KILASRIAU.com, Kupang Nusa Tenggara Timur, Kamis (23/10) - Di negara dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, segelas susu masih menjadi kemewahan bagi banyak keluarga. Konsumsi susu masyarakat Indonesia tercatat jauh di bawah rata-rata negara ASEAN. Padahal, di balik segelas susu tersimpan nutrisi penting yang berperan besar dalam tumbuh kembang anak, peningkatan daya tahan tubuh, hingga pencegahan stunting, masalah klasik yang masih menghantui negeri ini.
Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa konsumsi susu nasional baru sekitar 16 liter per kapita per tahun, jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang mencapai 30–40 liter. Fenomena ini, menurut Prof. Dr. Apris A. Adu, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, merupakan sinyal serius bagi masa depan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“Susu itu merupakan kebutuhan masa pertumbuhan dari anak-anak kita. Hari ini kita melihat bahwa angka stunting yang tinggi ini juga salah satunya adalah dipengaruhi oleh konsumsi susu yang rendah,” ujar Apris yang disampaikan dalam rangka peringatan Hari Susu Nasional yang diperingati setiap Bulan Oktober.
Faktor Ekonomi dan Persepsi Sosial
Menurut Prof Apris, rendahnya konsumsi susu di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari ekonomi hingga persepsi sosial. “Masalah ekonomi ini tentunya kita kembali kepada ekonomi rumah tangga dari setiap masyarakat yang ada di Indonesia. Ketidakmampuan untuk membeli susu,” katanya.