Kios Pasar Bawah yang Dirobohkan, Kenangan yang Tak Pernah Pergi

Kios Pasar Bawah yang Dirobohkan, Kenangan yang Tak Pernah Pergi
foto: istimewa (doc. Kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Selasa pagi (20/1/2026), Pasar Bawah Teluk Kuantan tak lagi sekadar ruang jual beli. Ia berubah menjadi panggung sunyi, tempat besi, kenangan, dan kebijakan saling berhadapan. Dua alat berat berdiri sejak pukul 09.30 WIB di kawasan Taman Jalur. Derunya menunggu aba-aba, seolah memahami bahwa yang akan dirubuhkan bukan hanya bangunan, tetapi sejarah hidup banyak orang.

Tim Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Pemkab Kuansing) turun langsung meninjau pembongkaran kios Pasar Bawah. Alat berat disiagakan sebagai langkah terakhir apabila pembongkaran tidak dilakukan secara mandiri.

Sejak sore hingga pagi, satu per satu kios dikosongkan. Sebanyak 26 pedagang penyewa memilih merapikan lapak mereka lebih awal. Kardus disusun, rak dibongkar, dagangan dipindahkan. Pasar kehilangan denyutnya secara perlahan, seperti napas yang ditarik panjang sebelum menghilang.

Namun tidak semua memilih pergi.
Sebanyak 43 pedagang yang juga pemilik kios bertahan di tempat. Mereka tidak menghalangi alat berat, tidak memekikkan kemarahan. Yang mereka minta hanya satu: didengarkan.

“Kami sudah mendaftarkan gugatan ke PTUN Pekanbaru. Kalau kios ini langsung dirubuhkan, siapa yang mau bertanggung jawab?” ujar Kasmar Malven, juru bicara pemilik kios Pasar Bawah Teluk Kuantan, saat menyampaikan keberatan kepada Kasat Pol PP Kuansing, Riokasyterwandra.

Bagi mereka, persoalan ini bukan sekadar bongkar atau tidak bongkar. Ini tentang ruang dialog yang terasa tak pernah benar-benar dibuka.

“Kami minta Pak Bupati datang menemui kami. Masak pemimpin tidak mau mendengar suara rakyatnya sendiri,” katanya.

Di antara kios-kios yang menunggu giliran roboh, Upiak berdiri memandangi bangunan tua yang telah menyatu dengan hidupnya sejak 1981. Saat itu ia baru menikah. Kios Pasar Bawah di Jalan Gunung Kesiangan masih berupa bangunan kayu bertingkat dua—lantai atas sebagai tempat tinggal, lantai bawah untuk berdagang.

Waktu mengalir, dan ia kemudian membeli kios di Jalan Imam Bonjol. Dari sanalah kehidupan dibangun, anak-anak dibesarkan, dan hari-hari disambung dengan harapan.

“Kini mau dirubuhkan begitu saja. Tanpa ganti rugi, tanpa duduk bersama mendengarkan kami,” ujarnya lirih. “Kami mau bagaimana lagi.”

Negara hadir dengan wajah ketertiban. Proses pembongkaran dan peninjauan dikawal aparat keamanan. Kapolres Kuansing AKBP Hidayat Perdana, Wakapolres Kompol Nardy Masry, serta Kasat Pol PP Kuansing berada di lokasi memastikan situasi tetap kondusif.

Asisten I Setda Kuansing sekaligus Ketua Tim Pembongkaran Pasar Bawah, dr. H. Fahdiansyah, SpOG, turun langsung bersama Kepala Dinas Kopdagrin Drs. Masnur, MM, Kepala Dinas PUPR Ade Fahrer, dan pejabat terkait lainnya.

Hingga pukul 12.00 WIB, dari total 90 kios yang ada, hampir seluruhnya telah dikosongkan. “Hanya tinggal beberapa pedagang yang merangkap pemilik kios yang masih bertahan,” ujar Masnur di lokasi.

Di sela peninjauan, seorang pedagang sekaligus pemilik kios, Fitri, mendekati Fahdiansyah. Suaranya tenang, namun sarat harap.

“Kami tidak menolak pembongkaran. Kami hanya ingin bertemu Pak Bupati, mendengarkan dan didengarkan,” katanya. “Tundalah sebentar, Pak.”

Fahdiansyah menjelaskan bahwa Bupati Kuansing H. Suhardiman Amby sedang berada di luar kota. Ia juga menegaskan bahwa pembongkaran tidak dapat ditunda karena telah menjadi kesepakatan bersama antara Pemkab Kuansing dan Forkopimda.

“Pemkab sudah memberikan waktu yang cukup bagi pedagang dan pemilik kios untuk membongkar secara mandiri,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah tetap memberi ruang kemanusiaan. Pada hari itu, para pemilik kios masih dipersilakan mengambil atap seng dan kayu yang tersisa di bagian atas bangunan. Akibatnya, alat berat ekskavator beberapa kali berhenti bekerja—menunggu pemilik kios menurunkan material secara manual.

Deru mesin yang biasanya beringas mendadak terdiam. Sejenak, Pasar Bawah sunyi. Yang terdengar hanya bunyi kayu dilepas dari paku, seng diturunkan perlahan, dan langkah-langkah warga yang menyelamatkan sisa terakhir dari rumah penghidupan mereka.

Setelah bagian atap rampung diturunkan, ekskavator kembali bekerja. Namun hingga pukul 18.00 WIB, pembongkaran belum juga selesai. Pemerintah memutuskan untuk melanjutkan pembongkaran pada keesokan harinya, Rabu (21/1/2026).

Senja turun di Pasar Bawah Teluk Kuantan dengan puing-puing yang berserakan. Yang runtuh hari itu bukan hanya kios, tetapi juga ruang dialog yang terlambat dibuka. Namun kenangan tidak ikut roboh. Ia tinggal di ingatan para pedagang—menunggu, apakah suatu hari suara mereka benar-benar sampai ke telinga pemegang kebijakan.*(ald)