Dari Anak Introvert hingga Ketua OSIS: Perjalanan Inspiratif Ghina Rizqullah Menemukan Keberanian

Dari Anak Introvert hingga Ketua OSIS: Perjalanan Inspiratif Ghina Rizqullah Menemukan Keberanian
foto: ghina dalam potret berbagai prestasi/ghina (doc. Kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Tidak semua pemimpin lahir dari keberanian sejak awal. Sebagian justru tumbuh dari keraguan, kegagalan, dan proses panjang mengenal diri sendiri. Itulah yang tergambar dari perjalanan hidup Ghina Rizqullah, siswi SMP Negeri 3 Teluk Kuantan, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, yang berhasil membuktikan bahwa ketekunan dan keberanian untuk terus mencoba mampu mengubah rasa takut menjadi kekuatan. Ahad (1/3/2026).

Di balik sederet prestasi akademik dan organisasi yang kini melekat pada dirinya, Ghina menyimpan kisah awal yang jauh dari kata percaya diri. Saat pertama kali menginjak bangku SMP, ia dikenal sebagai pribadi yang introvert, pendiam, dan enggan menonjol. Ia hanya ingin menjadi siswi biasa, belajar tanpa sorotan, dan tidak terlibat dalam banyak kegiatan. Namun hidup membawanya pada jalan yang berbeda.

Perubahan besar dalam hidup Ghina bermula ketika ia dipercaya mengikuti lomba Ranking 1 tingkat Kabupaten Kuantan Singingi. Seorang guru melihat potensi Ghina di bidang IPA dan cerdas cermat. Kepercayaan itulah yang menjadi titik balik dalam hidupnya.

Dari satu kesempatan kecil, tumbuh keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Ghina mulai aktif mengikuti berbagai perlombaan akademik. Meski langkahnya masih diliputi rasa ragu, perlahan ia belajar berdiri lebih tegak menghadapi tantangan.

Perjalanan Ghina tidak selalu diwarnai kemenangan. Ia kerap mengalami kegagalan—tersingkir di babak awal, kalah tipis, bahkan gagal di babak final. Dalam Olimpiade IPA tingkat nasional, ia hanya mampu meraih posisi finalis.

Ada masa ketika ia mempertanyakan kemampuannya sendiri. Namun dari setiap kegagalan, Ghina memetik pelajaran penting: kegagalan bukan tanda untuk berhenti, melainkan bahan bakar untuk tumbuh.

“Setiap kalah, saya belajar memperbaiki diri. Dari situ justru muncul keberanian yang sebelumnya tidak saya miliki,” ungkapnya.

Dalam bidang akademik, Ghina dikenal konsisten. Sejak SD, MDTA, hingga kelas 8 SMP, ia selalu masuk tiga besar. Ia pernah meraih Juara Umum 2 kelas 5 SD, Juara Umum 1 kelas 6 semester 1, Juara Umum 3 kelas 7 semester 2, dan Juara Umum 2 kelas 8 semester 1.

Namun bagi Ghina, prestasi bukan sekadar angka di rapor. Ia memandang prestasi sebagai hasil dari kedisiplinan, ketekunan, dan tanggung jawab terhadap proses belajar.

Di luar kelas, Ghina aktif mengikuti berbagai ekstrakurikuler seperti Pramuka, Drumband, English Club, serta PMR/Dokter Kecil. Di Pramuka, ia dipercaya menjadi Pimpinan Regu dan Komandan Pleton (Danton). Dari sanalah ia mulai belajar tentang kepemimpinan, kerja sama, dan pengambilan keputusan.

Salah satu fase paling menentukan dalam hidup Ghina terjadi saat ia duduk di kelas 7. Kala itu, ia tidak lolos menjadi anggota OSIS. Kegagalan tersebut sempat membuatnya kecewa dan meragukan diri sendiri.

Namun Ghina memilih tidak berhenti. Ia mengevaluasi diri, belajar dari kekurangan, dan mempersiapkan diri lebih matang. Hasilnya datang setahun kemudian. Di kelas 8, ia justru dipercaya menjadi Ketua OSIS.

Dari seorang siswi yang pernah gagal menjadi anggota, Ghina kini memimpin seluruh organisasi siswa. Amanah itu mengajarkannya tentang manajemen waktu, keteladanan, serta tanggung jawab moral sebagai panutan bagi teman-temannya.

Keberhasilan Ghina tidak lepas dari peran guru-guru yang senantiasa membimbingnya. Dua sosok yang sangat berpengaruh dalam perjalanannya adalah Susri Indrawati, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan sekaligus guru IPA, serta Wika Oktaviani, guru IPA dan pembina Pramuka.

Keduanya dikenal sebagai pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri dan keberanian pada peserta didik. Bagi Ghina, mereka bukan sekadar guru, melainkan penuntun dan inspirasi hidup.

Selain akademik dan organisasi, Ghina juga aktif mengembangkan diri di bidang literasi dan jurnalistik. Ia mengikuti Pelatihan Jurnalistik dan Konten Kreator 2026 pada Kamis (26/2/2026) dan tergabung dalam komunitas jurnalistik dan konten kreator, serta direncanakan akan dipercaya sebagai Duta Literasi SMP Negeri 3 Teluk Kuantan.

Menurut Ghina, setiap kesempatan adalah bagian dari proses pembentukan diri. Bukan hanya untuk menambah pengalaman, tetapi juga untuk memperluas cara pandang dan keberanian menyuarakan ide.

Kini, Ghina Rizqullah menjadi contoh bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari rasa percaya diri sejak awal. Keberanian bisa tumbuh dari kegagalan, dan rasa takut bisa berubah menjadi kekuatan jika dihadapi dengan tekad dan kemauan belajar.

“Kegagalan bukan akhir dari segalanya. Kadang, itu hanyalah langkah awal menuju versi terbaik dari diri kita,” ujarnya.

Perjalanan Ghina masih panjang. Namun satu hal telah ia buktikan: dengan doa orang tua, bimbingan guru, dan keberanian untuk terus mencoba, seorang anak introvert pun mampu tumbuh menjadi pemimpin yang menginspirasi.*(ald)