Bekerja Dalam Senyap, Membangun untuk Banyak Orang: Jejak Heru Widiastoro di Kuantan Singingi

Bekerja Dalam Senyap, Membangun untuk Banyak Orang: Jejak Heru Widiastoro di Kuantan Singingi

KilasRiau.com - Di sebuah hamparan tanah yang masih berdebu di Kabupaten Kuantan Singingi, deru mesin ekskavator terdengar memecah pagi. Matahari belum terlalu tinggi, namun beberapa pekerja sudah sibuk mengukur lahan, menata batas, dan meratakan tanah yang kelak akan berubah menjadi deretan rumah.

Di tengah aktivitas itu, seorang pria berdiri tanpa banyak atribut yang menunjukkan bahwa dialah pemilik dari proyek besar tersebut. Kemejanya sederhana, sepatunya penuh debu tanah, dan kulit wajahnya tak luput dari sengatan matahari.

Dialah Heru Widiastoro—seorang pengusaha muda yang memilih bekerja dalam senyap, jauh dari gemerlap sorotan.

Sepintas, tidak ada yang terlalu mencolok dari sosoknya. Ia tidak terlihat seperti seorang direktur utama dari sebuah grup usaha properti yang sedang berkembang. Namun di balik sikapnya yang low profile, Heru adalah motor penggerak dari sejumlah proyek pembangunan yang perlahan mengubah wajah hunian masyarakat di Kuantan Singingi.

Heru Widiastoro merupakan lulusan Sarjana Ekonomi Bisnis dari salah satu universitas ternama di Yogyakarta. Pendidikan itu membentuk dasar berpikirnya tentang manajemen, strategi bisnis, dan keberlanjutan usaha.

Namun bagi Heru, teori di ruang kuliah hanyalah permulaan.
Lapangan lah yang menjadi ruang belajar sesungguhnya.

Kini ia menjabat sebagai Direktur Utama Asadel Group sekaligus memimpin PT Ure Karya Jayastu, dua entitas usaha yang bergerak dalam sektor pengembangan perumahan dan pembangunan kawasan.

Di bawah kepemimpinannya, perusahaan tidak hanya membangun rumah, tetapi juga berusaha menjawab kebutuhan dasar masyarakat: tempat tinggal yang layak dan terjangkau.

Namun, Heru bukan tipe pemimpin yang gemar berdiri di podium atau berbicara panjang di depan publik.

Ia lebih sering berada di tengah proyek, mengamati langsung proses pembangunan, memastikan setiap konsep yang ia rancang benar-benar terwujud di lapangan.

Ketika KilasRiau.com berkesempatan berbincang dengannya, Heru berbicara dengan nada tenang, tanpa kesan ingin menonjolkan diri.

“Saya ingin masyarakat menikmati karya yang kami bangun, khususnya masyarakat Kuansing. Saya tidak harus tampil di depan publik,” ujarnya.

Menurutnya, peran utamanya adalah menyiapkan konsep, strategi, dan perencanaan besar.

“Saya merancang semuanya. Konsep yang matang, rencana yang jelas. Setelah itu, saya percayakan kepada tim. Bang Igo sebagai manajer saya yang akan memasarkan kepada masyarakat.”

Bagi Heru, kesuksesan bukanlah tentang siapa yang terlihat paling depan, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang bisa dirasakan orang lain.

Salah satu fokus utama bisnis Heru adalah pengembangan perumahan subsidi.

Melalui perusahaannya, ia aktif memfasilitasi program pemerintah berupa Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), sebuah skema pembiayaan yang dirancang agar masyarakat berpenghasilan rendah dapat memiliki rumah pertama mereka.

Program ini biasanya diwujudkan melalui kegiatan Akad Massal KPR FLPP, di mana puluhan bahkan ratusan masyarakat melakukan penandatanganan kredit rumah secara bersamaan.

Untuk mendukung program tersebut, Heru dan timnya juga bekerja sama dengan lembaga keuangan seperti BRK Syariah, guna memperluas akses pembiayaan perumahan bagi masyarakat.

Bagi Heru, rumah bukan sekadar bangunan fisik. Rumah adalah awal dari kehidupan yang lebih stabil.

Tempat anak-anak tumbuh.

Tempat keluarga membangun harapan.

Di balik pembangunan perumahan itu, ada satu unit penting yang jarang disorot publik: divisi alat berat.

Di bawah operasional PT Ure Karya Jayastu, Asadel Group mengelola armada alat berat seperti ekskavator yang digunakan untuk berbagai tahap pembangunan, mulai dari land clearing hingga penataan infrastruktur jalan.

Keberadaan divisi ini menjadi salah satu kunci efisiensi pembangunan.

Dengan mengelola alat berat sendiri, biaya operasional dapat ditekan sehingga harga rumah tetap kompetitif dan sesuai dengan skema FLPP.

Tidak hanya digunakan untuk proyek internal, armada ini juga melayani kebutuhan proyek konstruksi pihak ketiga di wilayah Riau.

Langkah ini bukan hanya memperluas bisnis, tetapi juga menciptakan ekosistem pembangunan yang saling mendukung.

Namun kisah Heru tidak berhenti pada dunia properti.

Di Kuantan Singingi, ada satu tradisi yang menjadi kebanggaan masyarakat: Pacu Jalur.

Tradisi lomba perahu panjang di Sungai Kuantan itu bukan sekadar perlombaan, tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat.

Heru memahami betul nilai itu.

Melalui Asadel Group, ia secara rutin mensponsori kegiatan Pacu Jalur. Bahkan pada tahun 2025, perusahaannya mendukung hingga enam jalur andalan dalam perlombaan tersebut.

Bagi Heru, mendukung tradisi bukan sekadar kegiatan sponsor.

Itu adalah bentuk penghormatan terhadap akar budaya daerah.

Dalam dunia bisnis yang sering diwarnai persaingan keras dan ambisi besar, Heru memilih pendekatan yang berbeda.

Ia membangun tim yang kuat dan mempercayakan banyak hal kepada orang-orang yang bekerja bersamanya.

Di balik layar, ia merancang strategi.

Di lapangan, timnya menjalankan.

Sistem kerja itu membuat roda usaha berjalan tanpa harus selalu menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian.

Sore mulai turun di lokasi proyek. Debu perlahan mereda, mesin-mesin mulai berhenti, dan para pekerja bersiap pulang.

Di tanah yang pagi tadi masih berupa hamparan kosong, kini mulai terlihat garis-garis jalan yang akan menjadi kawasan perumahan.

Di tempat seperti itulah Heru Widiastoro paling sering ditemukan.

Bukan di ruang rapat yang dingin, bukan di panggung yang terang oleh sorotan lampu.

Melainkan di lapangan—di antara tanah, debu, dan suara alat berat—tempat di mana mimpi tentang rumah bagi banyak keluarga sedang perlahan dibangun.

Dan mungkin itulah cara Heru bekerja:
tenang, tanpa banyak suara, tetapi meninggalkan jejak yang nyata bagi masyarakat.*(ald)