Ketika Tradisi Menyapa Malam, dan Rantang-Rantang Kenangan Diarak dengan Sukacita
PEKANBARU (KilasRiau.com) - Pekanbaru akan menjadi saksi ketika ingatan, tradisi, dan rasa pulang bertaut dalam satu malam yang penuh makna. Pada Sabtu, 7 Februari, tepat ketika malam mulai menurunkan sunyinya, Hotel Grand Jatra Pekanbaru akan berpendar oleh denyut seni dan budaya dalam Pengukuhan Ikatan Keluarga Kuantan Singingi (IKKS) Provinsi Riau, yang dimulai pukul 19.00 WIB.

Malam itu bukan sekadar seremoni pengukuhan. Ia adalah perjamuan batin, tempat orang-orang Kuansing di rantau meneguk kembali akar, mengingat kampung, dan merayakan jati diri. Sebuah malam di mana budaya tidak hanya dipertontonkan, tetapi dihidupkan—dengan rasa, dengan irama, dengan tawa, dan dengan rindu yang lama tersimpan.
Gelak tawa akan lebih dulu mengalir melalui penampilan Suparmi dan Randai Limuno. Dua nama yang tak asing dalam dunia hiburan rakyat ini akan hadir membawa humor bernuansa lokal, jenaka namun membumi. Lawakan mereka bukan sekadar pemancing tawa, melainkan cermin kehidupan sehari-hari rang Kuansing, yang ringan di bibir namun dalam maknanya. Di tangan mereka, bahasa kampung menjadi pelipur, dan cerita rakyat menjelma hiburan yang menghangatkan suasana.
Namun malam itu tak berhenti pada tawa. Ia akan berlanjut pada keindahan yang ditata rapi, pada gerak yang disulam makna, pada bunyi-bunyian tradisi yang bergetar pelan di dada.

Tari Merantang: Rantang yang Membawa Rasa, Dulang yang Mengarak Makna
Salah satu persembahan utama adalah Tari Merantang, sebuah karya tari yang lahir dari rahim budaya Melayu Kuantan Singingi. Tarian ini terinspirasi dari tradisi jolang menjolang, sebuah gambaran kegembiraan masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri—saat rumah-rumah terbuka, rantang-rantang berisi masakan terbaik diarak dengan senyum dan doa.
Dalam Tari Merantang, penonton akan diajak menyelami suasana kampung: canda tawa ibu-ibu Kuansing yang bersahut-sahutan di dapur, tangan-tangan cekatan yang menyiapkan hidangan khas daerah, langkah-langkah ringan yang mengantarkan rantang di atas dulang, disertai penyerahan carano berisi sekapur sirih dan pinang—simbol penghormatan, persaudaraan, dan adab yang dijunjung tinggi.
Gerak-geraknya lembut namun hidup, riang namun sarat makna. Setiap ayunan tangan, setiap langkah kaki, adalah bahasa tubuh yang menceritakan kebersamaan, gotong royong, dan kegembiraan kolektif yang telah diwariskan lintas generasi.
Tari ini digarap oleh Dr. Nurlita Martison, S.Pd., M.Pd, seorang koreografer yang dikenal piawai meramu tradisi menjadi karya panggung yang bernas. Iringan musik dipercayakan kepada Sutra Harmiko, yang merajut bunyi-bunyian menjadi lanskap rasa. Adapun para penari—Amanda, Intan, Icha, Mina, dan Jilan—adalah bagian dari Sanggar Marwah Dance Company FKIP Universitas Riau, yang akan menghadirkan energi muda dalam balutan nilai-nilai lama.
Gadis-Gadis Ayu Kuansing dan Denting Tradisi
Keindahan malam pengukuhan IKKS Provinsi Riau kian lengkap dengan penampilan 20 gadis-gadis ayu dari kalangan mahasiswa Kuantan Singingi se-Riau. Mereka akan tampil dalam atraksi Pagar Ayu, sebuah sajian yang memadukan musik dan gerak, menjaga harmoni, dan menghadirkan pesona perempuan Kuansing yang anggun namun berdaya.
Denting canang, getar calempong, bunyi kotuak-kotuak, serta irama rebana akan mengalun, mengisi ruang dengan suara-suara tradisi yang mungkin jarang terdengar di gedung-gedung megah. Namun malam itu, alat-alat musik khas Kuansing tersebut akan berdiri tegak, bersuara lantang, seolah berkata: kami masih ada, kami masih hidup, dan kami masih dicintai.
Tak ketinggalan, Rarak Godang atau Gondang Baroguang serta Silat Pangean akan turut ditampilkan, menegaskan kekayaan budaya Kuantan Singingi yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga kuat dalam nilai dan filosofi.
Merawat Akar, Meneguhkan Identitas
Pengukuhan IKKS Provinsi Riau malam itu menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Ia menjelma ruang pertemuan rasa, tempat generasi tua dan muda saling menyapa melalui bahasa budaya. Di sanalah identitas dirawat, akar diteguhkan, dan kebanggaan sebagai orang Kuansing dipeluk kembali.
Panitia pun mengajak seluruh dunsanak rang banyak untuk mencatat jadwal, mengingat waktunya, dan hadir menyaksikan sebuah perayaan budaya yang dikemas dengan cinta dan kesungguhan. Sebab di malam itu, seni tidak sekadar dipentaskan—ia dipersembahkan sebagai doa, sebagai pengingat, dan sebagai jembatan pulang bagi siapa pun yang merindukan kampung halaman.*(ald)