KilasRiau.com - Ada satu persoalan klasik yang terus berulang, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa pernah benar-benar diselesaikan: budaya menjilat dalam lingkaran kekuasaan. Ia tampak sepele di permukaan, sekadar sikap mencari muka atau menyenangkan atasan. Namun di balik itu, tersimpan bahaya besar yang perlahan tapi pasti menghambat kemajuan sebuah negeri.
Penjilat bukan hanya individu, melainkan bagian dari ekosistem yang dibiarkan tumbuh subur. Mereka hadir di berbagai level—dari birokrasi kecil hingga lingkaran elit tertinggi. Ciri mereka sama: lebih sibuk menyenangkan daripada membenahi, lebih takut kehilangan posisi daripada kehilangan integritas.
Dalam sistem seperti ini, kebenaran menjadi barang mahal. Kritik yang seharusnya menjadi vitamin bagi pemerintahan justru dianggap racun. Orang-orang yang berani bicara apa adanya dicap sebagai pengganggu stabilitas, bahkan tidak jarang disingkirkan secara halus maupun terang-terangan. Sementara itu, mereka yang pandai memuji, meski tanpa dasar, justru diberi ruang, bahkan naik jabatan.
Akibatnya, lahirlah kepemimpinan yang terisolasi dari realitas. Pemimpin tidak lagi melihat kondisi sebenarnya di lapangan, karena semua laporan telah “dipoles” sedemikian rupa. Kegagalan dibungkus keberhasilan. Kekurangan disulap menjadi prestasi. Data dimanipulasi demi menjaga citra. Dan di sinilah awal dari kemunduran itu dimulai.
Bagaimana mungkin sebuah negeri bisa maju jika fondasi pengambilan keputusannya dibangun di atas kebohongan yang dipelihara?
Lebih jauh lagi, budaya menjilat juga merusak sistem meritokrasi. Orang-orang yang seharusnya berada di posisi strategis karena kapasitas dan kompetensi, justru tergeser oleh mereka yang memiliki “kedekatan” dan kepiawaian menjilat. Jabatan tidak lagi diberikan kepada yang layak, melainkan kepada yang loyal secara buta.
Dalam jangka panjang, ini melahirkan birokrasi yang rapuh dan tidak profesional. Keputusan-keputusan penting diambil oleh orang-orang yang tidak memiliki kemampuan memadai. Program-program berjalan tanpa arah yang jelas. Anggaran habis tanpa hasil yang signifikan. Rakyat menjadi korban dari ketidakmampuan yang terstruktur.
Tidak berhenti di situ, budaya penjilat juga menciptakan iklim ketakutan. Banyak orang memilih diam meskipun tahu ada yang salah. Mereka takut bersuara karena risiko yang harus ditanggung terlalu besar—mulai dari kehilangan jabatan, tekanan sosial, hingga ancaman yang lebih serius. Dalam situasi seperti ini, kejujuran menjadi keberanian yang langka.
Padahal, sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa kemajuan suatu bangsa justru lahir dari keberanian untuk mengoreksi diri. Negara-negara yang maju bukanlah yang tanpa masalah, melainkan yang berani menghadapi masalahnya secara terbuka. Mereka memberi ruang bagi kritik, menghargai perbedaan pendapat, dan menjadikan evaluasi sebagai bagian dari budaya.
Sebaliknya, negeri yang alergi terhadap kritik dan lebih senang mendengar pujian akan terjebak dalam stagnasi. Ia berjalan di tempat, bahkan perlahan mundur, tanpa disadari oleh para pengambil kebijakan yang hidup dalam ilusi.
Yang lebih ironis, para penjilat seringkali merasa diri mereka berjasa. Mereka menganggap menjaga perasaan atasan adalah bentuk loyalitas. Padahal yang mereka lakukan justru merusak dari dalam. Loyalitas sejati bukanlah membenarkan yang salah, melainkan berani mengingatkan ketika terjadi penyimpangan.
Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi apakah budaya penjilat berbahaya—jawabannya sudah jelas. Pertanyaannya adalah: sampai kapan ini akan dibiarkan?
Perubahan tentu tidak mudah. Budaya yang sudah mengakar tidak bisa dihapus dalam semalam. Namun bukan berarti mustahil. Semua harus dimulai dari keberanian—baik dari pemimpin maupun dari orang-orang di sekitarnya.
Pemimpin yang ingin membawa perubahan harus berani keluar dari zona nyaman pujian. Ia harus membuka ruang bagi kritik, bahkan mengundangnya. Ia harus mampu membedakan antara loyalitas dan kepura-puraan. Lebih dari itu, ia harus memberi contoh bahwa kejujuran tidak akan dihukum.
Di sisi lain, mereka yang berada di lingkaran kekuasaan juga harus menentukan sikap. Apakah akan terus menjadi bagian dari masalah, atau mulai menjadi bagian dari solusi. Menjadi penjilat mungkin terasa aman dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang, ia hanya mempercepat kehancuran sistem yang juga mereka bergantung di dalamnya.
Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan sumber daya. Tidak kekurangan ide besar. Yang kurang adalah keberanian untuk jujur dan konsisten menjaga integritas.
Selama penjilat masih diberi tempat, selama kritik masih dianggap ancaman, dan selama kebenaran masih kalah oleh kepentingan, maka jangan berharap negeri ini akan melangkah jauh. Ia mungkin terlihat berjalan, tetapi sesungguhnya hanya berputar di tempat yang sama.
Sudah saatnya lingkaran ini diputus. Bukan demi kepentingan segelintir orang, tetapi demi masa depan bersama. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling pandai memuji, tetapi siapa yang berani berdiri di tengah arus dan mengatakan: ini salah, dan harus diperbaiki.*(ald)