Pasar yang Pergi, Ingatan yang Tinggal

Pasar yang Pergi, Ingatan yang Tinggal
foto: istimewa (doc. Kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Tidak semua perpisahan diiringi air mata. Sebagian datang dalam bentuk debu, suara mesin, dan langkah-langkah yang perlahan menjauh. Seperti pagi itu, Rabu, 21 Januari 2026, ketika Pasar Bawah Teluk Kuantan, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, memasuki bab terakhirnya.

Sejak matahari belum sepenuhnya naik, alat berat telah bersiap. Ekskavator berdiri diam sejenak, seolah memberi waktu terakhir bagi tempat itu untuk dikenang. Lalu suara mesin menyala. Satu per satu, sisa bangunan yang kemarin masih berdiri runtuh. Tak ada kios yang bisa lagi dikenali. Kayu patah, seng terlipat, dan debu beterbangan, mengaburkan pandangan sekaligus menutup sebuah masa.

Menjelang sore, seluruh area Pasar Bawah telah rata dengan tanah. Tak tersisa atap, tak tersisa lapak. Hamparan kosong terbentang di tempat yang selama puluhan tahun menjadi ruang hidup bagi ribuan cerita. Pasar yang dahulu penuh suara kini terbungkus sunyi—sunyi yang tak sekadar hening, tetapi juga berat.

Pasar Bawah bukan hanya sekumpulan kios. Ia adalah ingatan kolektif kota. Di sanalah pagi-pagi bermula lebih cepat dari tempat lain. Pedagang datang membawa harapan, pembeli datang membawa kebutuhan. Di antara timbangan dan uang kembalian, hidup berjalan apa adanya—jujur, keras, namun penuh kehangatan.

Di bawah atap-atap seng yang sederhana, banyak kehidupan tumbuh perlahan. Anak-anak belajar mengenal dunia sambil menunggu orang tuanya berdagang. Rumah tangga dibangun dari keuntungan yang tak selalu besar, tetapi cukup untuk bertahan. Pasar menjadi saksi diam dari perjalanan hidup banyak orang—dari muda hingga renta, dari sepi hingga ramai.

Waktu kemudian bergerak. Kota bertambah usia. Kebutuhan akan penataan ruang dan pembaruan wajah kota menjadi keniscayaan. Pemerintah menjalankan kebijakan sebagai bagian dari rencana besar pembangunan. Pembongkaran Pasar Bawah dilakukan dalam kerangka itu—sebuah langkah yang diyakini sebagai jalan menuju keteraturan dan masa depan yang lebih tertata.

Namun, di setiap perubahan, selalu ada lapisan lain yang bergerak lebih pelan: perasaan manusia. Bagi sebagian pedagang, Pasar Bawah bukan sekadar tempat mencari nafkah. Ia adalah rumah kedua. Tempat mereka menghabiskan sebagian besar hidup. Tempat kenangan bertumpuk, tak terhitung jumlahnya.

Hari-hari menjelang pembongkaran memperlihatkan wajah-wajah yang mencoba tegar. Sebagian pedagang membongkar kios mereka secara mandiri, memindahkan barang dagangan ke tempat lain, menyusun kembali hidup dari awal. Sebagian lainnya bertahan, berharap ada ruang dialog, berharap suara mereka sempat didengar sebelum semuanya benar-benar berakhir.

Di tengah proses itu, pemerintah masih memberi kesempatan bagi para pedagang untuk mengambil atap seng dan kayu yang tersisa. Alat berat sempat berhenti bekerja. Ada jeda—singkat, tetapi bermakna. Sebuah ruang kecil bagi manusia untuk berpamitan dengan tempat yang telah membesarkan mereka. Mesin menunggu, sementara tangan-tangan manusia menyelesaikan urusan terakhir dengan masa lalu.

Hingga petang tiba, pembongkaran hari itu belum sepenuhnya rampung. Selasa (20/01/2026). Pekerjaan dilanjutkan keesokan harinya, Rabu (21/01/2026). Dan pada hari itu pula, Pasar Bawah benar-benar selesai sebagai bangunan. Tak ada perayaan atas keberhasilan. Tak ada pula penolakan terbuka. Yang ada hanyalah keheningan—keheningan yang terasa lebih panjang dari biasanya.

Kini, tanah itu terbentang kosong. Kota perlahan akan menyesuaikan diri. Nama tempat mungkin akan berubah. Fungsi ruang akan ditata ulang. Dalam beberapa waktu ke depan, generasi baru mungkin hanya mengenal Pasar Bawah dari cerita orang-orang tua, dari foto-foto lama, atau dari potongan ingatan yang tersisa.

Tetapi kota yang sehat adalah kota yang tidak memutus ingatannya sendiri. Pembangunan sejati bukan hanya soal apa yang dibangun, melainkan juga bagaimana cara kita berpamitan dengan yang ditinggalkan. Ingatan adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Tanpanya, kota hanya akan menjadi kumpulan bangunan tanpa jiwa.

Pasar Bawah Teluk Kuantan memang telah pergi. Bangunannya telah diratakan.
Kios-kiosnya telah tiada.

Namun cerita tentang hidup yang pernah tumbuh di sana—tentang kerja keras, tentang kebersamaan, tentang harapan yang disusun dari hari ke hari—akan tetap berdiri. Ia hidup dalam ingatan warga. Dalam langkah kaki yang masih, tanpa sadar, melambat ketika melintas di bekas pasar. Dalam sunyi yang terasa berbeda di sudut kota itu.

Bangunan bisa dirubuhkan.
Kebijakan bisa dijalankan.

Tetapi ingatan—tentang sebuah pasar yang pernah menjadi jantung kehidupan—akan terus tinggal, menolak ikut roboh, menjaga agar kota ini tetap mengenali dirinya sendiri.*(ald)