SMAN 1 Sentajo Raya Gaungkan P5 Bertema Kearifan Lokal: Merawat Jati Diri Bangsa Lewat Masakan Tradisional

SMAN 1 Sentajo Raya Gaungkan P5 Bertema Kearifan Lokal: Merawat Jati Diri Bangsa Lewat Masakan Tradisional
foto: Drs. Afrizal (Kepala SMAN 1 Sentajo Raya)/ist. (doc. kilasriau.com)

SENTAJ0 RAYA (KilasRiau.com) — Di tengah arus globalisasi yang kian deras, ketika makanan cepat saji dan tren kuliner modern asing mudah dijumpai di setiap sudut kota, SMAN 1 Sentajo Raya justru memilih menoleh ke belakang—ke dapur-dapur tua yang menyimpan aroma rempah dan kisah peradaban. Melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bertema “Melestarikan Masakan Tradisional: Wujud Mencintai Produk Dalam Negeri”, sekolah ini menghadirkan sebuah gerakan pendidikan yang sarat makna dan nilai kebangsaan.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau, Drs. Afrizal, di ruang kerjanya, Selasa (10/2/2026). Dengan nada serius namun penuh keprihatinan, Afrizal menyoroti tantangan besar yang kini dihadapi generasi muda Indonesia.

“Di tengah gempuran tren kuliner modern dan fast food dari luar negeri, kita patut bertanya: apakah lidah nusantara masih mengenali jati dirinya? Melalui P5 dengan tema Kearifan Lokal ini, kami ingin mengajak siswa kembali menengok dapur nenek moyang. Masakan tradisional bukan sekadar urusan perut, melainkan wujud nyata mencintai produk dalam negeri,” ungkapnya.

Ia menegaskan, mempelajari dan memasak makanan tradisional adalah bentuk pendidikan karakter yang hidup—mengajarkan kebanggaan, kemandirian, dan kesadaran akan kekayaan bangsa yang tak ternilai.
Senada dengan itu, Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd, perwakilan Koordinator Projek P5 SMAN 1 Sentajo Raya, memaparkan perspektif mendalam tentang makna masakan tradisional sebagai kearifan lokal.

“Masakan tradisional adalah cermin kekayaan alam dan budaya suatu daerah. Di dalamnya tersimpan pengetahuan tentang rempah-rempah, teknik memasak turun-temurun, hingga filosofi kehidupan. Setiap suapan rendang, setiap gigitan ikan, atau segarnya udang, membawa cerita tentang tanah tempat bahan-bahan itu tumbuh,” ujarnya.

Menurut Ronaldo, ketika siswa memilih untuk memasak dan mengonsumsi menu tradisional, sejatinya mereka sedang menjaga denyut ekonomi lokal—dari petani kunyit di pasar tradisional hingga pedagang daging dan nelayan setempat.

Kegiatan P5 ini dikoordinatori oleh Welmazetri, S.Pd, bersama tim yang terdiri dari Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd, Azizah, S.Pd, Masnawati, S.Pd, Sinta Muselpa, S.Pd, dan Nuraziza Saida, S.Pd. Program ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X, XI, dan XII, yang terbagi dalam 9 kelas, dengan menampilkan beragam menu khas daerah dari berbagai penjuru Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Welmazetri juga menegaskan kuatnya hubungan antara P5 dan semangat mencintai produk dalam negeri.

“Program P5 termasuk dalam program Kokulikuler yang memberi ruang bagi siswa untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pelestari. Memasak makanan tradisional adalah praktik langsung nilai-nilai Pancasila,” katanya.

Ia menjabarkan dampak nyata yang dirasakan siswa melalui kegiatan ini, di antaranya: Kemandirian, ketika siswa belajar mengolah bahan pangan lokal menjadi hidangan bergizi tanpa ketergantungan pada produk impor.

Gotong royong, karena proses memasak tradisional menuntut kerja sama, dari menghaluskan bumbu hingga penyajian.

Mengenal identitas global, dengan menumbuhkan rasa percaya diri bahwa kuliner Indonesia tak kalah bermartabat dibanding steak atau sushi dari luar negeri.

Langkah konkret siswa dalam melestarikan kuliner pun terlihat nyata, mulai dari eksplorasi resep-resep daerah yang mulai jarang ditemui, inovasi tampilan makanan tanpa menghilangkan cita rasa asli, hingga kampanye digital melalui media sosial sebagai sarana promosi produk lokal.

“Mencintai produk dalam negeri dimulai dari piring kita sendiri. Setiap bumbu yang kita ulek adalah bentuk penghormatan terhadap identitas bangsa,” tegas Afrizal.

Kegiatan ini akhirnya bermuara pada satu kesimpulan besar: melestarikan masakan tradisional melalui tema Kearifan Lokal di sekolah adalah sebuah gerakan revolusi mental—sederhana, namun berdampak luas. 

Dengan mengenal, memasak, dan mengonsumsi makanan khas daerah, siswa SMAN 1 Sentajo Raya telah melakukan aksi nyata mencintai produk dalam negeri.

“Mari jadikan dapur sebagai laboratorium budaya, di mana setiap aroma rempah menjadi pengingat bahwa Indonesia itu kaya,” tutup 

Ronaldo Rozalino, yang dikenal gemar menjelajahi wisata kuliner daerah.
Dari sekolah, dari dapur, dari piring-piring sederhana—SMAN 1 Sentajo Raya menanamkan cinta tanah air, setenang mengulek bumbu, seteguh menjaga warisan bangsa.*(ald)