Dari Sentajo Raya, Asa Itu Menyala: Rahma Maulidia Naidi Menulis Jalan Menuju Panggung Provinsi

Dari Sentajo Raya, Asa Itu Menyala: Rahma Maulidia Naidi Menulis Jalan Menuju Panggung Provinsi
foto: Rahma Maulidia Naidi/ist. (doc. kilasriau.com)

SENTAJO RAYA (KilasRiau.com) — Di sebuah ruang belajar yang sederhana, di antara derap waktu yang tak pernah benar-benar berhenti, lahirlah sebuah cerita tentang ketekunan, tentang kata-kata yang dirangkai bukan sekadar menjadi kalimat, tetapi menjadi jembatan menuju mimpi. Di sanalah, semangat kreativitas dan literasi tumbuh, berakar kuat, lalu menjulang tinggi membawa nama SMAN 1 Sentajo Raya ke panggung prestasi.

Dia adalah Rahma Maulidia Naidi, siswi kelas XI.1, yang dengan tenang namun pasti menorehkan tinta emasnya. Ia bukan hanya menulis, tetapi menghadirkan makna dalam setiap kata. Dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional 2026 tingkat Kabupaten Kuantan Singingi, Rahma menjelma menjadi suara—suara yang jernih, tajam, dan penuh keberanian—hingga akhirnya dinobatkan sebagai Juara 1 cabang Jurnalistik.

Kemenangan itu bukanlah kebetulan. Ia adalah akumulasi dari malam-malam panjang, dari lembar demi lembar yang disusun dengan kesabaran, dari dialog batin yang tak pernah padam. Di baliknya, ada sosok pembimbing yang setia menuntun arah—Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd., yang bukan hanya mengajarkan teknik, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa kata-kata memiliki daya hidup.

“Alhamdulillah, hasil tidak mengkhianati proses,” ujarnya, dengan nada yang mengandung kelegaan sekaligus kebanggaan. “Komunikasi yang dibangun Rahma, baik secara lisan maupun digital, menunjukkan kedewasaan berpikir. Ini bukan sekadar lomba, ini perjalanan.”

Perjalanan itu kini belum usai. Justru baru saja membuka gerbang baru. Rahma akan melangkah lebih jauh, membawa nama Kuantan Singingi menuju tingkat Provinsi Riau pada Juni 2026. Di sana, ia akan kembali berhadapan dengan banyak cerita, banyak pena, dan banyak mimpi lain yang juga ingin didengar.

Namun Sentajo Raya tak hanya memiliki satu cerita. Di sudut lain, dalam warna yang berbeda, Wahyu Ariesman menorehkan imajinasinya dalam bentuk visual. Lewat goresan digital yang penuh karakter, ia meraih Juara 3 pada cabang Komik Digital di bawah bimbingan Novrezza Isaputra, ST. Jika Rahma bercerita dengan kata, maka Wahyu berbicara melalui gambar—dua bahasa yang berbeda, namun berpijak pada semangat yang sama.

Kepala SMAN 1 Sentajo Raya, Drs. Afrizal, memandang semua ini bukan sekadar kemenangan, melainkan cermin dari proses panjang yang terbangun di ruang-ruang kelas, di antara interaksi guru dan siswa yang penuh dedikasi.

“Prestasi ini adalah buah dari kerja keras dan ketulusan,” ungkapnya. “Bagi yang belum juara, kalian tetaplah pemenang. Karena keberanian untuk tampil dan berkarya adalah kemenangan itu sendiri.”

Kata-kata itu mengalir seperti do'a—tenang, namun menguatkan. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang siapa yang berdiri di podium, tetapi siapa yang berani melangkah, mencoba, dan terus belajar.

Kini, langkah Rahma menjadi pusat harap. Ia bukan lagi sekadar peserta, tetapi representasi dari semangat sebuah daerah, dari mimpi yang dipupuk bersama. Di pundaknya, tersemat harapan agar ia terus melaju, menembus batas, hingga ke panggung nasional.

Dan di balik semua itu, Sentajo Raya tetap berdiri—sebagai saksi bahwa dari tempat yang sederhana, lahir kisah-kisah luar biasa. Bahwa dari kata-kata yang ditulis dengan hati, masa depan bisa disusun dengan lebih berarti.*(ald)