Di Bawah Lampu Pos Ronda, Pemerintahan Menyapa Warga Sungai Jering

Di Bawah Lampu Pos Ronda, Pemerintahan Menyapa Warga Sungai Jering
foto: istimewa (doc. Kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Malam di Sungai Jering tak sepenuhnya sunyi. Di bawah cahaya lampu Pos Ronda Pandan Wangi RT 05 RW 02 Lingkungan II, tawa kecil, cangkir kopi, dan percakapan warga mengalir tanpa jarak. Rabu malam (28/1/2026), ruang sederhana itu mendapat tamu: Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si, yang datang bukan membawa pidato, melainkan telinga dan waktu untuk mendengar.

Pos ronda—yang kerap menjadi saksi ronda malam dan cerita keseharian warga—malam itu menjelma menjadi simpul kebersamaan. Camat Eka Putra duduk sejajar dengan warga, menyatu dalam suasana yang hangat dan akrab. Tak ada sekat meja, tak ada jarak jabatan. Yang ada hanyalah dialog, tentang lingkungan, keamanan, dan harapan kecil yang tumbuh dari kampung sendiri.

“Pemerintah tidak boleh hanya hadir di kantor atau saat acara seremonial. Justru di tempat seperti inilah denyut masyarakat terasa. Kita bisa mendengar langsung, melihat langsung, dan merasakan apa yang dirasakan warga,” ujar Eka Putra di sela perbincangan malam itu.

Menurutnya, pos ronda bukan sekadar bangunan penjaga malam, tetapi simbol kepedulian bersama. Di sanalah nilai gotong royong, kewaspadaan, dan kebersamaan tumbuh secara alami.

“Saya ingin suasana seperti ini terus hidup. Pemerintah dan masyarakat harus berjalan beriringan. Keamanan, ketertiban, dan kemajuan lingkungan tidak bisa dibebankan hanya pada satu pihak,” tambahnya.

Kehadiran Camat Kuantan Tengah disambut hangat oleh pemerintah kelurahan dan warga. Lurah Sungai Jering, Ida Najmi, S.Sos, menyebut kunjungan tersebut sebagai bentuk nyata pendekatan humanis pemerintah kecamatan.

“Bagi kami di kelurahan, ini bukan sekadar kunjungan. Ini pesan bahwa warga Sungai Jering tidak sendiri. Camat hadir langsung, mendengar langsung, dan itu memberi semangat bagi kami untuk terus membangun komunikasi yang sehat dengan masyarakat,” ungkap Ida Najmi.

Ia menilai pos ronda memiliki peran penting sebagai ruang sosial warga—tempat bertukar pikiran, menjaga keamanan, sekaligus mempererat ikatan sosial di lingkungan.

Sementara itu, Kepala Lingkungan II, menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas kehadiran pimpinan kecamatan di wilayahnya.

“Terus terang, warga merasa dihargai. Tidak setiap hari pejabat mau duduk di pos ronda seperti ini. Ini menambah semangat kami di lingkungan untuk terus menjaga kekompakan dan keamanan,” tuturnya.

Ia berharap perhatian tersebut tidak berhenti pada satu malam kunjungan, tetapi menjadi tradisi dialog yang berkelanjutan antara pemerintah dan masyarakat di tingkat paling bawah.

Suara warga pun mengalir apa adanya. Salah seorang warga yang ikut duduk di pos ronda malam itu, Romel Arsyad dan Hadi Triono mengatakan bahwa kehadiran Camat memberi rasa dekat dan kepercayaan.

“Kalau begini rasanya beda. Kami bisa bicara langsung, menyampaikan keluhan atau sekadar berbagi cerita. Rasanya pemerintah benar-benar hadir, bukan hanya lewat spanduk atau baliho,” ujarnya sambil tersenyum.

Malam kian larut, namun percakapan tetap hidup. Di antara tawa dan obrolan ringan, terselip pesan penting: bahwa pembangunan bukan hanya soal proyek dan angka, tetapi tentang kehadiran, mendengar, dan merawat kepercayaan.

Di Pos Ronda Pandan Wangi, pemerintahan turun dari podium dan duduk di bangku plastik. Di situlah demokrasi paling sederhana bekerja—di bawah lampu temaram, di antara warga yang saling mengenal, dan dalam keyakinan bahwa kampung yang dijaga bersama akan tumbuh lebih kuat.*(ald)