Monolog “Pentingnya Menjaga Alam” Menggema; Mojo Drock dan Zikri Rabiul Lahirkan Semangat Baru Seni Teater Muda

Monolog “Pentingnya Menjaga Alam” Menggema; Mojo Drock dan Zikri Rabiul Lahirkan Semangat Baru Seni Teater Muda
foto: D'rock (kiri), Zikri (kanan)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Di bawah langit Kuantan Singingi yang siang itu teduh, Rabu, 29 April 2026 lalu, denyut kesenian terasa hidup di Sport Center SMAN Pintar Provinsi Riau. Gedung yang biasanya menjadi ruang aktivitas pelajar, mendadak berubah menjadi panggung penuh makna, tempat kata-kata menjelma nyawa, gerak menjadi bahasa, dan sunyi menjadi pesan yang menggugah. Ahad (3/5/2026).

Di sanalah Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N/FLS3N) tingkat Kabupaten Kuantan Singingi cabang monolog digelar. Tahun ini, tema yang diusung begitu dekat dengan denyut kehidupan manusia: “Pentingnya Menjaga Alam.” Sebuah tema yang tidak hanya menguji kemampuan akting para peserta, tetapi juga mengajak setiap jiwa yang hadir untuk kembali bercermin pada bumi yang selama ini dipijak.

Satu per satu peserta melangkah ke atas panggung. Dengan tatapan penuh penghayatan, suara yang bergetar oleh emosi, serta tubuh yang berbicara melalui gestur, mereka membawa penonton masuk ke dalam kisah-kisah tentang hutan yang kian menua, sungai yang mulai kehilangan kejernihannya, tanah yang terus menunggu dijaga, dan alam yang diam-diam sedang meminta untuk dipeluk kembali.

Di balik ketatnya penilaian, hadir dua sosok yang bukan hanya menjadi dewan juri, tetapi juga penjaga ruh kesenian. Mereka adalah Mojo Drock sebagai Juri 2, mendampingi juri ahli Zikri Rabiul, sosok yang telah menapaki dunia seni teater sejak tahun 2007.

Nama Zikri Rabiul telah lama bergaung di dunia teater Riau. Berbagai naskah telah lahir dari tangannya, berbagai panggung telah menjadi saksi perjalanan artistiknya, dari daerah hingga lintas provinsi di Indonesia. Hingga hari ini, ia tetap setia menjaga nyala seni, membina, menghidupkan, dan menanamkan kecintaan terhadap teater kepada generasi muda, khususnya di Kuantan Singingi.

Namun di sisi lain, kehadiran Mojo Drock juga menjadi magnet tersendiri dalam kompetisi tersebut.

Mojo Drock dikenal bukan sekadar juri. Ia adalah seorang seniman yang seniwen—sosok yang hidupnya lekat dengan seni, yang memandang panggung bukan hanya tempat pertunjukan, tetapi ruang perenungan, ruang kejujuran, dan ruang lahirnya makna. Dalam setiap proses kreatif, ia dikenal memiliki ketajaman rasa, ketegasan dalam prinsip, namun tetap lembut dalam membimbing.

Bagi Mojo Drock, seni bukan sekadar tontonan, melainkan napas. Saat melakukan penilaian, ia tidak hanya melihat siapa yang mampu berbicara lantang, siapa yang mampu menangis di atas panggung, atau siapa yang mampu menghafal naskah dengan sempurna. Ia mencari sesuatu yang lebih dalam—kejujuran rasa.

"Monolog bukan tentang siapa yang paling keras berteriak, bukan tentang siapa yang paling banyak bergerak. Monolog adalah tentang kejujuran batin. Ketika aktor benar-benar hidup di dalam karakter, maka penonton akan ikut hidup di dalam cerita," ungkap Mojo Drock di sela penilaian.

Sebagai Juri 2, ia memberi perhatian khusus pada aspek teknis—mulai dari durasi penampilan, penguasaan ruang, ritme permainan, hingga kepatuhan terhadap petunjuk teknis yang telah ditetapkan panitia.

Menurutnya, tahun 2026 menjadi salah satu tahun yang memperlihatkan perkembangan signifikan dari para peserta.

"Kami melihat peningkatan kualitas yang luar biasa. Mereka mulai berani mengeksplorasi vokal, emosi, dan karakter. Mereka tidak lagi sekadar menghafal, tetapi mulai memahami ruh dari teks yang mereka bawakan," ujarnya.

Sementara itu, Zikri Rabiul memberikan apresiasi terhadap kreativitas para peserta dalam memanfaatkan properti sederhana namun mampu menghadirkan kekuatan dramatik yang utuh.

"Panggung itu hidup. Jangan takut berjalan, jangan takut diam, jangan takut sunyi. Karena kadang, pesan paling dalam justru lahir dari jeda," pesannya kepada para peserta.

Sepanjang perlombaan berlangsung, Sport Center SMAN Pintar seolah berubah menjadi rumah bagi kata-kata yang hidup. Tawa, haru, tepuk tangan, dan keheningan berbaur menjadi satu. Tidak ada yang sekadar tampil. Setiap peserta datang membawa cerita, membawa luka, membawa harapan, dan menitipkan pesan kepada bumi.

Dan di tengah semua itu, sosok-sosok seperti Mojo Drock dan Zikri Rabiul hadir bukan sekadar menilai, tetapi menyalakan.

Karena bagi mereka, seni bukan tentang siapa yang menang hari ini.

Seni adalah tentang siapa yang tetap berjalan, tetap berkarya, dan tetap menjaga nyala, bahkan ketika lampu panggung telah padam.*(ald)