Menyapu Hati Menjelang Ramadhan

Khutbah Jumat di Masjid Raya Teluk Kuantan, Khatib Ajak Jamaah Raih Keutamaan Bulan Suci

Khutbah Jumat di Masjid Raya Teluk Kuantan, Khatib Ajak Jamaah Raih Keutamaan Bulan Suci
foto: istimewa (doc. Kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Waktu Jumat bergerak perlahan di Masjid Raya Teluk Kuantan. Langit Sya’ban menggantung tenang, seolah ikut menahan napas menunggu kedatangan Ramadhan. Di hadapan jamaah yang memenuhi saf-saf shalat, khutbah Jumat kali ini menjadi pengingat sunyi: bahwa Ramadhan tidak datang untuk disambut dengan kelalaian, melainkan dengan kesiapan hati.

Bertindak sebagai khatib, Riko Pilihantoni, M.E., dalam khutbah Jumat 18 Sya’ban 1447 Hijriah atau bertepatan dengan Jumat (6/2/2026), mengajak jamaah merenungi satu tema utama: “Raih Keutamaan Ramadhan”. Tema yang sederhana, namun mengandung panggilan batin yang dalam.

Dengan nada lirih namun tegas, khatib mengingatkan bahwa bulan Ramadhan bukan sekadar pergantian kalender Islam, bukan pula sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah ruang pembaruan—tempat manusia kembali menata niat, membersihkan jiwa, dan memperbaiki hubungan, baik dengan Allah maupun dengan sesama.

“Ramadhan harus disambut sejak sekarang,” pesan khatib, mengajak jamaah menyiapkan diri sebelum pintu-pintu ampunan itu benar-benar terbuka.

Dalam khutbahnya, Riko Pilihantoni memaparkan lima bekal utama yang harus dipersiapkan umat Islam agar mampu meraih keutamaan Ramadhan secara utuh.

Bekal pertama adalah taubatan nasuha. Menurutnya, Ramadhan adalah bulan ampunan, namun ampunan itu hanya bermakna bagi mereka yang sungguh-sungguh kembali kepada Allah. Taubat bukan sekadar ucapan di bibir, tetapi keberanian meninggalkan dosa, menyesali kesalahan, dan bertekad tidak mengulanginya. Tanpa taubat, Ramadhan hanya akan berlalu sebagai rutinitas tahunan yang hampa makna.

Bekal kedua adalah mensucikan hati. Hati yang penuh iri, dengki, dan kebencian, kata khatib, akan menjadi penghalang turunnya keberkahan. Ramadhan menuntut hati yang lapang—yang mau memaafkan, merelakan, dan melepaskan dendam. Sebab ibadah yang agung tidak akan tumbuh dari jiwa yang sempit.

Selanjutnya, khatib menekankan pentingnya niat yang tulus. Segala amal bergantung pada niat, dan Ramadhan harus dijalani semata-mata karena Allah. Puasa, tarawih, sedekah, dan seluruh ibadah akan kehilangan ruhnya jika dilakukan hanya sebagai formalitas atau demi pengakuan manusia.

Bekal keempat adalah mendekatkan diri dengan Al-Qur’an. Ramadhan, sebagaimana diingatkan khatib, adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Jamaah diajak tidak hanya membaca, tetapi juga mentadabburi dan menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Target khatam Al-Qur’an bukan sekadar capaian angka, melainkan upaya mendekatkan hati kepada petunjuk Ilahi.

Adapun bekal kelima yang ditekankan dengan penuh keprihatinan adalah kepedulian sosial. Khatib mengingatkan jamaah agar memperhatikan kesejahteraan para pegawainya, anak yatim, fakir, dan miskin di sekitar mereka. Ramadhan, menurutnya, tidak boleh menjadi bulan kenyang bagi sebagian orang, sementara yang lain menahan lapar dalam sunyi.

“Keutamaan Ramadhan juga terletak pada sejauh mana kita peduli,” pesan khatib, seraya menegaskan bahwa ibadah sejati selalu melahirkan empati.

Khutbah Jumat itu pun ditutup dengan ajakan reflektif: agar Ramadhan tahun ini menjadi lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Lebih bersih hatinya, lebih kuat ibadahnya, dan lebih luas kepeduliannya. Sebab Ramadhan bukan sekadar bulan yang datang dan pergi, melainkan kesempatan yang bisa jadi tak terulang.

Di Masjid Raya Teluk Kuantan, khutbah itu mengalir tenang, menyentuh ruang-ruang batin jamaah. Seperti angin Sya’ban yang berembus pelan, ia mengingatkan bahwa Ramadhan bukan untuk ditunggu dengan kelalaian, tetapi disambut dengan kesiapan jiwa.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang meraih seluruh keutamaannya.*(ald)