyampaikan imbauan kepada seluruh masyarakat agar persoalan sampah tidak hanya dibebankan kepada pemerintah.

Menurutnya, perubahan hanya akan terjadi apabila kesadaran dimulai dari rumah tangga, lingkungan RT, desa, hingga kawasan perkotaan.

“Kita mengimbau masyarakat, khususnya di Kuantan Tengah, agar pengawasan terhadap sampah dimulai dari diri sendiri. Jangan buang sampah sembarangan, mulai memilah sampah, dan mulai peduli terhadap lingkungan. Kalau semua bergerak, saya yakin Kuantan Tengah bisa menjadi contoh bagi Kuantan Singingi,” pungkasnya.

Langkah cepat yang dilakukan Camat Kuantan Tengah ini menjadi sinyal bahwa pengelolaan sampah di ibu kota kabupaten tak lagi dipandang sebatas urusan kebersihan semata. Lebih dari itu, sampah kini mulai diarahkan menjadi instrumen pembangunan lingkungan, ekonomi, dan wajah baru Kuantan Singingi di masa depan.*(ald)