KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) – Pemerintah Desa Pulau Aro, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembuatan Pupuk Kompos yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Tahun Anggaran 2025, pada Desember 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya desa dalam mendorong pertanian ramah lingkungan sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat di sektor pertanian. Sabtu (27/12/2025).
Bimtek yang berlangsung di aula Desa Pulau Aro tersebut dihadiri langsung oleh Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si, Kepala Desa Pulau Aro, Herlianto, para Ketua RT dan RW, Ketua dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta masyarakat, khususnya kelompok tani dan warga yang bergerak di bidang pertanian.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Pulau Aro, Herlianto, menyampaikan bahwa kegiatan bimtek ini merupakan wujud komitmen pemerintah desa dalam membangun pertanian yang berkelanjutan dan berorientasi pada kemandirian masyarakat.
“Melalui bimtek ini, kami ingin membuka wawasan masyarakat bahwa pupuk tidak selalu harus dibeli. Limbah organik di sekitar kita dapat diolah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat, ramah lingkungan, dan mampu menekan biaya produksi pertanian,” ujar Herlianto.
Ia menambahkan, pertanian desa ke depan harus bertumpu pada kesadaran menjaga alam. Tanah, menurutnya, tidak hanya menjadi media tanam, tetapi juga aset kehidupan yang harus dirawat bersama.
Sementara itu, Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si, dalam arahannya mengapresiasi langkah Pemerintah Desa Pulau Aro yang dinilai sejalan dengan kebutuhan riil masyarakat desa.
“Kegiatan seperti ini sangat penting. Desa tidak hanya membangun fisik, tetapi juga membangun pengetahuan warganya. Ketika masyarakat dibekali keterampilan yang aplikatif, maka kemandirian desa akan tumbuh secara alami,” kata Eka Putra.
Ia berharap, ilmu yang diperoleh dalam bimtek tersebut tidak berhenti pada tataran teori, melainkan benar-benar diterapkan di lapangan dan ditularkan kepada warga lainnya. Menurutnya, keberhasilan program desa terletak pada sejauh mana manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat..jpg)
Bimtek pembuatan pupuk kompos ini menghadirkan Ariandra Felly, S.ST selaku Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kuantan Tengah, dan Alder Srianda putra, Penyuluh Pertanian desa Pulau Aro, sebagai narasumber. Keduanya memaparkan materi secara komprehensif, mulai dari pengenalan bahan baku pupuk kompos, proses pengolahan dan fermentasi, hingga teknik penggunaan pupuk organik pada lahan pertanian.
Pemaparan materi berlangsung interaktif. Peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi, ditandai dengan aktifnya diskusi dan pertanyaan seputar praktik pembuatan pupuk kompos yang efektif dan efisien.
Salah seorang peserta dari kelompok tani mengaku kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru yang sangat berguna bagi mereka.
“Selama ini kami hanya tahu cara sederhana. Dari bimtek ini, kami jadi paham tahapan yang benar agar pupuk kompos lebih berkualitas dan hasil tanamannya juga lebih baik,” ungkapnya.
Melalui bimtek ini, Pemerintah Desa Pulau Aro berharap muncul kesadaran kolektif masyarakat dalam mengelola limbah organik serta lahirnya inisiatif pengelolaan pupuk kompos secara mandiri di tingkat desa. Ke depan, pengelolaan pupuk kompos ini juga berpotensi dikembangkan sebagai usaha produktif desa yang mendukung peningkatan ekonomi masyarakat.
Di ruang aula desa yang sederhana itu, bukan hanya materi pupuk kompos yang dibagikan, tetapi juga harapan. Harapan bahwa tanah tidak lagi sekadar digarap, melainkan dirawat. Bahwa sisa-sisa dapur dan dedaunan yang selama ini terabaikan, kelak menjelma penopang hidup petani.
Bimtek ini menjadi penanda bahwa pembangunan desa tidak selalu hadir dalam wujud beton dan angka-angka laporan. Ia kadang lahir dari kesediaan untuk belajar, dari kesabaran mengolah yang dianggap remeh, dan dari kesadaran bahwa alam bukan untuk dihabiskan, melainkan diwariskan.
Dari Pulau Aro, ikhtiar kecil itu mulai disemai. Seperti kompos yang membutuhkan waktu untuk matang, perubahan pun menuntut ketekunan. Dan di tangan warga desa, yang perlahan memahami makna bertani dengan nurani, masa depan yang lebih lestari tengah dipersiapkan—sunyi, sederhana, namun penuh arti.*(ald)