TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Di bawah cahaya lampu surau yang sederhana, ayat-ayat langit kembali diturunkan ke bumi melalui lantunan nasihat. Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Surau Darul Aman bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang sunyi tempat umat menimbang kembali makna sabar dan salat dalam perjalanan hidup yang kian riuh. Jum'at (16/01/2026).
Langit sore itu belum sepenuhnya gelap ketika Surau Darul Aman mulai dipenuhi langkah-langkah yang datang dengan niat yang sama. Dari lorong-lorong kampung, jamaah berdatangan—laki-laki dan perempuan, tua dan muda—membawa rindu akan ketenangan, membawa harap agar hati kembali disirami cahaya iman di tengah realitas hidup yang kerap menyesakkan.
Karpet digelar rapat, saf dirapatkan. Di dalam surau yang sederhana, lantunan salam dan doa mengalir pelan. Wajah-wajah penuh khidmat menghadap ke satu arah: mimbar kecil tempat pesan langit akan disampaikan, bukan dengan suara yang menggelegar, melainkan dengan kata-kata yang membumi dan menyentuh kesadaran.
Tabligh Akbar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW malam itu terasa lebih dari sekadar agenda rutin. Ia hadir sebagai jeda—ruang hening di tengah hiruk-pikuk dunia—tempat manusia kembali bertanya pada dirinya sendiri: sejauh apa perjalanan iman telah ditempuh, dan ke mana arah hidup sedang melangkah?
Giat keagamaan ini digelar oleh Pengurus Mushalla Darul Aman DPD PKDP Kabupaten Kuantan Singingi, sebagai wujud ikhtiar merawat tradisi keimanan dan kebersamaan jamaah, sekaligus menghadirkan ruang spiritual yang menyejukkan bagi masyarakat.
Isra Mi’raj adalah peristiwa agung—perjalanan Rasulullah SAW menembus batas ruang dan waktu, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Namun maknanya tidak berhenti pada kisah. Ia menuntut aktualisasi, agar pesan langit benar-benar menjejak di kehidupan bumi yang sarat ujian dan pilihan.
Di hadapan jamaah, tausiah disampaikan dengan bahasa yang teduh. Tidak menggurui, tidak meninggi, melainkan mengajak. Penceramah malam itu, Syekh Muda H.M. Jali Sadana TK Sinaro Mangkuto, S.H., mengurai pesan Isra Mi’raj dengan narasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, menekankan dua nilai utama: sabar dan salat.
Salat, disampaikan bukan semata kewajiban ritual, melainkan tiang yang menegakkan hidup—tempat manusia bersandar saat lelah, tempat kembali ketika arah mulai kabur. Sementara sabar bukan sekadar menahan diri, tetapi kekuatan moral untuk tetap lurus di tengah ujian, tetap jujur di tengah godaan, dan tetap rendah hati di tengah keberhasilan.
Di antara jamaah, ibu-ibu duduk bersila dengan hijab warna-warni. Para lelaki menundukkan kepala, sesekali mengangguk pelan, seakan mengamini setiap pesan yang disampaikan. Tak ada sorotan kamera berlebihan, tak ada gemuruh tepuk tangan. Yang hadir hanyalah kesunyian yang penuh makna—ruang batin tempat pesan keimanan berlabuh.
Surau Darul Aman malam itu menjadi saksi bahwa nilai-nilai langit masih hidup di bumi. Bahwa di tengah zaman yang bergerak cepat, ketika manusia kerap terjebak dalam rutinitas dan persaingan, masih ada ruang bagi umat untuk berhenti sejenak—mendengar, merenung, dan memperbaiki arah.
Kegiatan ini juga dihadiri Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si., yang menyatu bersama jamaah tanpa sekat. Kehadirannya menjadi penanda bahwa nilai keimanan dan kebersamaan tetap menjadi fondasi penting dalam kehidupan sosial, mempertemukan pemimpin dan masyarakat dalam satu saf spiritual. Begitu juga dengan Permasa, dan Misuri.
Peringatan ini mengingatkan bahwa Isra Mi’raj bukanlah cerita masa lalu yang dibacakan setahun sekali. Ia adalah cermin yang seharusnya dihadapkan setiap hari—baik oleh individu maupun oleh masyarakat. Apakah salat telah benar-benar menjadi penolong dalam menghadapi persoalan hidup? Apakah sabar telah menjelma sikap dalam merawat harmoni sosial, keadilan, dan kejujuran?
Di bawah spanduk hijau bertuliskan pesan keimanan, doa-doa dipanjatkan dengan lirih. Malam kian larut, namun hati justru terasa lebih terang.
Karena pada akhirnya, Isra Mi’raj adalah tentang perjalanan—bukan hanya Nabi menuju langit, tetapi manusia menuju versi terbaik dari dirinya; pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, dan lebih teguh menegakkan nilai-nilai langit di bumi.*(ald)