Dari Kelas ke Dunia Digital: Pelatihan Jurnalistik dan Konten Kreator Cetak Generasi Emas Kuantan Tengah

Dari Kelas ke Dunia Digital: Pelatihan Jurnalistik dan Konten Kreator Cetak Generasi Emas Kuantan Tengah
foto: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd (doc. Kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Perkembangan dunia digital yang melaju cepat menuntut dunia pendidikan untuk bergerak seirama. Di tengah banjir informasi dan derasnya arus media sosial, kemampuan membaca dan menulis saja tak lagi cukup. Bagi pelajar tingkat SMP hingga SMA sederajat di Kecamatan Kuantan Tengah, literasi digital melalui jurnalistik dan konten kreator kini menjadi kebutuhan strategis dalam membentuk generasi emas yang kritis, kreatif, dan berkarakter. Jum'at (20/2/2026).

Ketua Forum Literasi Kuansing, Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd menegaskan bahwa pelajar hari ini bukan lagi sekadar penerima informasi, melainkan aktor utama dalam membentuk opini dan peradaban digital.

“Siswa kita bukan lagi penonton sejarah, tetapi pembuat sejarah melalui jempol dan kreativitas mereka. Pelatihan jurnalistik dan konten kreator adalah kunci agar mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen karya yang mencerdaskan dan inspiratif,” ujar Ronaldo Rozalino, yang dikenal sebagai penulis, motivator nasional, pebisnis, sekaligus kreator konten.

Dari Literasi Dasar ke Literasi Digital
Menurut Ronaldo, dunia pendidikan harus berani melangkah lebih jauh dari pola lama. Literasi hari ini bukan hanya soal membaca buku pelajaran, tetapi juga tentang memahami, mengolah, dan menyajikan informasi secara bertanggung jawab di ruang digital.

Pelatihan jurnalistik, kata dia, mengajarkan siswa untuk berpikir kritis, melakukan verifikasi data, serta menulis berdasarkan fakta. Di tengah maraknya hoaks dan informasi menyesatkan, kemampuan cek fakta menjadi bekal penting agar pelajar tidak mudah terprovokasi.

“Jurnalistik membentuk kepekaan sosial dan daya nalar. Siswa belajar melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, bukan sekadar ikut arus,” jelasnya.

Selain jurnalistik, kemampuan menjadi konten kreator juga dinilai sangat relevan dengan kebutuhan zaman. Ronaldo yang juga seorang business owner menilai bahwa personal branding di era digital dapat dan seharusnya dibangun sejak dini.

Melalui konten positif—baik tulisan, foto, maupun video—siswa dapat membangun citra diri yang sehat dan produktif di media sosial. Hal ini menjadi modal penting ketika mereka memasuki dunia kerja, dunia usaha, maupun pendidikan lanjutan.

“Jejak digital tidak bisa dihapus. Maka sekolah perlu hadir membimbing siswa agar jejak itu menjadi prestasi, bukan masalah,” tegasnya.

Pelatihan jurnalistik dan konten kreator juga berdampak langsung pada penguatan karakter siswa. Seorang jurnalis dituntut berani bertanya, sementara konten kreator harus mampu menyampaikan pesan dengan cerita yang menarik.

Kombinasi keduanya melatih kemampuan komunikasi, public speaking, serta kepercayaan diri—unsur penting dalam membangun mental generasi muda yang tangguh dan siap bersaing.

Lebih jauh, Ronaldo melihat peluang besar dalam menjadikan pelajar sebagai duta budaya daerah. Kuantan Tengah dan Kabupaten Kuantan Singingi memiliki kekayaan budaya, tradisi, dan potensi wisata yang luar biasa.

Melalui karya jurnalistik dan konten kreatif, pelajar dapat mengangkat kearifan lokal seperti Pacu Jalur, kuliner khas, hingga nilai-nilai adat agar dikenal lebih luas, bahkan ke tingkat nasional dan global.

“Anak-anak muda inilah yang paling dekat dengan teknologi. Tinggal bagaimana kita arahkan agar teknologi menjadi alat pelestarian budaya, bukan justru pengikis identitas,” ungkapnya.

Ronaldo Rozalino mengajak kepala sekolah dan para pendidik di Kuantan Tengah untuk membangun ekosistem literasi yang aktif dan menyenangkan. Literasi, menurutnya, tidak cukup diajarkan lewat teori di kelas, tetapi harus dihidupkan melalui praktik nyata.
 

Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:

Bidang Jurnalistik: Mengaktifkan mading sekolah, buletin berkala, hingga portal berita sekolah berbasis web.

Bidang Konten Kreator: Pelatihan pengambilan video, editing sederhana menggunakan ponsel, serta pemahaman etika bermedia sosial.

Menutup pernyataannya, Ronaldo Rozalino menyampaikan pesan reflektif kepada seluruh pelajar di Kuantan Tengah:

“Setiap orang punya cerita. Tetapi hanya mereka yang mau menulis dan mengemasnya secara kreatif yang akan diingat. Jangan biarkan ponselmu hanya untuk scrolling tanpa arah. Mulailah menulis, mulailah berkarya, dan jadilah cahaya literasi bagi Kuantan Singingi.”

Melalui pelatihan jurnalistik dan konten kreator yang terarah, pelajar Kuantan Tengah diharapkan tumbuh menjadi generasi emas: melek informasi, kritis berpikir, kuat karakter, serta mampu bersaing di dunia digital tanpa kehilangan jati diri lokalnya.*(ald)